Sabtu, 07 Mei 2011

ISTIMEWANYA SEORANG ANAK….

Tulisan berikut saya sarikan dari artikel yang ada di Buletin Komite Sekolah anak saya….
Di sebuah hutan yang penuh binatang dengan berbagai kemampuan sepakat untuk mendirikan sekolah. Setiap induk binatang berkeinginan untuk memasukkan berbagai kemampuan sebagai mata pelajaran yang harus ditempuh oleh anak binatang. Setiap orangtua binatang berkeinginan untuk memasukkan pelajaran berlari, melompat, berenang, menggali dan memanjat pohon. Setelah rapat sekian lama, akhirnya para induk binatang memutuskan bahwa seluruh pelajaran tersebut penting dan harus dikuasai oleh anak binatang. Diputuskan bahwa akhirnya seluruh anak binatang akan menerima pelajaran tersebut.
Akhirnya setiap anak binatang kemudian mengikuti  pelajaran tersebut. Anak macan yang memiliki potensi untuk berlari dan menerkam, akhirnya harus pula belajar untuk berenang. Demikian pula anak kangguru yang berpotensi untuk melompat tinggi harus pula belajar untuk berlari kencang dan berenang. Di setiap hari pelajaran berlangsung setiap anak binatang  kelelahan dalam menempuh seluruh pelajaran yang harus diikuti. Hasilnya, anak binatang bukannya mulai bertambah kemampuan baru namun justru mulai kehilangan potensi alami yang dimiliki.

Inti dari cerita di atas adalah setiap anak pasti memiliki karakteristik berbeda dengan potensi yang berbeda pula. Hal ini menjadikan setiap anak istimewa. Dengann demikian setiap anak memiliki karakteristik khusus yang tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya. Jadi bagi orang tua jangan rendah hati jika dalam masa perkembangannya, anak hanya unggul di satu atau beberapa mata pelajaran. Misalkan anak hanya unggul dalam mata pelajaran kesenian namun kurang dalam pelajaran matematika atau sebaliknya anak unggul dalam mata pelajaran bahasa Indonesia namun kurang dalam berolahraga.

Tulisan ini aku baca di sebuah bulletin yang diterbitkan di sekolah anakku. Pas banget ketika aku sedang kebingungan menghadapi persiapan ketika anakku memasuki TK. Dari sharing beberapa teman ketika mereka memasukkan anak masuk TK ternyata ada wawancara yang menanyakan mengenai perkembangan anak. Bagaimana kemampuan menggambar? Bagaimana kemampuan mengenali angka dan huruf? Bagaimana kemampuan motoris halus dan kasar?...seluruh pertanyaan ini diajukan ketika persiapan memasuki sekolah. Aku membayangkan mau masuk TK saja pake wawancara sesulit ini…bahkan menurutku lebih sulit dari wawancara kerja. Kalau wawancara kerja khan kita meperesentasikan diri kita sendiri yang mungkin tahapannya sudah dapat mengenali kemampuan diri dengan baik. Kalau masuk TK, anaknya aja bener-bener baru berkembang..kalau istilah seorang pembicara...”diibaratkan mau bikin bubur kacang hijau. Kacang hijau-nya belum mlethek (hayo!!…coba dicarikan padanan kata dalam Bahasa Indonesia. Paling deket sih padanan kondisinya adalah kacang hijau dalam keadaan mau pecah)..sudah dikasih gula dan lain-lain.” Baru memulai prosesnya sudah harus dinilai……

 Kemudian muncul pertanyaan: Bagaimana caranya mengenal karakteristik anak? Nah di sinilah berperan tugas orang tua utama yaitu mengenali karakteristik anak. Apakah sulit untuk mengenali karakteristik anak? Sebenarnya sih, mengenali karakteristik anak sudah menjadi insting alami orang tua lo…Bukankah, kita yang melahirkan, mendampingi selama perkembangannya. Melewati waktu melihat apa kesukaan sekaligus ketidaksukaan mereka. Melewati saat-saat dimana titik kebosanan terakumulasi. Menurut saya sih sebenarnya mengenali anak sudah muncul dalam diri kita sebagai orang tua. Jadi kita, untuk mengenali anak harusnya tidaklah membutuhkan bantuan sebuah alat yang mendasarkan kecenderungan garis tangan dengan kerakteristik anak. Tapi kalau anda berusaha meyakinkan diri…ya gak pa-pa.
Baru dari tugas mengenali karakteristik anak kemudian berlanjut dengan tugas untuk memilihkan metode paling baik (sesuai) dengan perkembangan anak. Semua pemilihan metode tersebut tentunya berbeda antara orang tua satu dengan yang lain. Anda boleh (harus malah) kemudian bertanya dengan orang tepat untuk berkonsultasi bagaimana seharusnya metode yang tepat bagi anak.

Kalau anda bertanya…bagaimana dengan saya…he…he…ya jelas masih harus banyak belajar.  Untuk mitra paling setia dan memfasilitasi..ya suami.  Kalau saya, karena keterbatasan sumber serta saya harus membagi waktu dengan pekerjaan, akhirnya memilih mitra sekolah. Gurunya sangat membantu saya ketika menghadapi perkembangan Denia. Menghadapi saat trantum atau memotivasi Denia ketika bosan. Atau menghadapi Qila ketika muncul persaingan antar saudara. Sampai batas apa yang harus saya lewati untuk memberikan input . So...metode di sekolah dapat bersatu dengan di rumah. Untuk sumber lain saya memilih buku. Alternatif sumber lain adalah seminar bahkan beberapa teman saya mengikuti sebuah kegiatan komunitas pemerhati pendidikan anak-anak untuk ikut belajar. Belajar sama mbah goo** juga boleh dipertimbangkan. Tidak ada proses selesai ketika belajar untuk memilih metode yang baik bagi anak. Setiap tahapan anak pun butuh ilmu baru…Orangtua juga harus belajar terus menerus.

Selain pertanyaan di atas sda beberapa hal lain yang juga harus diperhatikan…prosesnya mengenali dan mengembangkan karakteristik anak  butuh waktu lama. Dalam buku psikologi anak yang saya baca, memang ada beberapa karakteristik bawaan ketika anak-anak lahir. Perkembangan tersebut kemudian akan berubah-ubah sesuai dengan input ketika menghadapi lingkungan (termasuk kita sebagai orangtua). Jangan putus asa, kalau hasilnya tak segera terlihat. Kalimat yang membesarkan hati saya ketika menghadapi tumbuh kembang Denia dan Qilla adalah “Sudah jadi tugas orang tua untuk membekali sebaik-baiknya…bahkan ketika itu tak terlihat hasilnya saat ini. 

Mungkin suatu saat”. Tidak perlu takut atas penilaian “saat ini” mengenai kekurangan anak kita. Yakinlah pada diri kira bahwa proses mengenali dan mengembangkan anak memang dibutuhkan oleh kita dan si anak. Jadi….Proses mengenali dan mengembangkan karakteristk anak seperti menanam pohon…kita tidak akan pernah tahu kapan hasil stimulus akan muncul.


Pokoknya kalau membahas perkembangan anak sepertinya memang tidak ada habisnya ya. Selalu ada sisi yang harus dieksplorasi. ..selalu ada ide yang dapat dituangkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar