Selasa, 24 Mei 2011

MIRIP SIAPA YA….

Bagi  orang tua yang pernah atau saat ini memiliki anak dengan usia antara 3-7 tahun mungkin akan menyadari banyak tingkah anak-anak yang dimulai dengan meniru. Kita sering tertawa-tawa melihat bagaimana si anak ini dapat menirukan dengan baik tingkah laku orang yang ada di sekitarnya. Atau justru terkaget-kaget keheranan sambil berkata “Waduh kok yang itu ditiru juga”.

Nah cerita sama terjadi di rumah kami. Seiring dengan tumbuh kembangnya, dua anak saya menjadi pengcopi tingkah laku orang di sekitarnya dengan baik. Bahkan untuk si adik, Qila juga sudah sudah menirukan tingkah laku kami.  Tentu saja mereka menirukan kebiasaan-kebiasaan kami dengan cara sendiri.
Jadi suatu saat Denia diminta si Ayah untuk mandi dan segera melepas bajunya sendiri. Saya sendiri waktu itu sedang menyiapkan adiknya. Setelah sekian lama, Denia tetap aja gulang-guling di atas tempat tidur. Melihat Si Denia gak segera bangun maka si Ayah mendatangi sambil berkata: “Mbak Denia, ayuh to Nak. Ini dah siang lo. Dari tadi sudah dibangunkan kok masih gulang-gulung aja.”  Mau tahu jawabannya Denia: “ Yah..yah wong gak mau bangun kok dipaksain to yah..yah”. Lah kok begitu yang jawab…kami langsung shock dengernya. Nih anak niru dari siapa ya….Akhirnya setelah sekian lama kami menyadari bahwa ternyata Denia ini meniru kebiasaan saya saat sedang gak enak badan atau gak nafsu makan. Saya sering mengalami gangguan pencernaan jadi tidak bernafsu makan tapi karena si Ayah model yang berpedoman obat terbaik adalah makan, meskipun sait tetep saja dipaksa untuk makan. Saya menolak dengan ucapan yang sama ketika Denia tadi menolak untuk mandi. Waduh…nih anak makin pinter…bisa aja yang niru.

Saat yang lain pernah lo kami sampai ditegur oleh gurunya Denia. Waktu itu Denia sedang maen di rumah si ibu guru tersebut.  Guru Denia  yang satu ini memang deket dengan keluarga kami. Bahkan sudah dianggap seperti mbah putri. Jadi beliau sendiri tanpa sungkan-sungkan sering menanyakan mengenai perkembangan dua putri kami sekaligus memberikan saran.  Saat maen di rumah gurunya ini, Denia ceritanya diminta (lagi) untuk mandi. Saat itu Denia langsung menjawab; “Astagfirullah.” Tapi dengan ekpresi menaik gitu. Sekali lagi kasus diusut dan ternyata muncul dari kebiasaan yang tanpa sadar kami lakukan. He…he astagfirullah khan doa untuk meminta ampunan. Seperti doa lainnya khan seharusnya di ucapkan dengan kerendahan hati sebagai umat. Namun karena kami sering mengucapkan bersamaan dengan waktu emosi mulai meninggi. Jadi suara kami ikut meninggi satu oktaf. Aduh…aduh malunya kami. Maaf ya Nak…ayah dan mbu masih perlu belajar lebih keras lagi supaya menjadi contoh yang baik.

Dik Qila juga sudah mulai menunjukkan perilaku meniru yang sama namun lebih banyak mulai terarah. Mungkin karena kami sudah menemukan pola yang lebih baik daripada saat mengasuh Denia. He..he nasibnya Mbak Denia jadi anak pertama masih jadi korban percobaan. Dik Qila  mulai menirukan kebiasaan saya ketika menyiapkan diri ketika akan bepergian bersama. Iya Dik Qila mencari sendiri kain gendongan, botol susu dan merangkak ke depan rumah sambil menyeret tas (dik Qila sekarang belum bisa jalan baru bisa merangkak). Menirukan menggunakan sandal atau sepatu yang meskipun kebesaran tetap saja dipakai sambil diseret-seret.

Sebenarnya, sifat meniru dalam tumbuh kembangnya anak telah kami sadari. oleh karenanya terkadang kami dengan sengaja memberikan contoh, misalkan untuk menunjukkan ekspresi kasih sayang dengan mengelus kepala dan mencium pipi. Atau saat kami menunjukkan sopan-santun ketika menerima tamu.

Dari kejadian-kejadian itu kami sadar harus lebih banyak lagi mengkontrol perilaku supaya si anak mendapatkan contoh yang baik. Kami juga harus menyadari bahwa perubahan perilaku tersebut dilakukan karena memang harus dirubah (tidak baik dilakukan). Supaya tidak hanya  terkesan jaim tapi memang saatnya kami harus berubah dan dapat menjaga niat secara konsisten. Ya itu…gak mau jadi orang tua yang bisanya melarang ini itu tapi sendirinya gak mampu merubah. Biar bisa menjadi contoh…amien.


Tapi ternyata masih ada residu perilaku kurang baik yang tersampaikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar