Pernah mendengar komentar orang tua (atau kita sendiri) kepada anak-anaknya dengan mengucapkan kata-kata…”Anak kok gak pernah sabar. Apa-apa maunya sekarang. Kaya gak ada waktu lain kali aja”…Dalam keseharian komentar ini ternyata sering kita dengarkan (lakukan). Sepertinya anak-anak dan bayi memang punya sifat tak sabaran ya…Minta dibuatkan susu dengan merengek seolah-olah kita yang membuatkan susu kurang cepat ketika menyiapkan. Padahal kita juga gak kalah cepat. Sudah kaya tim buru sergap. Masih saja anak kita merengek. Sama halnya ketika dijanjikan untuk dibelikan mainan atau diajak pergi maka setiap 5 menit anak kita akan bertanya..”Yah..Bu kapan kita berangkat ?” atau malah justru menangis berteriak dan mengucapkan kata ”Harus Sekarang”. Demikian pula ketika anak diajak bepergian..setiap kali kilometer bertambah si anak akan berkata “are we there yet (wis tekan durung yo yah/bu)”. Singkatnya pokoke nggriseni/membuat risih banget….
Tenang Ayah..Ibu..itu bukan berarti anak kita nantinya bersifat kurang sabar. Kenyataannya bahwa bayi dan anak-anak memang belum mengenal konsep sabar. Anak belumlah mengenal bahwa konsep sabar berarti harus menunggu dan ada proses yang harus dilalui. Hal itu secara wajar (natural) akan dilalui oleh setiap anak dalam perkembangannya. Memang kadarnya berbeda antara satu dengan yang lain tapi sifat kurang sabar tersebut memang ada dalam setiap anak.
Sikap kurang sabar ini telah dibuktikan dalam pengujian secara psikologis. Pada tahun 1960-an, Dr Walter Mischel's professor psikologi pemerhati perkembangan anak mengembangkan sebuah eksperimen untuk menguji seberapa besar tingkat kesabaran pada anak-anak. Pada eksperimen tersebut dikumpulkanlah beberapa anak yang berusia sekitar 4 tahun. Mereka diuji dengan diberikan sebuah permen (marshamallow) dan diintruksikan untuk tidak memakan permen tersebut dan menunggu selama 20 menit. Bila mereka berhasil menunggu maka mereka akan diberikan reward. Reward berupa penambahan jumlah permennya.
Eksperimen ini juga sudah dibahas sebagai salah satu materi pengajian di sekolah anakku. Pembicara merupakan dosen psikologi UGM…tapi saya lupa namanya. Hiks….maaf. Dalam materinya disebutkan bahwa hasilnya justru sebagian besar memakan permen tersebut. Berapa besarnya perbandingan antara anak yang memakan dan tidak, sekali lagi saya lupa. Mohon maaf ya…hal ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil saja yang berhasil melewati waktu dan tidak memakan permen tersebut.
Ayah dan bunda dapat melihat rekaman bagaimana pelaksanaan eksperimen tersebut kok!!. Link saja di ke Kids Marshmellow Experiment
Dalam artikel lain disebutkan bahwa sikap anak kurang sabar disebabkan oleh perkembangan otak anak sendiri. Bagian prefrontal otak anak yang menjadi daerah pengaturan pengendalian diri ternyata belum mengalami perkembangan secara maksimal.
Jadi ayah dan bunda tercinta tidak usah khawatir kalau menemui sikap anak tidak sabar. Saya sendiri ketika mendengar materi ini jadi terharu. Membayangkan ternyata selama ini baik Denia dan Qila sudah sangat berusaha untuk bersabar. Menunggu janji saya untuk keesokan harinya atau bahkan bahkan dalam waktu yang lebih lama. Huuah…anakku. Maafkan Ibu ya Nak. Ternyata selama ini Ibu yang kurang sabar. Pelajaran baru ketika pengajian: Terkadang kita sebagai orangtua yang sebenarnya perkembangan pengendalian diri matang justru menunjukkan sikap tidak sabar…..
Terus apakah ketika itu menjadi bagian alami perkembangan anak membuat kita sebagai orangtua kemudian mendiamkan. Jawabannya adalah tidak. Kita sebagai orangtua harus membantu si anak. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa kelak perkembangan kesabaran anak juga sangat berhubungan dengan proses mereka dalam beradaptasi dan kemandirian. Anak yang memiliki kesabaran untuk menunggu saat terlibat eksprimen tersebut menunjukkan bahwa ketika memasuki usia 14 tahun mendapatkan nilai tinggi dalam test kemampuan beradaptasi dan kemandirian.
Sekarang bagaimana peran kita sebagai orangtua untuk membantu si anak melewati fase perkembangan tersebut. Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengenalkan konsep kesabaran pada anak. Salah satunya adalah melibatkan si anak dalam berbagai aktivitas. Misalkan ketika anak meminta dibuatkan susu, perlihatkan proses yang harus dilakukan sambil bercerita apa yang sedang kita lakukan. Dari mengambil botol susu, mengisinya dengan susu kemudian baru menambahkan air. Di akhir proses ketika membuat susu, anda dapat menambahkan pesan sebagai kesimpulan. Kesimpulan tersebut menekankan bahwa kesabaran adalah menunggu proses yang sedang berlangsung. Proses ini dapat dimulai dari sedini mungkin. Untuk anak yang sudah mengenal logika (sebab akibat) proses mengenalkan kesabaran akan lebih mudah.
Boleh juga kalau si anak suatu saat harus mengalami suatu aktivitas baru yang ternyata membutuhkan kesabaran maka kita membantu dengan menjelaskan bagaimana proses tersebut berlangsung dan apa yang harus dihadapi si anak. Harapannya si anak dapat memperkirakan proses apa yang akan dilewati.
Hal lain yang dapat kita lakukan adalah membesarkan hati baik ketika dirinya melewati maupun tidak melewati proses menunggu. Berikan pujian ketika si anak dengan hebatnya telah berhasil menunggu. Sebaliknya motivasi si anak untuk lebih sabar menunggu ketika dirinya belum melewati proses tersebut.
Peran orangtua juga penting dalam menjadi contoh…jangan sampai kejadian seperti yang dialami ayah Denia terulang. Jadi ceritanya ketika ayah sedang naik kendaraan bersama Denia ternyata si Ayah sudah jalan ketika counter lampu merah kurang 1 detik …Tidak diduga Denia dengan polosnya bertanya, “Yah, khan tadi masih lampu merah. Kok kita sudah jalan”. Ups…ayah langsung shock. Akhirnya si ayahnya Denia ini kemudian menjelaskan bahwa tadi kurang satu detik dan pas mulai jalan sudah hijau, namun Ayah juga minta maaf dirinya memang sedang khilaf dan tidak akan mengulangi lagi (Janji ya Yah.!!!). Bagi saya, Mbu dan Ayah; sepertinya tugas menjadi contoh ternyata tugas paling berat.
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar