Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Mei 2017

FENOMENA MIRROR..MIRROR ON THE WALL


Cerita yang saya akan tulis ini sebenarnya telah lama saya amati. Namun karena saya bukan seseorang yang mendalami ilmu psikologi tentunya saya tidak berani mengambil pendapat. Jadilah saya mencuri ilmu dari seorang kawan. Kenapa psikologi?? Karena tulisan saya mengangkat perilaku seseorang yang banyak dilakukan (kalau anda jeli mengamati bahkan jumlahnya tidak sedikit), bahkan wajar dimaklumi namun sebenarnya mendatangkan kerugian bagi dirinya, orang di sekitar dan di masyarakat secara keseluruhan.

Saya punya kenalan sebut saja namanya A (akronim dari Ada deh Menyembunyikan merek..hehehhe..). Perempuan yang usianya sebenarnya sudah tidak lagi remaja. Bahkan sudah menikah bahkan lebih dari satu kali. Memiliki anak baik dari pernikahan pertama maupun kedua. Penampilannya luar biasa..merawat tubuh dan berdandan. wajahnya sehari-hari tidak terlepas dari bedak dan pelengkapnya. Gak lupa juga untuk kostum sehari-hari dari baju, sepatu atau sandal, tas semua harus modis. Semuanya harus ada untuk mendukung penampilannya. Tentunya semua ini butuh perjuangan, makanya saya amati hampir seluruh aktivitas sehari-hari dijalankan untuk mendukung penampilan prima.
Untuk sebagian dari aktivitas lainnya ya digunakan untuk social climber. Baik online maupun offline. Ini sebenarnya juga pengaruh dari berpenampilan prima. Mengarah ke pertunjukkan.. buat apa punya penampilan prima kalau tidak untuk dipertunjukkan. Hasilnya ya itu, social climber di kelompok-kelompok sosial yang yang sebenarnya bukan untuk menjalin persamaan tapi ke perbedaan. Segala macam yang trend harus segera di ikuti. Semua percakapan di media sosial harus dipantau. Notifikasi dari medsos berbunyi layaknya jam detik. Gak ada berhentinya
Permasalahan timbul ketika si A tidak mampu menjalankan perannya menjadi seorang ibu dan istri. Apalagi saya tahu suami dengan penghasilan saat ini agak kesulitan dalam memenuhi keinginan dalam merawat, berdandan serta menjadi social climber. Keinginan semacam ini telah menjadi semacam “candu” dimana si A kemudian tidak mampu lagi mengkontrol diri sendiri. Dalam hal tertentu, saya cenderung melihat si A bahkan tidak mampu menilai kemampuan diri sendiri. Apalagi menilai posisinya secara tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial di masyarakat. Jangan tanya ya, mengenai menjalankan kewajiban ya. Kalau menilai dirinya secara objektif saja tidak mampu. Apapun tuntutan yang muncul untuk menjalankan tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial di masyarakat di tutup dengan yang penting bisa berpenampilan prima. Untuk usia yang tidak lagi remaja dan bahkan telah menjalani pernikahan yang bukan pertamakali, si A tidak belajar akan bagaimana menjalankan kewajibannya. Seolah-olah waktu yang berjalan telah berhenti dengan keinginan berpenampilan prima.  
Parahnya dalam runutan waktu, si A bahkan mengacuhkan kenyataan akan posisinya yang diembannya saat ini. Untuk pengakuan bahwa dirinya yang paling memiliki penampilan pria, si A tanpa sadar menabrak etika moral. Si A merasa pengakuan akan penampilan prima yang selama ini dimiliki tidaklah cukup dari suami. Mulailah kebutuhan pengakuan beralih ke pemujaan. Inilah yang kemudian menjadi penyebab kegagalan pernikahan pertama. Dan kalau tidak segera di atasi, jelas berpotensi menjadi penyebab kegagalan pernikahan saat ini.
Fenomenanya serupa dengan ibu tiri dalam cerita Putri Salju. Menghadap kaca, meminta pengakuan. Sampai seorang pun tidak boleh lebih berpenampilan prima dibandingkan dirinya dan bersedia melakukan cara apapun. Seluruh orang yang berada di sekitarnya diminta untuk memuja. “Mirror..mirror in the wall. who's the fairest of them all?"
Apakah anda pernah mengamati kondisi seseorang di sekitar anda yang mengalami kejadian serupa dengan si A. Coba bantulah mereka dengan menyadarkan orang-orang di sekitarnya bahwa kondisi Si A semacam ini membutuhkan bantuan. Bukan sesuatu yang wajar dan harus dimaklumi. Kasihanilah si A. Berikan bantuan dengan tepat agar dapat mengingatkan dan mengembalikan ke realitas, agar orang si A mampu mengemban tanggung jawab yang dimiliki. Tentu saja untuk mendapatkan cara yang tepat, harus berkonsultasi dengan orang yang berkemampuan. Selain itu, alihkan kecanduan akan penampilan prima dengan berbagai kegiatan dengan tujuan mengaktualisasikan diri dengan cara yang lebih bermanfaat.

Epley N1, Whitchurch E,  Mirror, mirror on the wall: enhancement in self-recognition, Pers Soc Psychol Bull. 2008 Sep;34(9):1159-70.


Senin, 26 Maret 2012

MEREKA MENAMAKANNYA SEBAGAI “FRIEND LIST”


 Siapa di saat sekarang tidak mengenal istilah friendlist dalam jejaring sosial. Media lain menyebutnya sebagai followers. Sebuah features yang menunjukkan dengan akun mana yang berteman. Setiap syarat dalam pertemanan ini membuat friendlist dapat diinterprestasikan berbeda.
Friend list dalam sebuah media jejaring sosial dapat di interprestasikan berbagai macam dalam berbagai akun yang dibuat. Ada yang menginterprestasikan sebagai seseorang yang telah berhubungan secara nyata melalui keseharian. Demikian pula beberapa akun yang mengartikan friend list sebagai kumpulan orang-orang yang memiliki beberapa kepentingan sama. Entah terikat kepentingan usaha, minat, berorganisasi bahkan sebuah intrik. Ada pula yang menggolongkan sebagai akun “akan” berhubungan nyata.  Saya menyebutnya “akan” karena kenyataannya mereka tidak pernah memiliki sebuah riwayat hubungan sebelumnya dan berniat menjalin hubungan pertemanan melalui lemparan status dan komen. Menginterprestasikan Friend List, akan memberikan kesamaan pendapat antara saya dan anda; semua orang dapat mengartikan berbeda seiring apa motivasi mengembangkan sebuah hubungan sosial.
Apakah pengertian berbeda ketika mengartikan Friend list akan meletakkan sebuah nilai benar atau salah….mungkin, sekali lagi mungkin anda akan sependapat dengan saya; tidak ada yang salah dalam perbedaan tersebut. Justru sesuatu yang memberikan batas nilai salah dan benar secara nyata ternyata tidak berbeda dengan kehidupan nyata, yaitu bagaimana akun memperlakukan akun lain dalam Friend List. Sesuatu yang salah apabila akun yang dibangun karena memiliki riwayat hubungan jauh lebih lama tidak bisa membedakan mana gurauan atau celotehan yang mengundang konflik. Hal sama berlaku untuk orang yang menggunakan informasi-informasi dalam akun teman sebagai identitas pribadi dengan meniru atau akun yang saling melempar “perang komen”; Akun yang kemudian digunakan sebagai alat pribadi ketika melanggar norma sosial; dan menjadi sangat salah apabila akun yang masuk Friend List justru membuat anda merasa tidak nyaman dan terdorong untuk bersaing….hmm…..apakah anda pernah mendengar cerita tetangga membeli barang baru, tetangga lain mendapat serangan jantung. Ternyata cerita semacam itu juga terjadi dalam hubungan akun jejaring sosial.
Friend List dalam jejaring sosial dan kehidupan nyata tidak memiliki perbedaan. Semua orang dapat menginterprestasikan berbeda mengenai pertemanan namun batas bagaimana menjalin hubungan pertemanan pastilah sama. Suatu hal pasti apabila hubungan sosial yang sama sekali tidak sehat apabila dibangun tanpa rasa menghargai, tanpa rasa ingin menjalin kedekatan atau berkesan hubungan satu arah saja. Kalau begitu mungkin saya yang juga harus mempertanyakan apa itu fungsi jejaring sosial ???
Bolehlah kita mengeksiskan diri melalui keberadaan friendlist namun tidak seluruhnya menjadi penggambaran pribadi seutuhnya. Jejaring sosial menjadi media sempit untuk berinteraksi, karena banyak celah yang membuat kita menjadi pribadi “seolah-olah”. Terjebak dalam pribadi seolah-olah itu melelahkan karena membuat hati dan pikiran selalu bertentangan dengan apa yang harusnya dipilih, dilakukan dan dijalankan dalam hidup. You're not your Facebook status. You're not how many friends you have.

Jumat, 19 Agustus 2011

ANAKKU ADALAH GURUKU

Bagi setiap orang tua tentu memiliki cara pandang yang berbeda atas kehadiran anak-anak mereka. Demikian saya…melewati berbagai peristiwa mendampingi anak-anak membuat saya selalu belajar sesuatu yang baru.  Percaya atau tidak, anak-anak saya (Mbak Denia dan Dik Qila) adalah guru yang terbaik untuk saya.
Mendampingi tumbuh kembang mereka membuat saya belajar ikhlas. Seperti yang di nasehatkan seorang guru kepada saya, mendidik anak seperti menanam pohon. Kita tidak akan bisa mengharapkan kapan mereka akan berbuah. Apakah manis, ataukah justru tidak seperti harapan. Semuanya hanya bisa mengikuti waktu. Orangtua ternyata hanya bisa memberikan apa yang terbaik. Bahkan ketika pohon itu telah berbuah, tak ada hak apapun bagi kita untuk memetiknya karena buah tersebut adalah milik si pohon. Pohon itu yang telah bersusah payah untuk menghasilkan buah tersebut. Dari sinilah saya kemudian memahami istilah “melepas anak panah dari busur”.
Tekad untuk menjadi contoh baik untuk Mbak Denia dan Dik Qila membuat saya juga terus belajar. Termotivasi untuk menyerap ilmu….karena keyakinan saya bahwa tidak ada anak yang cerdas dan memiliki kemampuan hidup cukup apabila tidak didampingi oleh orangtua yang memiliki pemahaman yang baik pula. Saya harus mampu mengesampingkan berbagai latar belakang dari orang-orang yang saya anggap dapat memberikan ilmu baru jika mampu. Ujiannya pun bahkan lebih sulit karena hasilnya tidak hanya sekedar nilai atau singkatan yang berderet di belakang maupun depan. Kenyataannya, ilmu mendampingi anak tidak hanya berhubungan dengan kemampuan akademis namun lebih pada motivasi kita untuk memberikan pengasuhan yang terbaik.  
Melalui Mbak Denia dan Dik Qila pulalah saya menjadi lebih "terkendali". Mencoba untuk selalu dapat berpikir ulang bila menemui masalah. Tidak lagi meledak-ledak seperti dulu. Bagian dalam hidup saya mulai tertata dengan baik. Saya mulai mampu merencanakan hidup, menjalani dengan sebaiknya-baiknya dan kemudian melakukan evaluasi. Menjaga perbuatan dengan harapan "semoga anak saya juga akan mengalami hal yang sama.". Lebih banyak berdiam bila memang menemui sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik. 
Mendampingi anak-anak juga membuat belajar untuk berserah diri pada Allah. Saya yakin tidak ada yang mampu menjaga anak-anak sebaik Allah. Ini juga mengingat nasihat budhe Nur yang terakhir, “kalau punya anak harus banyak doa..kita khan gak pernah tahu sampai kapan bisa mendampingi. Kita juga gak bisa mendampingi anak-anak terutama kalau mereka sudah mulai remaja dan dewasa. Kalau kita banyak berdoa..maka Allah yang akan menjaga mereka.” Itu nasehat beliau yang terakhir. Sekarang setelah beliau meninggal, itulah yang saya coba terus lakukan. Membuat saya harus selalu “menjaga hubungan” dengan Allah. Bukankah Allah-lah yang Maha Kuasa atas Segalanya. 
Saya juga belajar dalam mendampingi tumbuh kembang mereka untuk mengkuatkan hati. Terkadang ketika menghadapi lingkungan tidak sesuai memunculkan pendapat  yang tidak sama membuat saya merasa sangat kecil dan tidak berarti. Namun ketika berkonsultasi dengan orang yang tepat, mendapatkan dukungan (terutama dari ayahnya anak-anak) dan melihat senyum mereka membuat saya kembali tenang. Kemudian merefleksikan diri dan mengukuhkan diri…semoga apa yang saya lakukan masih bisa menjadi contoh baik untuk anak-anak. Amien. 


Dedicated untuk Mbak Denia dan Dik Qila, serta Budhe Nur...selamat jalan budhe..semoga nasehat itu tetap selalu bisa saya jalankan...

Jumat, 17 Juni 2011

NYAMAN MENJADI DIRI SENDIRI (1)

Hmmm….muncul satu lagi status hari ini yang isinya “Be Your Self”. Kemaren ada juga status yang “Aku menjadi diriku.” Di saat lain muncul kata-kata hidup kok nurutin orang lain. Tanpa bermaksud menghakimi, pada suatu waktu, kata-kata seperti ini ternyata seringkali menjadi apologi yang baik bagi individu untuk mencuekkan diri terhadap ketidakmampuan mereka dalam mengenali diri sendiri. Jadi saya bingung, mereka itu menjadi diri sendiri atau mencoba mengisolasi diri sendiri ???? Sekedar mengukuhkan bahwa mereka sebenarnya tidak mau taat peraturan (bahasa pedes dan nyelekit adalah apologi bagi keadaan atas ketidakmauan mereka untuk berjuang lebih baik padahal mampu dan mendengarkan masukan yang sebenarnya membangun pribadi lebih baik).
Suatu waktu, kita juga pernah menemui seseorang yang seolah-olah memiliki kepribadian sangat berbeda jika berada di depan masyarakat dan di depan keluarga. Seolah-olah mereka membuat kepompong untuk membungkus kepribadian sesungguhnya. Mencoba menyukai sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi ketertarikan diri sendiri hanya untuk menjadi syarat supaya diterima dalam komunitas tertentu. Anda sebutkan saja...pasti banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan masyarakat yang senada dengan contoh-contoh di atas. Senada dengan peristiwa yang menunjukkan bahwa menjadi diri sendiri justru tidak mendatangkan ketidaknyamanan.
Sebenarnya kalau kita benar-benar mau melihat peristiwa di atas, bukan disebabkan oleh  individu-individu yang tidak mengenal kepribadiannya. Permasalahannya adalah mereka tidak mau mengakui apa adanya karakter diri sendiri. Karakter merupakan sifat yang melekat pada diri sendiri. Selama pengalaman hidup kita, karakter tersebut akan terbentuk. Karakter juga sering diartikan atau dihubungkan dengan ciri tertentu yang menonjol pada diri. Jadi dapat dikatakan apa yang menjadi diri sendiri adalah gabungan beberapa sifat yang melekat dan identik.
 Dalam perjalanan hidup seseorang, karakter sebenarnya merupakan interaksi id, ego, dan super ego. Dalam hal ini, Id (das-es) merupakan sistem Karakter yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri-naluni bawaan. Id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan sistem-sistem tersebut untuk operasi atau kegiatan yang dilakukannya. Ego adalah sistem yang bertindak sebagai pengarah individu pada dunia objek dan kenyataan dan menjalankan fungsinya berdasarkan isi kenyataan. Super-ego adalah sistem karakter yang berisi penilaian secara universal dan aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik dan buruk). Dalam bahasa sehari-hari konsep tersebut menunjukkan bahwa dalam perkembangan, manusia akan memiliki sifat-sifat bawaan yang kemudian di pilih dan dikembangkan sesuai denga cara pandang (persepsi) mereka ketika menjalankan kehidupan.
Selanjutnya karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari akan mempengaruhi tingkah laku. Tingkah laku merupakan implementasi yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya. Tindakan yang dilakukan seorang individu tidak lain merupakan hasil dan konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dalam sistem karakter tersebut. Tingkah itu kadang-kadang kelihatan (overt) dan kadang-kadang tidak kelihatan (covert). Nah dari sinilah muncul kata-kata jaim alias jaga image. Di depan orang melakukan apa…nanti kalau di belakangnya kemudian melakukan sesuatu yang sangat berbeda.
Umumnya pada masa kanak-kanak dan masa remaja merupakan masa pembentukan karakter karena pada masa inilah individu belajar dari lingkungan dan kemudian memilih mana yang paling sesuai dengan dirinya melalui pandangan hidup (persepsi). Untuk selanjutnya ketika masa dewasa, sifat-sifat tersebut akan menetap dan kemudian menjadi yang disebut sebagai karakter. Jadi sebenarnya wajar juga kalau melihat anak remaja atau anak-anak yang masih labil sehingga dengan mudahnya mereka meniru sosok yang diidolakan (kata mas Sasongko masa perkembangan gundah dan galau). Kalau jaman kanak-kanak mungkin mereka hanya meniru orang-orang terdekat (ayah atau ibu), nah kalau sudah remaja maka mereka akan mulai menirukan sosok-sosok dari lingkungan yang lebih luas. Jadi jangan heran kalau melihat anak remaja yang menangis di depan sosok idola atau bahkan dulu saat kita masih remaja juga berbuat sama. Masa tersebut merupakan masa pencarian.
 Di sisi lain sebenarnya dalam masa seperti remaja dan kanak-kanak juga penting diperhatikan, sosok siapa yang akan mereka idolakan. Dengan demikian dapat membantu mereka dalam memahami nilai-nilai baik. Oleh karenanya, contoh yang baik merupakan pembelajaran terbaik dan termudah yang dapat segera masuk dalam input perkembangan mereka. he..he padahal untuk menjadi contoh yang baik justru hal paling sulit yang dilakukan oleh orang tua atau sosok pembelajar lain.
Bagaimana seandainya kalau perkembangan di masa kanak-kanak dan remaja tersebut mengalami hambatan. Individu yang mengalami hambatan dalam pencarian ketika masa remaja dan kanak-kanak maka memunculkan sosok dewasa tanpa nilai-nilai yang dianggap sebagai benar menurutnya. Masa dewasa yang seharusnya memiliki karakter mantap sebagai pengakuan serta pandangan atas dirinya masih saja dilanjutkan menjadi masa pencarian. Selanjutnya individu tersebut tidak dapat mengaktualisasikan diri karena tidak mampu memberikan kebermanfaatan terhadap diri sendiri dan orang lain. Konsep karakter dengan memasukkan kebermanfaatan seperti ini penting dikarenakan masa dewasa merupakan masa penilaian atas sumbangan yang dapat diberikan individu terhadap dirinya dan lingkungan. Orang dewasa sesungguhnya harus memiliki posisi di kehidupan social berdasarkan peran yang mereka dapat lakukan. Kalau bahasa anak sekarang adalah orang ngeksis…jadi punya tempat dalam lingkungan mereka.
Dengan demikian orang yang mampu menjadi dirinya sendiri secara adaptif mampu menyelesaikan berbagai konflik dalam kehidupan.  Kalau menggunakan istilahnya Pak Mario Teguh, orang dengan karakter diri sendiri memiliki bawaan lebih sedikit. Jadi lebih ringan dalam menempuh perjalanan. Tidak terbebani untuk menunjukkan eksistensi diri dengan status yang tidak penting dan pikiran yang tidak perlu. Mereka akan selalu merasa yakin untuk menyelesaikan dengan apa yang telah dimiliki. Mandiri dalam memperhitungkan pilihan dengan menimbang resiko sekaligus konsekuen dengan apa yang mereka telah pilih. Pada akhirnya dapat mengambil peran dengan tepat di kehidupan masyarakat. Hal inilah yang saya sebut dengan nyaman menjadi diri sendiri karena merasa bahwa apa yang telah dimiliki (karakter) akan selalu mampu menghadapi berbagai persoalan. Mengambil hikmah dari suatu peristiwa yang telah berlalu. Tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain (karakter lain). Mereka yang nyaman dengan diri sendiri selalu pribadi berkembang karena mampu adaptif dalam segala situasi.
Jadi sebenarnya menjadi diri sendiri bukan menjadi alasan yang membuat seseorang tidak memperhatikan sekelilingnya. Tidak memperhatikan pendapat orang lain. Tidak memperhatikan apakah dirinya mengganggu orang lain. Bukan juga menjadi alasan apabila seseorang kemudian melakukan pemberontakan terhadap suatu nilai-nilai tanpa mendasarkan pada usaha menciptakan kebermanfaatan yang lebih bak. Kejadian sepert ini juga membuat saya bingung. Di saat dirinya belum memantapkan diri tapi sudah mencoba membuat rebellion. Bukankah, kita dapat mengatakan nilai itu buruk kalau sudah memiliki nilai-nilai yang lebih baik. Kemudian nilai-nilai baik ini dapat dijadikan suatu dasar pertimbangan dalam mengambil solusi terbaik. So, rebels to what ?? Ya….kalau pemberontakan semacam itu datang orang yang justru tidak memiliki karakter maka pada akhirnya membuat kondisi makin buruk karena tidak mendatangkan solusi lebih baik.
Semoga, kita menjadi pribadi yang menyenangkan untuk diri sendiri dan orang lain. 

Minggu, 05 Juni 2011

GAK MAU JADI KATAK DALAM TEMPURUNG

Dulu..dulu sekali waktu saya kecil, sering bermimpi saya nantinya jadi apa ya, gimana dengan perjalanan hidup yang dilewati. Selalu saja bertanya ke diri sendiri, mampukah melewati itu semua. Bahkan ketika melewati moment pernikahan pun, saya pernah merasa ketakutan. Di saat orang lain mungkin merasakan kebahagiaan luar biasa. Melewati ceremony yang dirayakan luar biasa. Bertemu dengan orang yang nantinya (insyaallah) akan berbagi dalam separuh lebih waktu kehidupan. Berbeda dengan yang dirasakan oleh orang lain, saya justru mengalami berbagai ketakutan. Maklum...saya melewati hal yang membuat diri menginterprestasikan perkawinan merupakan sesuatu yang sangat berat. Dalam perjalanan hidup, saya belum pernah melihat contoh baik sebuah perkawinan. Akhirnya saya menjadi ketakutan apakah mampu menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak. Apakah saya akan menjadi orangtua yang menjadi contoh baik bagi anak-anak. Menghidupi mereka dengan baik. Ketakutan tersebut semakin memuncak saat kehamilan pertama. Saya sangat bersyukur cuma tetap saja rasa takut tersebut makin menguat.

Kenyataannya, dalam perjalanan hidup, saya justru belajar bahwa ketakutan adalah pembatas paling besar dalam hidup. Iya, itu namanya ketakutan apabila kita mengkhawatirkan segala sesuatu tapi tidak membuat kita berusaha untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Hal inilah yang membuat saya harus merasa bangkit. Merasa dalam perjalanan hidup telah mendatangkan batasan, membuat saya justru tidak mendatangkan lebih banyak batasan dalam hidup. Apapun yang terjadi tetep harus berusaha bangkit untuk mengatasi batasan tersebut. Saya ingin membuktikan mampu. Membuktikan untuk diri sendiri, saya mampu. Iya, pembuktian itu hanya untuk diri sendiri saja.

Mengapa pembuktian diri sendiri saja? Ibaratnya, saya tidak mau menjadi orang yang berjalan menuju sinar terang. Sinarnya akan terlalu silau untuk saya lihat sendiri bahkan justru membutakan mata hati. Dimana di sekeliling telah berbuat lebih namun saya tidak mampu melihat dan mengambil hikmahnya. Biarkan sinarnya mendekap dalam hati saja. Tokh bagaimanapun cahaya tersebut akan tetap bersinar meskipun hanya dalam hati. Kenyataannya sinar yang di dekap dalam hati justru lebih membuat bermanfaat. Bermanfaat menerangi jalan yang akan ditempuh tanpa membuat silau seperti halnya kalau sinar itu keluar dari hati. (Ha..ha puitis banget Bu…)

Demikian pula pengalaman ketika bekerja. Pekerjaan yang telah saya jalani selama hampir 6 tahun telah mempertemukan dengan berbagai orang dari berbagai karakteristik. Dari berbagai latar belakang. Dari sebagian para bimbingan tersebut membuat saya melihat bagaimana orang yang membatasi dirinya justru membuat dirinya berkembang menjadi pribadi penuh negatif.
Saya mengalami sendiri teramat susah untuk membimbing klien yang memulai bimbingan dengan meletakkan tangan di atas dahi dan berkata “aduh, mbak. Sulit sekali. Saya pusing”. Itu padahal berlangsung pada awal bimbingan. Belum juga menghadapi apapun. Kemudian membuat seribu alasan atas ketidakmauan mereka untuk mencoba. Kalau bertemu dengan klien dengan karakteristik seperti ini dipastikan saya mesti bersusah payah untuk membantu dirinya. Bisa anda bayangkan bagaimana membimbing orang yang telah membatasi dirinya pada awal bimbingan....
Pada proses selanjutnya ketika berhadapan dengan klien dengan karakter membatasi diri ini adalah merasa bahwa tugas akhir yang dijalankan bukan kewajiban mereka. Saya pasti akan kesulitan untuk membangkitkan rasa bahwa proses ini adalah memang untuk keuntungan mereka. Jadi mereka harus mengambil bagian. Minimal dengan belajar dengan baik. Mereka pun harus menyadari bahwa saya hanya menjadi seorang dari beberapa unsur yang membantu namun sebagian besar terletak pada kemampuan dia. Kesulitan kedua dari orang yang sudah meletakkan batasan di awal adalah tidak pernah menghargai pekerjaan apapun yang dilakukan oleh orang yang sudah membantu mereka. Pokoknya tahu bayar dan semua terselesaikan. Kenyataannya, tugas akhir juga berkaitan dengan pengembangan karakteristik. Tidak mau bersusah payah. Seolah-olah mereka hanya menjadi tukang pos. Jangan tanya bagaimana ketika mereka harus menghadapi ujian akhir. Ketika ada kesulitan sedikit maka yang dilakukan hanya menyalahkan orang.
Ketiga, input apapun yang dimasukkan sepertinya susah sekali untuk masuk. Bagaimana mau masuk dalam pikiran, sedangkan mereka hanya berkutat pada adanya "aku" saja. Rugi khan...membayar saya sebagai konsultan tapi gak dapat input apapun.

Oleh karenanya satu hal yang menjadi kesamaan ketika memulai proses bimbingan adalah meyakinkan orang bahwa dirinya mampu.

Berbeda halnya ketika saya berhadapan dengan orang-orang yang mungkin awalnya sudah mencoba atau minimal keinginan untuk mencoba. Dilengkapi dengan karakteristik tersebut maka mereka lebih mudah untuk termotivasi. Mereka mampu untuk mengembangkan kapasitas untuk kemudian mengatasi berbagai kesulitan bersama-sama. Di akhir proses, mereka akan mendapatkan sebuah pelajaran baru. Tidak hanya dalam bidang keilmuan namun karakteristik pribadi yang berkembang pula.  Mereka belajar untuk menghargai apa yang disebut dengan proses.

Pengalaman bertemu dengan orang-orang yang telah membatasi dirinya menunjukkan bahwa sepertinya orang yang sudah membatasi dirinya itu kok ya seiring dengan lamanya waktu pada akhirnya menjadi orang justru tidak menghargai orang lain. Mungkin sama-lah seperti yang saya ibaratkan dalam sinar yang terlalu terang di atas. Hanya mampu melihat diri sendiri dan tidak melihat di sekitarnya telah berbuat lebih. Mereka juga kemudian tidak mampu menghargai hal-hal di luar lingkungan. Menjadikan indicator yang mereka miliki menjadi satu-satunya penilaian mutlak. Lihat baju ya merek…liat kemampuan ya dari singkatan yang berjejer di depan dan di belakang nama. Begitulah....

Sekedar berbagi cerita saja. Beberapa kali saya pernah mengalami konflik dengan orang semacam ini. Maaf, ada orang yang menjunjung tinggi bahwa pekerjaan adalah pulang dan pagi dengan berseragam menganggap pekerjaan yang saya jalani bukan termasuk jenis pekerjaan yang mendatangkan penghasilan yang cukup. Saya menjadi seorang wiraswastawan karena pilihan bukannya tidak ada tawaran pekerjaan alias tidak laku. Ada beberapa pertimbangan yang membuat menjatuhkan pilihan bahwa wiraswasta bagi saya lebih cocok. Cocok dalam pendapatan, cocok dalam membagi waktu dan cocok dengan karakter pribadi. Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang menyamakan indicator yang mereka miliki. Kerja itu ya baju rapi dengan berangkat dan pulang jam sekian. Kalau kantor itu yang ada papan namanya dan jumlah karyawan sekian. He…he. Padahal itu gak berlaku dengan jenis pekerjaan saya. At the end pernah saya dibilang partikelir. What’s  the meaning of partikelir..???? tong…ting…teng….

Dari beberapa pengalaman hidup tersebut memunculkan karakter saya yang baru yaitu pengennya coba-coba. Pengen belajar itu, pengen belajar ini. Mau melakukan itu dan melakukan ini. Pada akhirnya yang bisa membatasi adalah kondisi dan situasi. Bukannya kemauan.

Keinginan utama saya adalah maunya sama anak-anak nantinya akan mengadakan perjalanan keliling dunia….someday. Minimal keliling Indonesia. Saya ingin anak-anak belajar langsung dari pengalaman mereka untuk melihat, mendengar dan merasakan bahwa Allah menciptakan banyak keanekaragaman yang sepatutnya untuk di syukuri dan bukannya menjadi penghalang satu sama lain (atau justru menjadi sesuatu yang disamaratakan). Amiennn...

Tapi tetep saja, dalam perjalanan ada rasa suntuk juga. Kalau dah gini rasanya lemes. Mau kerjain apa-apa semua jadi gak beres. Kalau dulu bisa kerjain segala macam dalam waktu sekian….sekarang jadinya molor. Akhirnya saya kemudian tergantung pada beberapa pembangkit motivasi. Hal pertama dan paling besar untuk memotivasi dalam kehidupan ya..karena kehadiran anak-anak. Bahkan ketika mereka belum hadir dalam kehidupan saya. Jauh..jauh sekali. Saya berpikir kalau mereka menjalani seperti apa yang telah dilewati, betapa saya kecewa. Tidak mampu membuat kondisi lebih baik. Itulah yang membuat saya bertahan dalam kondisi paling sulit. Ketika waktunya menguji kewarasan.

Kedua, saya kecanduan rasa puas ketika mampu melewati sesuatu. Anda pasti pernah merasakan bagaimana rasa itu. Mencoba sampai titik rasa menyerah menyerbu tapi disaat terbaik, Allah memberikan jalan tersebut. Merasakan kepuasan sekaligus membuat kita merasa sangat kecil. Apalah kita kalau tanpa pertolongan-Mu. Rasa seperti itu-lah yang membuat saya kecanduan. Pengen dan pengen lagi. Membuat merasakan hal yang sama.

Karenanya, kalau ditanya memang sudah membuktikan apa dalam hidup; saya tidak akan mampu menunjukkan apapun. Kecuali satu hal, mengatasi rasa takut untuk tetap terus bergerak menjadi baik. Tidak menjadi katak dalam tempurung yang mencipatakan banyak batasan dalam hidup. Mengatasinya berkali-kali untuk tetap maju. Di saat apapun. Saya tidak mau menjadi katak dalam tempurung. 

Minggu, 22 Mei 2011

BERDEBAT ITU ADALAH SENI BERADU LOGIKA

Minggu lalu, ayahnya anak-anak tanpa sengaja meminjam film The Great Debaters. Gak sengaja karena salah pesan film. Ternyata dari ketidaksengajaan nonton film ini kita (saya dan ayahnya anak-anak) mendapatkan beberapa pengetahuan baru. Pesan filmnya bagus, bercerita mengenai bagaimana debat itu seharusnya dilakukan. Di latar belakangi perjuangan gerakan kulit hitam di Amerika pada periode tahun 1935-an. Kalau untuk saya sih, filmnya agak berat. Jenis film yang tidak membuat tersenyum di akhir film namun berkerut dahinya. Pokoknya sepanjang nonton film, kita banyak menggeleng-gelengkan kepala (karena keheranan). Kok bisa ya….
Sebenarnya seluruh pesan dalam film tersebut bagus namun saya lebih mengagumi bagaimana  Film The Great Debaters tersebut menuturkan cara seharusnya berdebat. Berbeda sekali dengan cara debat yang ditayangkan di salah satu televisi swasta saat ini atau ketika waktu kampanye dulu. Dalam film ini menguraikan bahwa debat merupakan salah cara tepat untuk mempresentasikan jembatan logika (bahasane Lik Antok). Menghubungkan antara satu pemikiran dengan pemikiran lain dan kemudian dengan tepat diterapkan untuk menganalisa satu kasus. Kalau kasusnya berbeda maka juga membutuhkan jembatan pemikiran yang berbeda. Nah inilah menjadi titik penting menjadi seorang debaters….bagaimana mensesuaikan jembatan berpikir untuk menganalisa satu kasus dengan kasus lainnya. Untuk menerapkan ketepatan logika itu ternyata seorang debaters tidak cukup hanya menguasai satu ilmu saja. Dalam film ini mereka harus berbagai ilmu supaya dapat memandang suatu kasus dari berbagai sisi.  Selain itu mereka juga dapat menganalisa berdasarkan fakta, bukannya pendapat pribadi atau intuitif saja.
Nah di sinilah letak seni dari berdebat. Cara mereka untuk menyusun logika demi membuat argument dengan tepat. Menjadi seni karena argument-argumen tersebut disampaikan dengan indah. Tidak membuat orang merasa terhakimi namun untuk merenung bersma. Kondisi apa yang sedang mereka hadapi. Kemudian mencoba membuat solusi bersama.
Jadi salut banget ketika mereka (tim The Great Debaters) mampu menganalisis fenomena maraknya pekerja anak dengan kenyataan bahwa kondisi social ekonomi masyarakat Amerika yang terpuruk setelah masa Great Depression. Negara juga membutuhkan lebih banyak tenga kerja saat industri mulai mengalami pemulihan Di sisi lain juga  mempertimbangkan hak anak-anak adalah bermain serta tumbuh kembang. Adegan itu menunjukkan tim Great Debaters menganalisis dari ilmu sosiologi, psikologi anak, sekaligus ekonomi 
Selain itu para debaters juga harus memiliki karakter kuat dalam kepercayaan diri dan mampu menghargai orang lain. Kepercayaan diri penting untuk menguasai diri di depan khalayak umum. Demikian pula karakter menghargai orang lain. Ketika saatnya memang analisa yang diberikan tidak mampu memberikan suatu hasil akhir memuaskan maka pihak tersebut dengan “lapang dada” menerima logika lawan sebagai yang logika terbaik. Artinya tidak selalu debat adalah bertahan namun ada juga saatnya harus menerima. Mereka tidak memandang siapa yang menyampaikan namun memfokuskan pada apa yang sedang di sampaikan. Jadi ceritanya saking grup the Great Debaters tersebut mampu menyampaikan argumen yang bagus....para penonton kulit putih memberikan apresiasi tak kalah meriah dibandingkan dari tim kulit putih sendiri. Padahal kondisi rasis di masyarakat Amerika saat itu sangat kuat jadi kecil kemungkinan kaum kulit putih memberikan apreasiasi demikian hebat
Nah inilah salah satu perbedaan paling menonjol dari debat yang ada di Indonesia. Beda khan di Indonesia, masih banyak kata “pokok men”. Apalagi pakai acara adu lempar perlengkapan gedung. He..he..itu adu debat apa cabang olahraga lempar cakram ya…
Lewat film tersebut saya kemudian jadi memahami mengapa debat dapat dijadikan titik ukur dalam pemilihan pemimpin. Debat menjadi acuan dalam menilai penguasaan pengetahuan ilmu calon pemimpin. Klo si calon pemimpin ini makin mampu menganalisa dari berbagai sisi dan kemudian memberikan analisa yang tepat pada suatu kasus maka kita dapat menilai bahwa beliau merupakan seseorang yang memiliki kekayaan ilmu. Demikian pula dengan melihat karakter kepercayaan diri dan kemampuan bernegoisasi. Hal ini penting untuk menjalin kerjasama. Namanya juga pemimpin khan harus mampu membangun kerjasama baik dengan tim yang dipimpin. Bener-bener baru tahu….makanya kenapa di Amerika atau di negara-negara maju memasukkan debat dalam salah satu acara wajib kampanye pemilihan pemimpin dalam tingkatan apapun. Dari tingkat senator sampai tingkatan pemimpin negara. Demikian pula saat mereka melakukan sosialiasi program. Gak cuma slogan “jadi pilihlah aku”..tapi berganti menjadi “mengapa memilih aku”.
Gara-gara salah film ternyata membawa pengetahuan baru ya.

MENGAPA KITA (HARUS) MENGHARGAI KREATIFITAS ORANG ??

Tahukah anda bahwa keharusan kita untuk menghargai kreatifitas orang bukan saja karena kewajiban namun juga karena manfaat bagi diri sendiri. Iya…jadi kata harus pada kalimat diatas dibangun bukan hanya pada kewajiban namun manfaat yang diperoleh.
Seseorang yang sangggup untuk menghargai kreatifitas orang akan memunculkan input baru dalam perkembangannya. Mereka akan belajar menemukan pola-pola bagaimana orang si empunya kreatifitas dalam melewati suatu permasalahan, kemudian menemukan bagaimana mereka bisa menemukan suatu solusi dan keberanian untuk memulai. Kita juga akan belajar bagaimana menjaga kekukuhan hati untuk melewati semua kesulitan dan hambatan. Proses seperti ini disebut juga sebagai upaya untuk belajar dari pengalaman orang lain. Dengan demikian manfaat yang diperoleh akan sebaik ketika mendapatkan manfaat dari menjalani sendiri.
Sama saja ketika membaca biografi orang-orang yang terkenal. Orang-orang yang telah mendapatkan pengakuan dari lebih banyak orang. Hanya saja kreatifitas tersebut terkadang muncul dari orang-orang di sekitar anda. Orang-orang yang mungkin tidak anda kira mampu berbuat demikian  Dalam kasus seperti ini maka anda berupaya untuk menghargai sebuah kreatifitas tanpa melihat sosoknya namun melulu hanya pada prosesnya saja.
Tentu saja untuk mendapatkan input dari proses menghargai disertai dengan sifat- seperti mengakui dalam menerima kekurangan, kelemahan, kelebihan dan kekuatan diri. Dengan demikian kita akan mengadaptasi kreativitas dengan diri sendiri. Harus juga diiringi dengan sikap mau mengakui keunggulan si empunya kreatifitas. He..he kalau yang ini sulit ya dilakukan. Untuk mengakui kelemahan diri sendiri saja sulit apalagi harus mengakui keunggulan dalam kreatifitas orang lain.
Sebaliknya, Bagaimana kalau prosesnya berhenti pada kalimat “Ah..kalau begitu saja saya bisa”. Orang-orang yang berkata demikian justru akan berhenti pada kata “kalau bisa”. He..he kenyataannya ya gak bisa, kalaupun bisa karena melihat orang lian yang telah melakukan dulu bukan dari iniasitif sendiri.
Kemudian muncul pertanyaan apakah proses menghargai kreatifitas di atas termasuk dalam menjiplak. Jawabannya tentu saja berbeda. Menjiplak adalah melihat pada hasil akhir sedangkan mendapatkan manfaat dari menghargai pada prosesnya. Jangan lupa yang dimaksud dengan menghargai kreatifitas melibatkan proses mengadaptasi dengan kondisi diri sendiri. Jadi muncullah kreatifitas dalam bentuk baru. Original milik kita. 

BERBAHAGIA UNTUK HARI KEMARIN, HARI INI DAN MENDATANG

Salah satu pertanyaan abadi dalam kehidupan manusia adalah: Apakah anda berbahagia? Jawabannya tentu bagi masing-masing orang sangat berbeda. Bahkan apabila anda tanyakan dengan orang yang sama namun seiring dengan waktu berlalu tentu akan menghasilkan jawaban yang berbeda pula.
Dalam ilmu psikologi sendiri, kebahagiaan sering dikaitkan dengan happiness (Diener, 2000 dan Myers, 2000). Mereka menyatakan bahwa kebahagiaan adalah evaluasi manusia secara kognitif dan afektif terhadap kehidupan mereka. Dengan demikian ada dua komponen  kebahagiaan dalam ilmu psikologi yaitu komponen kognitif sering disebut dengan kepuasan hidup dan komponen afektif sering dikaitkan dengan emosi. Artinya orang yang mampu memuaskan berbagai kebutuhan  akan cenderung memiliki emosi yang positif (emosi yang mengarah kebahagiaan, kesenangan dan lain-lain). Dengan singkat bahwa kebahagiaan itu dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan atau yang disebut dengan harapan.  
Sedangkan dalam teori Maslow menyebutkan bahwa manusia memiliki tingkatan kebutuhan. Dimana tingkat kebutuhan tersebut dibagi dalam lima tingkatan yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan social, penghargaan dan aktualisasi diri. Di dalam teori tersebut juga menyebutkan bahwa seorang manusia akan bergerak untuk memenuhi tingkat kebutuhan yang berada pada tingkatan di atasnya apabila sudah memenuhi tingkatan di bawahnya. Ketika orang tersebut belum memenuhi kebutuhan maka muncullah konsep harapan yang menggerakan mereka untuk bergerak ke tingkatan di atasnya. Demikian gerakan tersebut mendorong mereka ke atas dan terus ke atas.
Nah …kenyataannya dalam kehidupan manusia tidak memiliki tingkat tanggapan yang sama terhadap tingkat kepuasan kebutuhan. Satu orang akan puas apabila sudah memiliki rumah, mobil, atau sejumlah perhiasan. Satu orang yang lain akan memiliki kepuasan cukup berbahagia dengan aktualisasi diri di tengah masyarakat sedang yang lain cukup bahagia ketika mengabdikan diri. Kita tidak bisa mengatakan bahwa: “Kamu akan bahagia dengan jalan yang aku tempuh. Lihat sekarang aku sudah mampu memiliki ini dan itu”. Di sisi lain orang tersebut akan mengatakan: “ Bagaimana mungkin aku bahagia, sedangkan bukan itu yang aku harapkan. Bukan itu pula jalan yang aku harapkan dapat memenuhi semua keinginanku.” Hal inilah yang nantinya mengarahkan jawaban mengenai kebahagiaan menjadi sangat subjektif karenanya kenyataannya kebutuhan satu orang dengan yang lain sangat berbeda.
(Hiks maaf ya kalau ternyata bagian tulisan ini tidak membuat bahagia….yang nulis aja pusing @_@)
Artinya apabila anda mengkonsepkan kebahagiaan dengan tingkat pemenuhan kebutuhan hidup maka tidak akan ada pernah kata cukup. Selalu saja manusia akan bergerak sampai dalam tingkatan kualitas (tingkatan kebutuhan yang berada di atasnya) dan secara kuantitas (jumlah kebutuhan). Akhirnya kita selalu dipusingkan dengan keinginan yang beraneka macam. Justru tidak akan pernah meraih apa yang disebut dengan emosi positif (kebahagiaan).
Demikian pula  saat melirik dan mulai membandingkan ke tetangga sebelah, teman atau ke rekan kerja terdekat. Lihat temen bikin status di FB punya barang apa atau baru pergi kemana bilangnya pamer. Tapi kalau kita baru punya barang apa, pengennya langsung up date status. Sama saja ketika merasa "paling" ketika melaksanakan atau mengerjakan sesuatu. Padahal OK-nya justru karena paling sesuai dengan kondisi kita. Pilihan terhadap bagaimana melaksanakan atau mengerjakan sesuatu dalam kehidupan tersebut belum tentu sesuai untuk kondisi yang berbeda. Dengan begitu tidak mungkin dapat menilai kebahagiaan berdasarkan kebahagiaan orang lain. Lagi pula terkadang kita lupa, ada unsur bahwa orang cenderung membanggakan apa yang mereka punyai. Bukan pada proses yang harus dilewati.
Sama halnya dengan ketika mempertanyakan pilihan dalam kehidupan. Saya ambil contoh saja bagaimana seorang ibu bekerja kemudian sering mempertanyakan bagaimana seandainya dirinya menjadi ibu rumah tangga.  Akhirnya dirinya tidak terfokus untuk mengerjakan apa yang sebaiknya namun justru menghabiskan energi untuk berandai-andai. Dalam kondisi apapun, pilihan adalah mutlak hasil pemikiran diri sendiri. Pilihan mungkin muncul dalam kondisi yang tidak diinginkan namun bagaimana memilih bukankah muncul karena keinginan kita. Direfleksikan dari pengalaman, kemudian dari berbagai kemungkinan; diambil yang terbaik. terus mengapa kita meragukan akan pilihan sendiri. 
Di sisi lain, sebenarnya kita dapat membuat diri bahagia dengan memulai dengan emosi positif baru kemudian bergerak untuk memenuhi kebutuhan. Artinya konsep tersebut akan melawan arah dari kedua teori diatas. Dalam teori di atas emosi positif terbentuk setelah berhasil memenuhi kebutuhan sedangkan dalam konsep terakhir memulai dengan kebahagiaan baru kemudian memenuhi kebutuhan. Bukankah kita sendiri yang dapat mengontrol bagaimana membentuk emosi positif….
Emosi positif justru membuat mampu meraih lebih banyak keinginan. Digerakkan oleh suatu kesenangan maka kemampuan dapat teroptimimalisasi. Berbagai kesulitan dapat terlewatkan sembari berkata “ah itu khan hanya hambatan kecil”. Digerakkan dengan motivasi maka kita dapat menjangkau sesuatu yang sepertinya tak teraih. Tanpa terpatok pada hierarki tingkatan kebutuhan, bisa kok memenuhi kebutuhan makan minum dengan aktualisasi diri. Tanpa membandingkan dengan orang lain, kita dapat berkata: “Ini cukup untuk aku…karena ini yang paling sesuai untukku.” Dalam kondisi begini ternyata butuh lebih banyak: “sometimes, cuek is the best”.
Kalau saya, tentu akan sangat bahagia sekali bila menikmati sarapan dengan secangkir teh panas di pagi hari (mengingat rush hour pagi: mulai menyiapkan anak-anak dan memilih pekerjaan yang akan di bawa ke kantor. Jadinya suka bikin teh tapi pas minum sudah dingin. He..he kelupaan). Kemudian di siang hari menyelesaikan pekerjaan dan datang bimbingan mengatakan:”Terima kasih ya mbak, akhirnya saya bisa memahami tulisannya”. Di sore hari maen dengan anak-anak dan bapaknya anak. Malam hari menjelang tidur di ngobrol bareng ayah, mengevaluasi  hari ini dan merencanakan target mendatang.  Ditutup, tidur dengan perasaan “besok pasti jadi hari yang lebih baik”.
Bukan berarti saya tidak memiliki harapan atau keinginan. Pengen beli ini atau pengen punya itu…tapi tidak saya posisikan menjadi suatu beban namun tujuan. Kalau saya dapat melewatkan kegiatan terbaik maka sisanya harus diserahkan pada Allah. Dia pasti tahu kok apa yang terbaik untuk saya…..Itu saya pahami bukan berarti tidak melewati proses untuk memahaminya sangat berat. Ternyata dengan berbaik sangka pada Allah, saya lebih banyak menyadari bahwa lebih banyak yang di dapatkan  dari apa yang diinginkan. Allah memberikan dengan tepat apa kebutuhan saya. Memberikan kekuatan untuk berkata tidak di saat seharusnya berkata tidak dan memberikan kekuatan untuk diam jika memang saatnya tidak mendatangkan manfaat bagi saya. Memberikan scenario besar yang di akhirnya baru dipahami sebagai ini memang benar-benar sesuai.
Pada akhirnya, saya berharap kita semua dapat berbahagia setiap hari. Bukan hanya karena dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan namun padaj proses yang mampu dilewati. Melewati hierarki kebutuhan dengan selalu mengabdikan diri pada kebermanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain. Mampu membentuk emosi positif bahkan di saat terburuk. Mampu melihat kebahagiaan di setiap tahapan hidup baik untuk  masa lalu karena hikmah yang dapat diambil, masa kini karena anugerah dapat menjalani pilihan dan masa depan untuk impian yang lebih baik.

Kamis, 12 Mei 2011

BAGAIMANA BILA KESEMPATAN MENGEMBANGKAN POTENSI ITU DATANG (MENURUT ANDA) DI SAAT TIDAK TEPAT

Maksudnya ??....Ya kaya saya ini.
Baru bisa kuliah kembali setelah akhirnya mempunyai kesempatan (baik dana dan waktu) setelah usia 30 tahun. Kepengennya melanjutkan kuliah itu sudah ada sejak lama tapi ternyata kesempatan ini datang baru-baru ini. Akhirnya saya berkesempatan untuk kuliah kembali. Saya ambil jurusan berbeda dari kuliah yang dulu. Program regular lo bukan kelas pekerja. Jadi temen-temen kuliah saya adalah remaja-remaja (kebanyakan dari mereka baru saja lulus SMA kemudian langsung meneruskan masuk kuliah). Jadi bisa dibayangkan kikuknya saya harus kuliah bareng  anak-anak remaja. Beda generasi, beda nilai. Harus pula naik ke lantai 3. Jadwal kuliah dari pagi sampai sore. Menyesuiakan jadwal kegiatan dengan anak-anak saya, pekerjaan dan kegiatan rumah tangga. Gak kebayang ribetnya. Di angkatan tersebut, saya tidak menemukan teman yang seusia. Sama Sekali !! Gak salah khan kalau temen-temen kuliah kemudian memanggil saya Ibu atau Mama De***.
Bahkan saya baru saja bisa mengendarai kendaraan bermotor ( kemana aja Bu ???). Ha..ha Saya baru bisa mengendarai motor 8 bulan ini. Tapi jangan tanya, seminggu setelah bisa naik motor saya dan temen-temen kuliah saya sudah jalan-jalan di pusat kota Jogjakarta. Suami saya saja sampai heran. Next target adalah belajar nyetir mobil. 
Terakhir, saya juga baru bisa mengembangkan kebisaan untuk menulis. Jadi keberanian untuk mengembangkan menulis itu datang setelah sekian tahun lamanya. Ternyata menulis itu menyenangkan. Membuat saya mengekspresikan banyak hal yang telah dipelajari. Hiks, kenapa gak dari dulu ya.
Jadi ya itu intinya sih…kesempatan mengembangkan potensi ketika lewatnya waktunya. Tidak jarang khan kita menemui seseorang yang ingin mengembangkan potensi atau belajar kemudian berkata “Ah sudah tua, buat apa?”. Padahal lewat atau tidaknya waktu itu juga sebenarnya subjektif sekali. Mungkin bagi setiap orang tepat tidaknya menyadari bahwa ada potensi dan mengembangkan bisa saja sangat berbeda. Jadi sebenarnya tidak ada kata waktu tepat atau tidak ketika mengembangkan potensi.
 Tapi tahukah anda, bahwa ketika anda menyadari adanya potensi baru yang perlu dikembangkan dalam hidup merupakan suatu anugerah sangat besar. Anugerah yang harusnya sangat disyukuri. Cukup hanya dengan proses menyadari munculnya potensi baru menunjukkan bahwa anda telah belajar hal-hal baru. Potensi baru yang muncul merupakan reaksi kita akan perubahan dari lingkungan. Menyadari adanya perubahan yang disikapi dengan proses adaptasi. Menyadari bahwa da jalan keluar yang dapat dilakukan dalam perubahan. Anda berani keluar dari kepompong kenyamanan dan bertransformasi menjadi kupu-kupu cantik siap terbang. Artinya anda berani untuk membuat sebuah solusi dibandingkan hanya mengeluh dan mengeluh. Padahal itu hanya sampai proses menyadari.
Apalagi kalau anda kemudian benar-benar mampu meneguhkan hati untuk mengembangkannya.
Jangan pula kita meremehkan potensi apapun yang muncul dalam diri. Entah itu mungkin kemampuan memasak, menjahit, membuat aseksoris, keberanian untuk berbicara di depan orang atau seperti saya saat ini, menulis di blog. Semua potensi patut untuk dikembangkan. Dalam perjalanan hidup kelak, kita tidak akan pernah tahu potensi atau ilmu apa yang akan kita pakai. Kita juga tidak tahu potensi atau ilmu mana yang justru bermanfaat. Semua potensi tersebut akan saling melengkapi dan menjadikan kita sebagai sosok yang lebih baik.
Mengembangkan potensi tidak hanya dinilai dari apakah nantinya dapat menjadi sumber penghidupan. Ada efek lain yang justru sangat bernilai. Istilahnya ayahnya Denia dan Qila adalah melengkapi karakter diri (Ciah!! Kata-katanya: karakter diri. Psikologi banget yak). Proses pengembangan potensi baru akan meningkatkan wawasan di luar pemikiran. Memahami memahami adanya karakter yang berbeda (termasuk kekurangan, kelebihan, kelemahan dan kekuatan),  kemudian membuktikan kebermanfaatan diri baik kepada diri sendiri maupun lingkungan)  sekaligus memberikan kepercayaan diri.
Mulailah proses mengembangkan potensi tersebut dari hal yang paling mungkin anda lakukan. Baru kemudian memulai proses yang lebih berat. Jangan menyerah jika memang ada hambatan dan tantangan. Justru dari hambatan dan tantangan itulah kita dapat menilai indahnya sebuah pencapaian. Buah tidak akan dinilai manis apabila tidak ada buah yang asem.  Kaya kita kalau maen game itu lo!!Mulainya dari stage beginner nanti beranjak ke stage advance. Mulainya melawan musuh yang cemen2 selanjutnya beranjak ke biang-biangnya. Pertama maen ilmunya juga cethek lama-lama keluar deh senjata penumpas si musuh yang kaliber berat. Wuahhhh…jadi ketahuan klo mantan pencandu game.
Jangan lupa, pertimbangkan pula dukungan yang anda miliki baik dari segi waktu, dana serta factor-faktor lain. Jagalah proses tersebut. Tidak ada proses yang tidak mengalami hambatan dan tantangan khan.
Jadi berbanggalah kalau anda mampu menyadari bahwa di sekian bertambahnya umur, masih ada potensi baru yang bisa dikembangkan. 

Minggu, 08 Mei 2011

Menulis Itu Menyenangkan (2)……

Sebenarnya agak beban juga untuk menulis artikel ini. Mengingat saya merasa belum segitunya berpengalaman. Setidaknya, artikel ini dapat berbagi pengalaman mengenai cara mudah untuk menulis. Artikelnya pun jadi berkesan sedikit serius...

Setelah tulisan pertama membahas mengenai manfaat serta pengalaman saya menulis, dalam serial kedua ini kita akan membahas mengenai bagaimana cara menulis mudah. Menulis yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah tulisan untuk blogger saja sedangkan untuk mengembangkan bakat menulis sebuah karya sastra seperti cerpen atau novel tentunya ada langkah-langkah yang berbeda. Terus terang untuk menulis karya sastra, ilmu saya tidak mencukupi dan tidak PD…he…he.

Bagi saya, menulis itu sama dengan bercerita. Kebanyakan orang, menulis bukan kebiasaan. Lebih banyak dari kita terbiasa untuk bercerita lisan. Baik menulis maupun bercerita/bertutur mengandung unsur sama yaitu tema, pesan serta kedetailan penuturan. Hanya saja menulis berbentuk tulisan sedangkan bercerita atau bertutur dalam bentuk lisan. Unsur-unsur tersebut mendasari saya ketika memaparkan bagaimana menulis dengan mudah. Dimulai dari langkah-langkah untuk menentukan tema, pesan serta penyusunan detail tersebut.


Selanjutnya saya akan memaparkan langkah pertama  yaitu menentukan tema. Tema adalah ide pokok tulisan. Fungsi tema sebagai kerangka besar yang menentukan arah dan tujuan penulisan. Kalau tema sudah ditentukan maka tulisan tidak akan melantur kemana-mana. Dengan kata lain tema membantu penulis untuk focus di sebuah bahasan saja.
Tema bisa diangkat dari berbagai hal. Pengalaman hidup, dari tulisan orang lain (kalau memang dimasukkan sebagai sumber, di sebutkan ya pustakanya), dari sharing teman-teman. Banyak hal khan bisa kita gunakan sebagai tema. Sekedar curhat juga gak apa-apa kok. Tokh sekedar tulisan curhat  kemudian tidak menjadi penentu pentingnya sebuah pesan di hadapan pembaca. Kalau melalui tulisan curhat membawa pesan yang lebih baik dari tulisan lainnya ya dituangkan saja. Intinya curhat tidak membatasi pentingnya pesan yang akan ditangkap oleh pembaca khan…………………

Selain itu tema juga membantu anda untuk menentukan pesan yang ingin disampaikan ke pembaca. Ini langkah saya yang kedua, pesan. Pesan adalah nilai-nilai penulis yang ingin disampaikan ke pembaca melalui tulisan tersebut. Kalau tema, saya ibaratkan sebagai kerangka maka pesan adalah ruh sebuah tulisan. Ini menyebabkan mengapa tidak ada tulisan  tanpa berisikan muatan pesan. Sekarang terserah pada si penulis apakah mau disebutkan dalam tulisan secara implicit  atau eksplisit . Oh iya pesan seringkali saya gunakan untuk menentukan judul.

Baru setelah kedua hal tersebut ditentukan maka penulis akan menguraikan tema dan pesan melalui tulisan. Kalau anda kesulitan untuk menentukan apa saja yang ingin diuraikan…buat saja beberapa point-point penting. Umumnya point pertama digunakan sebagai pendahuluan. Isinya adalah mengajak pembaca memahami mengapa pentingnya tulisan ini dibuat serta apa yang mendasari anda tertarik untuk menulis. Untuk point terakhir digunakan untuk menyampaikan penutup yaitu kesimpulan dari tulisan. Saran atau rekomendasi juga bisa dimasukkan sebagai closing. Baru dari setiap point tersebut ditambahkan detail-detail. Patut diingat bahwa fungsi detail dalam tulisan untuk memperjelas. Bukan untuk membuat cerita di dalam cerita. Detail namun tetap fokus
Seberapa banyak detail yang ingin anda masukkan tentu saja tergantung selera. Itulah mengapa setiap tulisan menjadi cara yang baik untuk mengekspresikan diri. Setiap orang punya cara untuk mengekspresikan diri melalui kedetailan tulisan. Istilah untuk mengenal bagaimana seorang pengarang dalam mengekspresikan diri dalam tulisan disebut sebagai gaya bahasa. Gaya bahasa seorang penulis lain dengan lainnya sangat khas. Gaya bahasa tidak bisa ditiru. Paling yang bisa dilakukan seorang penulis untuk menyamakan gaya bahasa adalah pada tingkatan mirip. Mirip ....bukan sama. Jadilah diri anda sendiri ketika menulis.
Ada beberapa hal yang dapat membantu untuk menentukan detail tulisan. Kekayaan pengalaman si penulis menjadi hal utama. Oleh karenanya sebagai penulis yang baik maka anda harus banyak membaca, mengamati dan belajar dari pengalaman orang lain. Dalam tulisan “menulis itu menyenangkan” pertama, saya pernah menulis bagaimana Pramoedya perlu melakukan riset untuk menyusun buku Panggil Aku Kartini Saja. Demikian pula bagi seorang penulis di blogger, membaca, mengamati dan belajar dari pengalaman orang lain sangat menentukan kedetailan tulisan.

Beberapa hal lain yang juga harus diperhatikan adalah kesantunan. Blogger seperti halnya tulisan artikel juga memiliki pedoman dalam menulis. Jangan memasukkan tulisan bermuatan SARA, provokatif atau hal-hal negatif. Patutnya kita menyaring dulu tulisan yang akan dimuat. Blogger itu memang membebaskan kita untuk menulis namun tetap bertanggungjawab.

Oh iya sering-seringlah berlatih.…Kemudahan untuk menulis juga di dasarkan pada keseringan kita melakukan. Semoga tulisan ini dapat lebih banyak memotivasi dan membantu anda untuk mengembangkan potensi menulis. Mari menulis….menulis itu menyenangkan !!

Senin, 02 Mei 2011

SHODAQOH SENYUM (BERBAGI SENYUM)

Di sekolah Denia dan Qila, setiap hari selalu ada guru yang mengingatkan anak-anakku untuk tersenyum..shodaqoh senyum. Bertegur sapa dengan senyuman ketika bertemu guru, teman-teman dan orangtua murid. Efeknya, siapapun dalam lingkungan sekolah akan saling mengenal. Kami jadi saling dekat satu sama lain. Jika ada permasalahan mengenai proses belajar mengajar dan tumbuh kembang anak maka kami lebih mudah untuk berbicara dan kemudian mengambil solusi terbaik.
Seeandainya anak-anak kami di sekolah bertengkar maka selalu bisa diselesaikan dengan baik. Boleh berantem (maklum anak-anak pasti suka berebut mainan dll)..tapi harus selalu diakhiri dengan kata maaf dan kemudian kembali tersenyum. Lucunya liat anak yang tadinya brantem sampe nangis dlewer-ndlewer, kembali saling berjabat tangan dan berbagai senyum. Gak lama lagi kemudian tiba-tiba mereka sudah tertawa keras bersama-sama
Kebiasaan itu juga membuat anak-anakku lebih ramah terhadap siapapun di lingkungan. Di rumah, di sekolah ataupun ketika ikut ayah dan ibu berkunjung ke rumah orang. Kalau dalam lingkungan rumah, ketika kami sebagai orang tua sekiranya tidak menepati janji atau memang berbuat kesalahan, kami juga akan meminta maaf dan diakhiri dengan senyuman.
Sepertinya kalau dalam interaksi antara orang dewasauntuk bersedekah senyum lebih sulit ya. Jadi inget status temen yang bercerita bagaimana seorang ibu Ayang baru saja bertemu dan bertukar senyum di depan ibu B. Ketika ibu B tadi baru saja beranjak pergi kemudian tiba-tiba si ibu A di depan orang yang lain lagi mengucapkan kata-kata“opo’o. nek ketemu ngguya ngguyu. kondhone wis njaluk sepuro ngono maneh…ngono maneh . wis tak sabar-sabarno kok pancet ae..” .  (Dalam bahasa Indonesia itu artinya: apaan. Setiap kali ketemu senyam-senyum. Katanya dah mintaa maaf tapi gitu lagi. Gitu lagi. Padahal aku sudah berusaha sabar banget…). La itu tadi senyum buat apa  ya….@_@. Dan sepertinya adegan itu mudah kita kenali ya dalam lingkungan kita….he…he
Malu juga apabila melihat anak-anak kecil yang terkadang lebih bijaksana dalam menselesaikan konflik.
Sebenarnya senyum yang kita berikan merefleksikan banyak hal lo..tidak hanya ekspresi wajah saja. Senyum  juga merupakan releksi keinginan kita untuk memulai memperlakukan orang sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang. Ketika menunjukkan senyum maka kita membuka diri terhadap orang lain.  Dengan kata lain senyuman juga menunjukkan kepedulian yang kemudian membangkitkan dan memunculkan kembali nilai-nilai positif.
Wuihhh…….membayangkan seandainya kita hidup dalam lingkungan yang dipenuhi nilai-nilai positif. Senengnya kalau setiap kali kita hidup dalam lingkungan dipenuhi nilai-nilai positif. Saling bertegur sapa..saling perduli..saling menjaga.
Berapa kali kita sudah bersedekah (berbagi) senyum hari ini ??

Jumat, 29 April 2011

MENULIS ITU MENYENANGKAN

Bagiku menulis itu sangat menyenangkan. Menulis membantu aku untuk berpikir sistematis. Merunut suatu akar masalah kemudian menganalisis, membuat jalan keluar dan membayangkan jalan keluar cadangan. Aku juga pernah membaca (lupa sumbernya) menulis juga merupakan upaya untuk mengenali diri sendiri dan memutuskan pilihan. Hal ini dikarenakan ketika kita menulis otomatis akan membuat si penulis harus memilih kata mana yang paling baik untuk menyampaikan pesan dengan benar. Selain itu ketika kita akan memilih kata-kata tersebut juga m merupakan bagian untuk mengekspresikan diri. Oleh karenanya menurut si ahli tersebut menulis merupakan saluran ekspresi yang baik. Saluran ekspresi ysng dapat dilakukan ketika senang maupun susah
Menulis juga sangat lekat dengan karakter seseorang. Pemilihan kata inilah yang menunjukkan diri kita sebenarnya. Gak bisa ditipu..
Menulis juga sangat berhubungan dengan kegiatan membaca. Membaca membantu kita ketika menulis dengan  berlogika...karena makin berkembangnya wawasan. Semakin banyak membaca dan menulis maka membuat kita terus untuk belajar hal-hal baru. Contohnya tulisan seorang yang menganalisis suatu kegiatan masyarakat maka seorang dengan wawasan berkembang akan mampu menganalisis berbagai sudut. Tentu saja si penulis untuk mngembangkan wawasannya sudah melalui proses membaca sebelumnya. Semakin kompleks..semakin mendetail. Diakhiri dengan jalan keluar yang bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi masyarakat tersebut. Kalau contoh dalam karya fiksi dapat dilihat dari pengarang menuturkan latar dan penokoha. Latar dan penokohannya pun semakin detail. Konfliknya juga berkembang. Cerita fiksi yang memenuhi syarat ini salah satunya adalah Lord of the Rings. Detail banget cerita, penokohan, latarnya..sampe di awal novel si pengarang bikin kaya kamus pendahuluan. Pengarang lainnya ya..Pramoedya dalam karya “Panggil Aku Kartini Saja”. Untuk menselesaikan biografi tersebut, beliau melakukan riset sejarah mengenai kultur masyarakat Jawa, politik dan tentu saja kisah Kartini itu sendri. Sekian tahun…baru keluar buku itu.
Kalau bagiku menulis (cukup) sebagai upaya untuk menggambarkan diriku. Merenung, mengenali diri sendiri dan membuat aku untuk terus termotivasi untuk belajar. Sekaligus Mengembangkan potensi lain..
Bagaimana aku tertarik hobi menulis dimulai ketika aku remaja. Hobi menulis pertama kali tersalurkan pertama ya melalui diary…yang isinya penuh dengan keluhan, kekecewaan atas nama cerita romansa percintaan (karena benernya tak tersampaikan makanya penuh kekecewaan). Rasanya waktu itu kalau gak liat wajahnya serasa tak bergairah. Membayangkan dah menghabiskan deodorant, minyak wangi (bener2 minyak yang wangi lho bukan parfum), baju dah disetrika, dan pake sedikit penutup wajah yang saat itu penuh jerawat…ternyata dianya gak masuk kelas. Tambah melas banget klo ternyata dianya dah bawa gandengan. …hiks.  Bahasa anak sekarang bilangnya lebay banget deh
Lainnya sih isinya mengenai keluarga. Ups…klo yang ini atas nama perlindungan nama2 tertentu mendingan gak usah diceritakan deh.
Nah waktu kuliah ketika aku kenalan dengan calon bapaknya anak-anak..aku juga sering menulis surat. Jaman segitu khan telpon cuma ada di wartel dan HP harganya masih jelas tak terjangkau. Antenanya masih mencuat kaya sendok nasi…hua…ha. Jangan membayangkan tulisan suratku itu isinya masih lebay kaya curhat diary di atas. Kalau liat tulisan di surat itu isinya penuh pertanyaan. Bapaknya anak-anak itu sabar banget mau menjawab pertanyaan aneh-aneh dariku. Kasih rekomendasi buku atau film tertentu…Cerita pengalamanku sama temen-temen kuliah. Senengnya….Aku khan dari dulu gak punya sosok yang bisa diajak bertanya ini itu. Hiks kedua….Jawabannya harus dicari sendiri….dari pengalaman aja. Sorangan….
Hobi menulisku tersalurkan lagi melalui kerjaanku. Kerjaanku itu berhubungan dengan tulis menulis ilmiah. Namanya urusan dengan tulis menulis ilmiah, setiap hari ya kerjaannya membaca dan menulis. Ya buku, jurnal ilmiah, sampe novel dan film (kalau pas dapet kerjaan harus resensi). Namanya menulis ilmiah jelas jauh beda dari curhat diary…fungsi menulis disesuiakan dengan bagian-bagian karya tulis ilmiah itu sendiri.
Kalau di karya ilmiah menulis segala sesuatu jelas harus di dasarkan atas suatu teori atau pendapat para ahli. Orang ngeliatnya sich gampang kaya kopi paste aja….tapi aku khan harus memilih mana di kopi. Kenapa milihnya, buat apa terus jadinya dipenelitian ini  bagaimana. Baru kemudian kita mensintesakan sesuai dengan kegunaan. Bilangnya seorang dosen..parafrase. Parafrase tuh artinya uraian tertulis yang telah dibaca atau didengar dan diungkapkan kembali dengan kalimat sendiri. Maksudnya disesuaiakan dengan kebutuhan dalam penelitian itu. Tulisan yang ada harus bisa membantu si peneliti untuk menjawab rumusan masalah. Hanya semata untuk kepentingan peneliti. Gak boleh subjektif dan harus objektif. Gaya menulisnya juga kaku..
Saluran hobi nulisku terakhir ya di blog. Bukan blog yang ini…satunya lagi. Masih berhubungan dengan kerjaan. Biasanya blog tersebut berisikan mengenai teori atau tips-tips bagaimana menyusun penulisan ilmiah. Blog itu dah dibikin sekitar 3,5 tahun lebih. Dibantu oleh Kang Antok dan suamiku (menyumbang beberapa artikel). Benernya bapaknya anak-anak harusnya jadi pengelola juga Cuma ternyata si bapak satu ini sekarang tak terlalu hobi menulis. Katanya neg harus di depan computer..
Alhamdulillah…lumayan banyak pengunjungnya. Aku sih gak berani membandingkan dengan blog yang lain. Gak PD gitcu..Pada awalnya blog ini tujuan untuk menulis dan sharing tentang tulis menulis ilmiah tapi akhirnya ketambahan dengan fungsi promosi. Lumayan banyak yang minta dibantu dari blog ini. Dari sekian obrolan yang minta dibantu ini kebanyakan mereka tyakin minta dibantu karena membaca tulisan. Kata mereka tulisannya bagus karena membantu mereka mendapatkan ide-ide baru ketika menulis ilmiah. Baru dari situ aku belajar ternyata menulis itu berpengaruh  sekali ke orang ya. Walaupun menurutku tulisan-tulisan blog tersebut masih kalah meyakinkan  dengan presentasi melalui tatap muka.Ha…ha…bukan mukanya mbak, mas, teteh, a’a, bapak, ibu…berbincang-bincangnya nya lho. Mukanya mah biasa saja.
Baru di blog yang ini…setelah tulisan-tulisanku mulai menumpuk dan melirik tajam ke bapaknya anak-anak mulai deh dibantu bikin blog baru. Isinya ya mengenai aku…duniaku. It’s truly me….
Buat kaum blogger atau calon blogger yang kepengen mengembangkan hobi menulis, jangan takut untuk menulis. Menulis itu menyenangkan lo… Gak usah dibandingkan dengan penulis lainnya. Temukan gaya menulismu sendiri. Jangan pula takut salah. It’s secret…seorang pengarang yang menjadikan karyanya sebagai mahakarya juga butuh bantuan. Ada seseorang bahkan bannyak orang berfungsi sebagai editor yang menyaring dan menyaring kembali…sedangkan kita sendiri khan. Jadi tepuk tangan untuk diri kita yang berani menulis dan mempublikasikan dalam blog.
Jadi mari menulis..menulis itu menyenangkan…..

Kamis, 28 April 2011

MAAFKAN IBU YA NAK…….

Maafkan ibu ya Nak  jika ada timbul kesan tak sayang seperti yang dinilaikan orang. Kasih sayang ibu hanya ditujukan untuk siap melepas dirimu. Supaya dirimu tak berkesulitan untuk menghargai. Belajar melihat sisi-sisi lain dari kehidupan. Belajar untuk berempati…dan terutama belajar untuk mengambil setiap keputusan melalui pertimbangan dan terbaik dan kemudian berani menanggung resiko. Belajar untuk melangkah maju setiap kali dirimu menemui kegagalan…belajar bahwa setiap kali belajar maka akan ada seribu hal lagi yang kita harus belajar.
Maafkan ibu jika mungkin tak begitu saja memberikan barang dengan merek tertentu yang mungkin diidamkan oleh seribu anak lain. Ibu hanya tidak mau bila nantinya dirimu makin dewasa  hanya mampu menilai sebuah kesuksesan diukur dengan merek-merek itu. Masih banyak pengukuran kesuksesan yang dapat menjadikan kita berharga. Masih banyak kesuksesan yang kita dapat nilai dari setiap kehidupan seseorang.
Maafkan ibu juga berkesan tak menuruti keinginanmu karena ibu berharap dirmu belajar untuk menghargai sebuah proses.Dengan demikian kesuksesan tidak hanya diukur dengan hasil akhir. Ibu akan menghargai apabila kau melewati proses tersebut dengan segala jerih payahmu. Ibu ingin bila nantinya dirimu belajar bahwa pencapaian harus melewati proses. Proses yang mungkin tak indah namun memberikan nilai berharga. Proses yang pasti akan membuat dirimu akan menjadi seseorang lebih baik.
Maafkan ibu juga bila tidak mengabulkan permintaan yang kamu inginkan. Menggantikannya dengan setumpuk mainan yang kita buat sendiri dari selembar kardus bekas, kertas majalah bekas…potong sendiri…tempel sendiri. Ternyata hancur…bikin lagi…tapi banyak waktu yang akhirnya kita dapat lewatkan. Makin mengenal dirimu…
Maafkan ibu jika suatu saat ketika dirimu ingin sekali melihat konser seorang bintang..tapi tak ibu kabulkan. Maaf ya Nak…masih banyak  sosok lain yang bisa kau teladani…mengilhami kita untuk tetap maju. Kalau memang seorang bintang tersebut kita kagumi karena suaranya…bukankah sudah cukup kita dengarkan saja. Kalau di konser khan justru kita tak dapat menikmati..he..he berisik Nak. Mana macet lagi..
Benar-benar, maafkan ibu ya Nak…anakku jika suatu saat ketika kau harus mandiri. Mencari petualangan..Mempelajari bagaimana kehidupan seharusnya selalu dipenuhi kebermanfaatan...ibu hanya berharap sudah cukup membekali.

A Bucket of List (1)

Once upon a time….alias sak wijine dina, aku dan suamiku nonton film. Ceritanya mengenai dua sahabat yang menghadapi kematian (karena sakit kanker) dengan menolak pasrah dan kemudian membuat daftar harapan. Mulailah dua sahabat tersebut berpetualang melewati berbagai peristiwa dan melewati berbagai Negara sampai ke Tibet. Kalau gak lupa….bintangnya Morgam Freeman dan Jack Nicholson. Jadi gak ada deh penampilan bintang yang ganteng. Semua bintang kadaluwarsa…tapi aktingnya bagus banget. Judul film itu ya “The Bucket List” itu. Recommended untuk ditonton.
A Bucket of List sendiri bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai daftar keinginan..atau juga bisa di bilang daftar harapan. Nyatanya sih, terserah banyaknya harapan mau satu, dua atau se-gayung apa sebaskom, tetep bilangnya se-bucket…he..he...he
 Dalam film itu membuat aku (semoga menjadi kita) menyadari bahwa ternyata kehidupan manusia sekian banyaknya dipenuhi oleh harapan. Setiap detik pasti gak lepas dari harapan, Bahkan dalam doa. Doa yang aku bagiku adalah hubungan paling privasi antara manusia dan Tuhannya tak lain berisikan harapan-harapan. Demikian pula dalam langkah kehidupan berhubungan manusia dengan manusia, kita tak pernah lepas dari harapan itu sendiri.
Perjalanan hidupku sendiri ya gak jauh dari harapan-harapan. Sebagian besar kekuatan dalam menjalani hidup itu juga gak jauh dari harapan...selain anak-anakku tentunya. Harapan juga yang terkadang membuat aku bertahan. Kekuatan yang demikian besar bahkan ketika mungkin banyak orang sudah menyerah. Tapi gak semua harapan tersebut juga aku mampu wujudkan. Contohnya; terakhir ini..pengen banget selesai kuliah lagi. ternyata kepentok ama kerjaan dan urusan rumah (anak-anak sih...klo suami cukup kasih senyuman manis aja..he..he). Pengennya sih biar kuliah lagi, dapet beasiswa ke luar negeri terus bisa bawa anak2 berpetualang keliling dunia....jauh sekali.Ternyata..kondisi fisik gak bisa nipu. Mulai deh bermunculan keluhan dari vertigo yang lumayan parah.. perut mulai kram lagi...serangan asma makin sering terus..... bleg....tepar deh. 
Tapi...aku gak pernah memungkiri bagaimana harapan dapat mempengaruhi kehidupanku....next time ya cerita tentang a bucket of list-nya di-share lagi. Klo di share di satu artikel nanti gak muat. Alahh...kaya komik aja..pake season gitu..:p
Begitu besar kekuatan harapan dalam kehidupan membuat kita terkadang gak nyadar klo dengan harapan membuat kita mampu melakukan sesuatu yang seolah tak tercapai. Harapan-harapan tersebut membuat kita mampu bertahan di saat mungkin orang lain menyerah. Singkatnya, terkadang kekuatan kita mungkin tergantung hanya pada harapan. Ke depan..yang pasti semoga lebih baik.