Di sekolah Denia dan Qila, setiap hari selalu ada guru yang mengingatkan anak-anakku untuk tersenyum..shodaqoh senyum. Bertegur sapa dengan senyuman ketika bertemu guru, teman-teman dan orangtua murid. Efeknya, siapapun dalam lingkungan sekolah akan saling mengenal. Kami jadi saling dekat satu sama lain. Jika ada permasalahan mengenai proses belajar mengajar dan tumbuh kembang anak maka kami lebih mudah untuk berbicara dan kemudian mengambil solusi terbaik.
Seeandainya anak-anak kami di sekolah bertengkar maka selalu bisa diselesaikan dengan baik. Boleh berantem (maklum anak-anak pasti suka berebut mainan dll)..tapi harus selalu diakhiri dengan kata maaf dan kemudian kembali tersenyum. Lucunya liat anak yang tadinya brantem sampe nangis dlewer-ndlewer, kembali saling berjabat tangan dan berbagai senyum. Gak lama lagi kemudian tiba-tiba mereka sudah tertawa keras bersama-sama
Kebiasaan itu juga membuat anak-anakku lebih ramah terhadap siapapun di lingkungan. Di rumah, di sekolah ataupun ketika ikut ayah dan ibu berkunjung ke rumah orang. Kalau dalam lingkungan rumah, ketika kami sebagai orang tua sekiranya tidak menepati janji atau memang berbuat kesalahan, kami juga akan meminta maaf dan diakhiri dengan senyuman.
Sepertinya kalau dalam interaksi antara orang dewasauntuk bersedekah senyum lebih sulit ya. Jadi inget status temen yang bercerita bagaimana seorang ibu Ayang baru saja bertemu dan bertukar senyum di depan ibu B. Ketika ibu B tadi baru saja beranjak pergi kemudian tiba-tiba si ibu A di depan orang yang lain lagi mengucapkan kata-kata“opo’o. nek ketemu ngguya ngguyu. kondhone wis njaluk sepuro ngono maneh…ngono maneh . wis tak sabar-sabarno kok pancet ae..” . (Dalam bahasa Indonesia itu artinya: apaan. Setiap kali ketemu senyam-senyum. Katanya dah mintaa maaf tapi gitu lagi. Gitu lagi. Padahal aku sudah berusaha sabar banget…). La itu tadi senyum buat apa ya….@_@. Dan sepertinya adegan itu mudah kita kenali ya dalam lingkungan kita….he…he
Malu juga apabila melihat anak-anak kecil yang terkadang lebih bijaksana dalam menselesaikan konflik.
Sebenarnya senyum yang kita berikan merefleksikan banyak hal lo..tidak hanya ekspresi wajah saja. Senyum juga merupakan releksi keinginan kita untuk memulai memperlakukan orang sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang. Ketika menunjukkan senyum maka kita membuka diri terhadap orang lain. Dengan kata lain senyuman juga menunjukkan kepedulian yang kemudian membangkitkan dan memunculkan kembali nilai-nilai positif.
Wuihhh…….membayangkan seandainya kita hidup dalam lingkungan yang dipenuhi nilai-nilai positif. Senengnya kalau setiap kali kita hidup dalam lingkungan dipenuhi nilai-nilai positif. Saling bertegur sapa..saling perduli..saling menjaga.
Berapa kali kita sudah bersedekah (berbagi) senyum hari ini ??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar