Kamis, 01 Juni 2017

Menerapkan Literasi Keuangan

Setelah tulisan mengenal apa itu literasi keuangan yang saya posting kemaren, maka mari kita mengenal langkah-langkah penerapan literasi keuangan. Seperti yang saya tulis, ada tiga langkah dalam menerapkan perencanaan, pengalokasian dan evaluasi. Masing-masing langkah dilakukan secara berurutan

Prinsip Literasi Keuangan
a.   Pedoman pengelolaan mengikuti hitungan sebagai berikut: 
         Pendapatan=Konsumsi (50%) + Tabungan (15%)+Investasi/Utang (35%)
     dalam rumus lain unsur sedekah sehingga hitungan yang dapat dipakai adalah: 
         Pendapatan=Konsumsi (50%) + Tabungan (15%)+Investasi/Utang (25%) +Sedekah (10%). 
       *khusus untuk sedekah bisa menyesuaikan asalkan hasil akhir harus menjadi 100%. 
b. Prinsip Bedakan Butuh dan Ingin
*Butuh adalah makan, ingin adalah makan di restoran populer.
*Butuh adalah berpakaian secara rapih dan layak pakai, ingin adalah memakai pakaian dengan merek tertentu
c.    Kendalikan keinginan
d   Kembangkan pengetahuan pengelolaan keuangan dengan menyerap informasi dari berbagai sumber.

Langkah Penerapan Literasi Keuangan
1.  Perencanaan 
             Langkah pertama dari perencanaan dimulai dengan pencatatan keuangan. Tujuan dari langkah ini adalah mengetahui pos-pos, baik pada pengeluaran dan pendapatan.
    Dengan melakukan pencatatan maka kita akan mengetahui seluruh pos-pos yang ada dalam pendapatan dan penghasilan serta pengeluaran. Selain itu, dengan mengetahui pos-pos tersebut kita bisa melakukan pengontrolan. disesuiakan saja dengan kebutuhan, kalau memang berlebihan maka bisa disesuaikan dan menambah ke pos lain. 
a.       Mencatat baik seluruh pengeluaran maupun pendapatan (tetap dan tidak tetap). Dilakukan secara bertahap dari setiap hari kemudian dikumpulkan pencatatan satu bulan.
Tabel Pencatatan Pengeluaran Konsumsi   
Hari/Tanggal
Pengeluaran
Besar
1 Januari 2017
Beli minyak


Beli beras

2 Januari
Beli gula


Beli sayur


Rokok


Sabun


Total


TIPS 1
a.       Konsisten dan disiplin dalam mencatat pengeluaran dan pendapatan.
b.    Jangan lupa mengumpulkan segala struk belanja. Simpan di dompet atau tas penting tidak lupa dan mudah ketika memerlukannya.
c.       Catat segera selepas mengeluarkan kas setiap hari
d.  Kerjasama dengan pasangan agar saling mau berbagi informasi mencatat pengeluaran/ pemasukannya (bagi yang sudah memiliki pasangan). dengan demikian informasi sedetil apapun tidak akan terlewat.
Tabel  Pencatatan Pendapatan
Hari/Tanggal
Pendapatan
Besar
1 Januari 2017
Gaji Suami
200.000
15 Januari
Upah Lem Tas Kertas
20.000
22 Januari 2017
Upah Lem Tas Kertas
20.000
29 Januari 2017
Upah Lem Tas Kertas
20.000

Total
260.000

b.      Mencatat utang.
 utang dalam rumah tangga dibagi menjadi dua yaitu utang konsumtif dan utang produktif. 
Tabel  Pencatatan Pembayaran Utang
Hari/Tanggal
Pendapatan
Besar
1 Januari 2017
Bayar cicilan motor 
10.000
17 Januari 2017
Bayar utang belanja
20.000


20.000


20.000

Total
260.000

c.       Membuat rekap antara pendapatan, pengeluaran dan utang
Tabel 3 Rekap Pencatatan Pengeluaran Dan Pendapatan (satu bulan)
Tanggal
Keterangan
Pendapatan
Pengeluaran
Saldo

Gaji
300.000

300.000

Arisan
  50.000

350.000

Konsumsi

230.000
120.000

Bayar Utang

100.000
   20.000






d.      Mencatat asset yang dimiliki (jika ada). Misal rumah, tanah, kendaraan, dan perhiasan emas.

2.    Pengalokasian
Tujuan pengalokasian adalah melaksanakan pos-pos yang sudah direncanakan sebelumnya. 
a. Pengalokasian rencana pengeluaran. perhatikan proporsi antara pendapatan dengan pengeluaran dan utang. Untuk konsumsi maksimal 50% sedangkan utang maksimal sebesar 35% sedangkan 15% untuk tabungan.
b.      Jika ditemui adanya pos konsumsi atau/dan utang yang terlalu besar melebihi proporsi di atas maka dilakukan penekanan pada pos tersebut.
Ingat prinsip bedakan antara keinginan dan kebutuhan.
c.       Prioritaskan membayar hutang tetapi dalam proporsi maksimal 35% dari seluruh pendapatan. Jangan mengambil hutang bertumpuk. Apalagi hutang yang dibayar dengan hutang.
Kemudian tetap melakukan menyisihkan dana tabungan jika masih ada selisih.
d.  Jika hutang produktif maka dilakukan perhitungan dengan cermat apakah memberikan penambahan kebermanfaatan baik dalam bentuk finansial maupun non finansial (finansial umumnya dikaitkan dengan adanya tambahan pendapatan). Demikian pula jika hutang konsumsi tetap harus melewati perhitungan cermat.
e.       Pada kondisi jika hutang lebih dari 35% lakukan penjualan asset.
f.     Dalam hal tertentu tabungan bisa digunakan untuk membayar kebutuhan besar yang akan dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu. Misalkan pembayaran uang sekolah dalam satu semester (6) bulan sebesar 600.000 maka disisihkan setiap bulan sebesar 100.000 dan nantinya dicatat sebagai pengeluaran
g.    Jika utang sudah lunas dan tabungan sudah melebihi 15-20% maka alokasi utang dirubah ke investasi
Pengertian investasi adalah aktivitas penanaman modal yang uangnya tidak dapat dicairkan sewaktu-waktu.
h.      Lakukan perubahan perencanaan secara periodik. Tujuannya untuk mengikuti perubahan kondisi keuangan yang di hadapi. Menentukan tujuan keuangan (jangka pendek, menengah maupun panjang).

Investasi adalah aktivitas penanaman modal yang uangnya tidak dapat dicairkan sewaktu-waktu. Hal ini membedakan dengan tabungan yang sewaktu-waktu dapat dicairkan
 



   


3.    Evaluasi
Mengevaluasi keuangan rumah tangga dengan melihat pertumbuhan mana yang paling tinggi. Apakah tabungan dan investasi; konsumsi atau hutang yang lebih banyak. Jika hutang atau konsumsi lebih besar pertumbuhan dari periode sebelumnya maka perlu dilakukan penilaian ulang terhadap perencaanaan dan pengalokasian yang sudah dilakukan (lakukan penekanan pos tersebut)



BERKENALAN DENGAN LITERASI KEUANGAN


Awal mulanya saya berkenalan dengan literasi keuangan karena ngẻngẻr di salah satu penelitian. Dari situlah kemudian saya sangat tertarik karena rasanya tema ini pas banget dengan kondisi keuangan keluarga yang dihadapi. Sebagai emak-emak pengatur keuangan keluarga ini menjadi tantangan. Belum lagi, liat teman-teman yang berpengalaman terbelit kartu kredit sampai harus menghancurkan rumah tangga. Kok sepertinya inilah problem keuangan yang dihadapi masyarakat saat sekarang. Berapapun pendapatan dan penghasilan yang sudah bertambah tapi masih berasa kurang. Akhirnya hutang makin banyak aja. Sebagian besar ternyata salah prinsip dalam pengelolan yaitu mengejar pada keinginan bukan kebutuhan. 
kalau melihat lebih luas, manajemen keuangan pada akademis lebih banyak terpusat pada pengaturan keuangan perusahaan dan keuangan negara. kenyataannya bahwa individu juga membutuhkan manajemen keuangan. Untuk membangun perilaku yang baik seharusnya dapat dimulai dari tingkatan individu baru bergerak ke tingkat yang lebih luas. kayaknya selama ini konsep tersebut mendapatkan perhatian secara khusus walaupun sudah ada OJK namun masih kurang. 
Akhirnya pada salah satu bagian dari tugas akhir kuliah yang saya kerjakan menetapkan hati untuk melakukan penelitian mengenai literasi keuangan dan minat produk investasi di salah satu wilayah di Yogya. Inilah sebagian ilmu mengenai literasi keuangan yang saya pelajari. Saya bagikan bukan merasa paling bisa tapi mari kita saling berbagi ilmu.
Apa itu literasi keuangan? Menurut Lusardi dan Mitchell (2010) mendefinisikan literasi keuangan sebagai pengetahuan keuangan dan kemampuan untuk mengaplikasikannya (knowledge and ability). Menurut Hung (2009), menyebutkan bahwa literasi keuangan adalah kemampuan untuk menggunakan pengetahuan serta keahlian untuk mengelola sumber daya keuangan untuk mencapai kesejahteraan.
Intinya literasi keuangan adalah kemampuan seseorang dalam mengatur keuangan yang dimilikinya. Kenyataannya, kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan namun berkaitan pula dengan kesediaan untuk menerapkan pengetahuan pengelolaan keuangan. Jadi tidak bisa dipisahkan dari kondisi psikografis dan demografis yang dimiliki seseorang tersebut.
Siapa yang membutuhkan literasi keuangan? Siapapun, selama orang tersebut menggunakan uang maka orang tersebut membutuhkan literasi keuangan.  Jadi tidak ada batasan latar belakang yang membuat seseorang tidak membutuhkan literasi keuangan. Baik itu jomblowan/jomblowati atau mereka yang sudah berumah tangga semua membutuhkan. Kemampuan pengelolaan keuangan tersebut seharusnya menjadi pendidikan dasar yang dimiliki sehingga ketika seseorang sudah memiliki pendapatan maka seharusnya sudah memiliki kecakapan dalam pengelolaan.
Mengapa semua orang membutuhkan literasi keuangan? Karena tujuan dari literasi keuangan adalah memberikan kesehjateraan secara finansial. Kesehjateraan finansial bukan tujuan utama dalam kehidupan, tapi penting diperhatikan. Semua pendapatan dan penghasilan harus dikelola dengan baik supaya menghindarkan dari pemborosan.
Dengan menerapkan literasi keuangan akan membantu kita membuat prioritas-prioritas finansial yang bisa dan mampu dicapai dalam kurun waktu berjalan. Seiring dengan perjalanan hidup, invidu tentu memiliki berbagai kebutuhan yang berbeda. Melalui penerapan literasi keuangan maka akan membantu kita memfokuskan pada kebutuhan mana yang paling penting dan dapat terpenuhi dengan sumber daya finansial yang diperoleh. 
Bagaimana langkah dalam menerapkan literasi keuangan? Langkah pertama dalam literasi keuangan adalah perencanaan, diikuti dengan langkah kedua adalah pengalokasian dan langkah terakhir yaitu ketiga adalah evaluasi. Masing-masing langkah tersebut memiliki tujuan sendiri. Masing-masing langkah memiliki penerapan yang berbeda.

Pada tulisan yang berikutnya, saya akan menyertakan berbagai penerapan dari langkah-langkah literasi keuangan akan saya posting dalam tulisan selanjutnya. 

Lusardi dan Mitchell, 2010, Financial Literacy: An Essential Tool for Informed Consumer Choice? American Economic Review–Paper and Proceedings, 98, 413–417..
Hung, 2009, Defining and Measuring Financial Literacy, RAND Roybal Center for Financial Decision Making, WR-708 September 2009
Ghazali, Ezlika and Md. Nor Othman, 2004, Demographic and Psychographic Profile of Active and Passive Investors of KLSE: A Discriminant Analysis, Asia Pacific Management Review 9:391-413 · January 2004
Agarwala et al, 2012, Financial Counseling, Financial Literacy, and Household Decision Making, Pension Research Council WP 2010-34

Senin, 15 Mei 2017

FENOMENA MIRROR..MIRROR ON THE WALL


Cerita yang saya akan tulis ini sebenarnya telah lama saya amati. Namun karena saya bukan seseorang yang mendalami ilmu psikologi tentunya saya tidak berani mengambil pendapat. Jadilah saya mencuri ilmu dari seorang kawan. Kenapa psikologi?? Karena tulisan saya mengangkat perilaku seseorang yang banyak dilakukan (kalau anda jeli mengamati bahkan jumlahnya tidak sedikit), bahkan wajar dimaklumi namun sebenarnya mendatangkan kerugian bagi dirinya, orang di sekitar dan di masyarakat secara keseluruhan.

Saya punya kenalan sebut saja namanya A (akronim dari Ada deh Menyembunyikan merek..hehehhe..). Perempuan yang usianya sebenarnya sudah tidak lagi remaja. Bahkan sudah menikah bahkan lebih dari satu kali. Memiliki anak baik dari pernikahan pertama maupun kedua. Penampilannya luar biasa..merawat tubuh dan berdandan. wajahnya sehari-hari tidak terlepas dari bedak dan pelengkapnya. Gak lupa juga untuk kostum sehari-hari dari baju, sepatu atau sandal, tas semua harus modis. Semuanya harus ada untuk mendukung penampilannya. Tentunya semua ini butuh perjuangan, makanya saya amati hampir seluruh aktivitas sehari-hari dijalankan untuk mendukung penampilan prima.
Untuk sebagian dari aktivitas lainnya ya digunakan untuk social climber. Baik online maupun offline. Ini sebenarnya juga pengaruh dari berpenampilan prima. Mengarah ke pertunjukkan.. buat apa punya penampilan prima kalau tidak untuk dipertunjukkan. Hasilnya ya itu, social climber di kelompok-kelompok sosial yang yang sebenarnya bukan untuk menjalin persamaan tapi ke perbedaan. Segala macam yang trend harus segera di ikuti. Semua percakapan di media sosial harus dipantau. Notifikasi dari medsos berbunyi layaknya jam detik. Gak ada berhentinya
Permasalahan timbul ketika si A tidak mampu menjalankan perannya menjadi seorang ibu dan istri. Apalagi saya tahu suami dengan penghasilan saat ini agak kesulitan dalam memenuhi keinginan dalam merawat, berdandan serta menjadi social climber. Keinginan semacam ini telah menjadi semacam “candu” dimana si A kemudian tidak mampu lagi mengkontrol diri sendiri. Dalam hal tertentu, saya cenderung melihat si A bahkan tidak mampu menilai kemampuan diri sendiri. Apalagi menilai posisinya secara tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial di masyarakat. Jangan tanya ya, mengenai menjalankan kewajiban ya. Kalau menilai dirinya secara objektif saja tidak mampu. Apapun tuntutan yang muncul untuk menjalankan tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial di masyarakat di tutup dengan yang penting bisa berpenampilan prima. Untuk usia yang tidak lagi remaja dan bahkan telah menjalani pernikahan yang bukan pertamakali, si A tidak belajar akan bagaimana menjalankan kewajibannya. Seolah-olah waktu yang berjalan telah berhenti dengan keinginan berpenampilan prima.  
Parahnya dalam runutan waktu, si A bahkan mengacuhkan kenyataan akan posisinya yang diembannya saat ini. Untuk pengakuan bahwa dirinya yang paling memiliki penampilan pria, si A tanpa sadar menabrak etika moral. Si A merasa pengakuan akan penampilan prima yang selama ini dimiliki tidaklah cukup dari suami. Mulailah kebutuhan pengakuan beralih ke pemujaan. Inilah yang kemudian menjadi penyebab kegagalan pernikahan pertama. Dan kalau tidak segera di atasi, jelas berpotensi menjadi penyebab kegagalan pernikahan saat ini.
Fenomenanya serupa dengan ibu tiri dalam cerita Putri Salju. Menghadap kaca, meminta pengakuan. Sampai seorang pun tidak boleh lebih berpenampilan prima dibandingkan dirinya dan bersedia melakukan cara apapun. Seluruh orang yang berada di sekitarnya diminta untuk memuja. “Mirror..mirror in the wall. who's the fairest of them all?"
Apakah anda pernah mengamati kondisi seseorang di sekitar anda yang mengalami kejadian serupa dengan si A. Coba bantulah mereka dengan menyadarkan orang-orang di sekitarnya bahwa kondisi Si A semacam ini membutuhkan bantuan. Bukan sesuatu yang wajar dan harus dimaklumi. Kasihanilah si A. Berikan bantuan dengan tepat agar dapat mengingatkan dan mengembalikan ke realitas, agar orang si A mampu mengemban tanggung jawab yang dimiliki. Tentu saja untuk mendapatkan cara yang tepat, harus berkonsultasi dengan orang yang berkemampuan. Selain itu, alihkan kecanduan akan penampilan prima dengan berbagai kegiatan dengan tujuan mengaktualisasikan diri dengan cara yang lebih bermanfaat.

Epley N1, Whitchurch E,  Mirror, mirror on the wall: enhancement in self-recognition, Pers Soc Psychol Bull. 2008 Sep;34(9):1159-70.


Minggu, 30 Oktober 2016

BIRD SINGING CONTEST



ini bukan cerita mengenai lomba burung bernyanyi..bukan. ini cerita pengalaman saya (atau bahkan jenengan2) ketemu orang yang kesannya kalau apa-apa dibuat ajang persaingan. Pokoknya gak pernah mau kalah...pasti pernah atau jangan-jangan sering.
ini contoh aja, saya punya kenalan yang kalau ngomong apapun mengenai barang pasti berujung pengakuan kalau merek barang yang dia pilih adalah terbaik. Gak ada tanding. dari HP sampe setrika. Sampe suatu cerita dari cerita foto agak blur aja jadi berujung kalau kualitas kamera HP punyanya (harus) paling bagus. Jadi kalau ada dia pasti gak bakal blur deh tuh fotonya…berhubung dia sedang banyak acara dan gak bisa hadir jadi ya wajar kalau temennya menikmati fotonya blur.
Terus ada lagi. Kalau yang ini saudara. Di suatu ajang perkumpulan, berceritalah saudara. ini mengenai acara pernikahannya. Berkicaulah saudara.  mengenai acara mulai dari hidangan sampe dekorasi pokoknya paling jos. Bayangin aja gimana gak wah…cerita kalau hidangannya pake nasi ada tujuh macam.. Acara yang katanya lauk dari masakan barat sampai antartika (es batu maksudnya) dihidangkan. Acara nikah anak presiden aja kalah…Nah saya yang tahu sebenarnya sangat menyayangkan. Karena cara saudara bercerita akhirnya berkesan menihilkan peran orang-orang di sekitarnya yang sebenarnya lebih bekerja keras berkontribusi dalam acara itu….. peran orang lain yang sebenarnya lebih besar dari dirinya. Berkesan tidak bersyukur pula. Apa sih yang kurang dari acara itu sampe harus dipoles sedemikian heboh ??
Ada lagi nih…. teman ceritanya menempuh pendidikan pilot di Afrika Selatan. Pendidikannya ini sebagai senjata tebar pesona. Oke lah…hak dia ya. Apalagi calon pilot memang memikat ya. Tapi ini lo ada yang janggal. Ada ketidakkonsistenan cerita yang membuat saya curiga. Ketika saya menanyakan lebih lanjut sekarang sudah dapat sertifikasi keahlian apa. Karena setahu saya pendidikan pilot itu nantinya punya beberapa sertifikasi keahlian. Tapi jawabannya antah berantah. Dasarnya saya ini memang kepo, saya tanya lagi kenapa ambil di Afrika...kenapa gak ambil di Filipina. Lagi-lagi jawabannya antah berantah. Oke..ambil kesimpulan sendiri aja deh.
ya itu orang-orang seperti yang saya ceritakan di atas seperti burung bernyanyi yang dikonteskan. sini berkicau sana berkicau lebih rame. sini berkicau lagi sana lagi...lagi lebih rame. koyo manuk kontes. ra rampung2. padahal ya sebenarnya apa to..gak semua perlu dijadikan ajang persaingan.

Mau apa sih sampai apa-apa dikonteskan..tokh sebenarnya orang di sekitarnya sudah jengah dengan kicauan2 burung penyanyi ini. Lama-lama orang pasti tahu kondisi sebenarnya. Karena apa, ceritanya pasti tidak logis dan tidak konsisten. Akhirnya justru tidak dipercaya dan merugikan diri sendiri khan. Kontestan burung berkicau ini juga gak pernah sadar bahwa dirinya menyakiti orang-orang yang di sekitarnya. Kebiasaan kontestan untuk konsisten mengunggulkan dirinya pada akhirnya merendahkan orang-orang di sekitarnya. 
Saya ini yo kadang-kadang iseng kalau pas menghadapi kontestan seperti inih. Beri aja kroto (telur semut yang memang diperuntukkan meningkatkan kualitas kicauan burung"....kasih saja pujian, kesan percaya . Dengarkan saja. Nanti pasti ada titik ketidakkonsistenan yang muncul dari ceritanya. Terus lama-lama  dia jenuh sendiri atau mentok mau berkicau apa. Akhirnya nanti saya akan berkata "hebat ya"...biasanya si kontestan kapok sendiri. Ya kadang-kadang pake malu kalau yang masih punya. Mau coba ikut-ikut keisengan saya....boleh. asal sabar dan ndableg aja. 
Sebenarnya sudah sifat natural seseorang untuk berkompetisi, bersaing. Namun harus dipahami bahwa kompetisi sebenarnya bukan di konteskan dalam kicauan. Persaingan dapat menjadi sumber motivasi/dorongan. Diiringi dengan kesadaran diri bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bersainglah dengan kekuatan sendiri. Ini menjadi persaingan sehat. Kalau sebatas masih dalam kicauan maka seseorang hanya mampu menciptakan ilusi bukan suatu kenyataan. Tidak ada pula proses menilai sendiri dengan objektif. Akhirnya memutuskan realitas. Padahal orang ini sebenarnya tidak mampu bersaing di satu hal namun memiliki kemampuan bersaing di hal lainnya.

Rabu, 20 April 2016

CERITA EYANG DI HARI KARTINI

Sepertinya kalau bulan April sudah menjadi tradisi banget ya, menjelang perayaan Kartini maka Ibu-Ibu yang ribet dengan persiapan baju daerah. Kadang buat diri sendiri. Kadang putra-putrinya. Kemudian diikuti dengan perayaan dengan menggunakan berbagai kostum baju daerah dan acara-acara seremonial.  Ada acara pawai, ada acara lomba berbagai kegiatan kewanitaan.

Tapi kalau saya, setiap peringatan Kartini beda lagi. Entah kenapa pasti keinget cerita Eyang. Eyang lahir kalau ndak salah akhir periode 1920an. Jadi Eyang besar pada tahun sesudah periode Kartini. Meskipun lahir dan besar setelah masa Kartini, namun Eyang merasakan betul bagaimana semangat Kartini merubah kehidupan perempuan saat itu. Masa transisi di mana perempuan dengan tradisi pingit masih berlangsung namun sebagian perempuan lain mulai diperbolehkan mengeyam sekolah (terutama sekolah keputrian).
Eyang bercerita bagaimana ibunda Eyang (Eyang buyut saya) yang tinggal di keputren harus “laku ndodok” hanya untuk menghadap suaminya. Entah hanya untuk menyampaikan kebutuhan atau menerima uang belanja. Tidak ada diskusi mengenai masalah perkembangan anak. Anak hanya urusan perempuan dan kalau anak laki-laki maka pada usia tertentu menjadi ursan sang suami. Gak ada tuh pakai acara duduk berdua di sore hari sambil minum teh. Apalagi jalan bergandengan berdua. Ndak ada sama sekali....kejadian luar biasa untuk bisa duduk berdampingan. Tanya kenapa? Sudah jadi tradisi bagi perempuan di lingkungan Eyang untuk melakukan tradisi itu dan kaum perempuan saat itu hanya meneruskan saja. Berbeda sekali dengan masa sekarang ya...dimana komunikasi keluarga berlangsung terbuka (dan memang harus terbuka), dimana kesejajaran istri dan suami menjadi diskusi. Bukan hanya berlangsung satu arah. Bagi yang pernah mendengarkan cerita semacam ini, menjadi luar biasa untuk dapat menikmati komunikasi suami istri yang dijalankan pada masa sekarang. Saya gak kebayang...harus jalan ndodok untuk bilang “ayahanda ini ada bbm dari klien. Mengingatkan deadline akhir bulan agar diselesaikan. Monggo saya sudah menyelesaikan proposalnya dan nanti ayahnda menyelesaikan pada bagian pengolahan data” atau “ayahnda mohon bantuan memasangkan tabung gas, berhubung gas sudah habis dan saya sedang memasakkan rendang kesukaan ayahnda”...oh No. Bukan saya banget deh.
Jadi aspirasi Kartini diantaranya membuka halangan dalam komunikasi keluarga sehingga istri disejajarkan dalam memberikan pendapat. Istri tidak hanya sebagai kaum pelaksana pekerjaan rumah tangga, semacam meletakkan buruh di bawah mandor. Pokoke...pokoke kudu rampung lo. Aishhhh.....
Nah, sekarang tolong ya bagi para Ibu-Ibu dihargai bagaimana cara berkomunikasi dengan suami. Dinikmati dengan syahdu bagaimana kebebasan duduk nge-Teh atau bergandengan dengan mesra di jaman sekarang. Disadari wahai para isri bahwa sebenarnya kelembutan perempuan itu senjata terbaik menghadapi suami , *****Ting. Begitu pula para suami yang harus bertemu dengan para istri tanpa harus melewati laku ndodok itu.....wis kebelet nunggu laku ndodok yang luar biasa lama itu bisa bikin buyar. Karenanya pada masa sekarang tolong juga dihargai, wahai para suami. Bahwa bisa  duduk berdua bisa mendengarkan  suara istri yang bisa dinikmati kapan saja itu sebenarnya kenikmatan. Nek rodo kmresek suaranya yo ndengerinnya sambil nginget jaman dlu bisa pegangan tangan pertama kali. Saling bisa berlaku lembut khan lebih mantep to.

Nah selain cerita Eyang di atas maka ada lagi cerita Eyang yang juga menginspirasi saya sampai sekarang. Kesediaan untuk belajar dan bersekolah. Jadi  pada masa Eyang, pendidikan adalah jasa langka dan mahal. Hanya dinikmati oleh segelintir kaum. Dibatasi tidak hanya oleh golongan ningrat dan priyayi namun diantara mereka sendiri masih berpikir bahwa dunia perempuan katut bapak dan kemudian katut suami. Eyang yang menempuh pendidikan sekolah keputrian dan selanjutnya sekolah keguruan....sempat mengalami tentangan baik dari Eyang Buyut Kakung maupun Eyang Buyut Putri. Tapi kok ya waktu itu, Eyang ngotot sekolah. Apalagi masa itu diperparah dengan masuknya Jepang. Eyang sekolah di CorJesu Malang. Memang sih, dibandingkan dengan saudara Eyang lainnya maka hanya Eyang putri saja anak perempuan yang bersekolah dan menjadi guru. Bahkan selanjutnya Eyang bisa menunjukkan antara karir (bahkan menjadi penilik TK dan SD se kecamatan saat itu) dan kehidupan rumah tangga bisa berdampingan. Demikian seterusnya, anak Eyang yang berjumlah 5 dan satu diantaranya adalah perempuan semuanya bisa sekolah sampai tingkatan Universitas (kebetulan semua menempuh pendidikan Teknik).
 Kata Eyang;  perempuan yang bersekolah bisa menggali potensi dirinya yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, tapi juga untuk keluarga dan kalau bisa bahkan sampai tingkatan masyarakat. Memang kenyataannya, perempuan membutuhkan input untuk menyiapkan anak-anak mereka dalam pendidikan agar selalu dapat berkembang pada masanya. Misalkan saja kalau jaman sekarang adalah jaman internet, ya Ibu harus siap menggunakan internet supaya bisa memberikan cara bagaimana menggunakan internet sehat pada anak. Contoh lain, perempuan membutuhkan sekolah formal dan kemampuan belajar yang terus berkembang supaya mampu menginsipirasi anaknya untuk mampu belajar terus menerus. Makluk yang tidak mampu belajar sebenarnya makluk yang menutup dirinya dari perkembangan lingkungan. Dan, tahukah anda bahwa Kartini tidak hanya mengajarkan baca tulis tapi juga membatik dan ketrampilan perempuan lainnya. Karena Kartini tidak mengesampingkan bahwa kemampuan belajar hanya pendidikan formal namun Kartini justru membuka berbagai jenis ketrampilan apapun wajib dipelajari.  
Kalau saya, penerjemahan sekolah tidak hanya dilakukan secara formal namun dapat dilakukan secara informal. Kemampuan belajar tidak hanya menyangkut akademis namun juga harus dikembangkan dalam kemampuan ketrampilan sehari2. Masak, menjahit, berkebun, mendidik anak. Ketrampilan sehari-hari yang saya sebutkan sebenarnya bukan bagian dari insting yang muncul begitu saja tapi ketrampilan yang harus dipelajari. Prinsip “mengko lak iso dewe” pada masa sekarang jelas sudah tidak bisa diteruskan.
Sekarang bagi saya sendiri, inspirasi ini mendorong untuk terus sekolah meski tertatih-tatih karena kondisi tidak mendukung ya tetap dilakoni. Ada orang yang ngomong “kenapa di usia hampir 40 tahun masih mengejar sekolah.” La memang dikasih kesempatannya sekarang kok. Masih untung saya mau usaha tetap sekolah saat dikasih kesempatan saat sekarang. Nek mandeg, apa saya ndak menolak rejeki.

Melalui cerita Eyang, saya menjadi paham mengapa Kartini menjadi inspirasi bagi perempuan masa itu. Visi ke depan Kartini adalah mengenai bagaimana menggerakkan pikiran perempuan masa itu yang masih terbelenggu tradisi sehingga perlu ditingkatkannya kesadaran bahwa perempuan memiliki posisi penting dan unik. Dikembangkannya kemampuannya perempuan untuk terus belajar dapat merubah dimensi kehidupan generasi seterusnya. Bahkan kesadaran ini masih relevan hingga masa sekarang sampai pada generasi kita dan seterusnya pada anak cucu kita. Itulah Kartini yang mampu menjadi perempuan yang menentang arus. Berdiri diantara cercaan dan tentangan tradisi. Dimana tidak semua orang bahkan tahan. Kadang hanya untuk mendengarkan kritikan yang bisa jadi membangun saja mampu membuat kita masih uring-uringan...apalagi mampu meneguhkan hati untuk mengetahui apa yang seharusnya dan meneruskan dalam berbagai pertentangan
Generasi kita ini yang telah menikmati berbagai kemudahan hasil dari inspirasi itu kadang lupa, bahwa kemudahan itu bukan hasil dari proses yang mudah. Menjadi terlena dan kemudian mandeg. Bukan pula logika biner ketika perempuan yang memiliki karir maka tidak mampu menjadi ibu yang berperan maksimal dalam mendidik anaknya. Itu bukan pertanyaan yang hanya bisa di jawab Yes or No. Ada kata maybe, if, must dan lain-lain. Tokh kesempatan bekerja di masa sekarang membuka peluang tak perlu meninggalkan rumah. Tapi kalau sekiranya memang harus memilih salah satu maka pilihlah dengan bangga. Semuanya sudah melewati pertimbangan masak dan semuanya memang untuk yang terbaik untuk anda dan ana-anak.

 Semoga di hari Kartini, kita bisa terbangun membawa inspirasi Kartini ke generasi selanjutnya. Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia. 

Senin, 05 Oktober 2015

Pengalaman Pergi ke Psikolog

Ini cerita pengalaman ayah dan mbu beberapa kali berkonsultasi dengan psikolog anak. Sekedar berbagi. 

Pengalaman pertama kali berkenalan dengan psikolog adalah ketika mbak D menjadi salah satu subjek obsevasi perkembangan anak. Mbak D punya kekurangan dalam motoris halus dan kemudian diberikan perlakuan taktil play.  Hasil evaluasi menunjukkan adanya pengaruh terhadap perkembangan motoris halus. Lain itu mbak denia juga diberikan test binet. Sayangnya karena mbak yang menguji tidak memberikan hasil secara tertulis hanya lisan membuat informasi tidak tersampaikan. (Ini catatan buat mbak-mbak yang ambil profesi psikolog, minimal berikan saja laporan lengkap secara tertulis kalau tidak sempat bertatap muka dengan mantan subjek . sebagai bentuk penghargaan. Bukan dengan tanda mata saja lo). Akhirnya sedikit sekali informasi hasil binnet, Cuma sempat disampaikan oleh mbaknya kemampuan logika dan verbal mbak D dua tingkat di atas usianya. Sayang khan..akhirnya kami gak bisa ikut turut mengambil manfaat dari tes yang dilakukan oleh mbak D.

Nah, dalam perjalanan ketika mbak D masuk SD ada peristiwa tidak menyenangkan yang harus dialami di sekolah.  Perubahan mood dan perubahan interaksi dengan adik dan temen membuat mbu mengalami kecurigaan. Setelah perjalanan panjang dengan peristiwa bujuk membujuk, akhirnya saya tahu mbak D mengalami pembedaan dengan beberapa teman sekelas. Misalkan dengan sebutan “kamu, bukan temanku”. Terakhir kejadian makin meningkat...mulai dari dikunci di kamar mandi, bola yang ditendang dan mengenai dada secara sengaja, dan di dorong hingga jatuh. Untuk mengkonfirmasi kecurigaan saya, akhirnya mencoba berkonsultasi ke psikolog. Jadi ini adalah yang kedua kali ke psikolog. Hasilnya memang terdapat dugaan kuat mbak D mengalami pembedaan seperti yang saya curigakan. Setelah mencoba  mengkomunikasikan ke pihak sekolah  dan menunggu beberapa bulan, akhirnya saya memutuskan untuk memindahkan mbak D ke sekolah lain.

Pengalaman ke tiga adalah ketika mbak D naik kelas tiga. Hasil evaluasi ayah dan mbu menunjukkan adanya perilaku mbak D yang kurang  mandiri dibanding teman sekelas.  Saya sendiri yang merasa ada ketidaksesuaian pola asuh orang tua dengan kebutuhan mbak D. Daripada bingung, saya lebih memilih bertanya pada yang lebih ahli. Akhirnya kami mencoba berkonsultasi kembali ke psikolog dan ini pengalaman ke tiga. Setelah dua kali pertemuan (pertemuan pertama berupa  pengamatan dan wawancara awal dan pertemuan ke dua berupa konseling). Hasilnya menunjukkan pola asuh kami yang mengedepankan bertanya dan menjelaskan sudah dianggap tepat karena membangun kedekatan tidak hanya dengan ayah dan mbu namun juga ke adik-adik. Demikian pula dengan pola asuh contoh memberikan kejelasan dalam peraturan dalam keluarga. Sisi lain, pola asuh kami kurang mendukung kemandirian (porsi pemberian tanggung jawab ke mbak D masih kurang). Secara bertahap direkomendasikan untuk memulai mengalihkan tugas-tugas supaya mbak D segera bisa menyiapkapkan diri sendiri dan mulai terlibat berbagai tugas rumah tangga (saya mulai menambahkan kegiatan mbak D dengan menyiram tanaman, dan membersihkan kamar dari yang semula hanya membantu ibu masak).  Kalau dulu dalam rangka life skill maka kegiatan rumah tangga ternyata bisa dikembangkan dalam mendukung kemandirian anak. Rekomendasi lain adalah mengembangkan wilayah ego mbak D dengan mengikutkan kegiatan yang disukai dengan target yang sesuai dengan anak. Wilayah ego merupakan pengakuan anak atas kelebihan yang dimilikinya. Anak dengan kemampuan menilai kelebihan yang dimilikinya biasanya akan mampu pula melihat ke-akuannya. Rekomendasi ke dua menekankan suka dan target bersamaan. Jadi anak harus suka sekaligus memiliki target. Kalau anak memang tidak suka maka sebaiknya tidak diberikan. Demikian juga kalau anak suka tapi tanpa target prestasi maka tujuan mengembangkan wilayah ego tidak tercapai.

Sebenarnya ada pertanyaan dari lingkungan sekitar  kenapa harus ke psikolog. Bagi saya, pilihan ke psikolog merupakan pilihan tepat bagi saya yang kurang sreg sekedar hanya baca artikel parenting. Untuk memperkaya wawasan memang sangat direkomendasikan untuk membaca, ikut seminar atau menggunakan sumber lain dalam parenting. Tapi dalam kondisi tertentu, kita juga harus mampu memahami bahwa ada keistimewaan dari setiap anak. Keistimewaan inilah yang membutuhkan pengamatan khusus dan rekomendasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.  
Ada juga yang bilang malu untuk pergi ke psikolog; saya akan menjawab apakah tidak lebih malu kalau suatu saat perilaku anak kita mendatangkan kerugian bagi orang lain. Satu hambatan dalam perkembangan anak akan mendatangkan hambatan lain di fase berikutnya dan memberikan pengaruh lebih kompleks. Pertanyaan lain: apakah tidak lebih baik pergi seseorang dengan basis beragama untuk mendatangkan lebih banyak manfaat. Sebenarnya sekarang banyak kok psikolog yang menggabungkan dengan basis agama. Banyak pilihan kok....

Saya pikir kalau dianalogikan kita ke dokter khan bukan hanya ketika sakit namun juga untuk check up secara berkala. Kenapa kalau kita mampu memberikan kebutuhan kesehatan badan tapi tidak untuk kesehatan psikologis. Bukannya ini harusnya berimbang ya....

tertatih-tatih sebenarnya mbu dan ayah mencoba memahami rekomendasi psikolognya. Kalau istilahnya tidak psikolog banget maafkeun ya..akhir sesi saja ayah dan mbu diberikan PR untuk membaca psikologi moral piaget dan kohlberg. Kalau yang ini sebenarnya juga bagian dari rekomendasi khusus untuk orangtua. Psikolognya merasa ayah dan mbu termasuk dalam pembelajar aktif sehingga diberikan beberapa referensi  yang bisa membantu memahami dan menyesuaiakan pola asuh ke perkembangan moral anak


Sebagai penutup, pilihan berkonsultasi ke psikolog anak sebenarnya bukan hanya untuk melihat kondisi anak tapi juga kesesuaian pola asuh. Ini penting sekali, jadi penilaian tidak hanya berhenti pada apakah anak memang punya kelebihan dan kekurangan tapi apakah yang bisa dilakukan seluruh keluarga untuk memenuhi tugas perkembangan anak. Jadi bisa memberikan solusi bukan penilaian semata. Tentunya ini dimulai dengan keterbukaan keluarga ke psikolog itu sendiri dan kemauan orangua untuk mengevaluasi diri sendiri. Bukan hal mudah tapi diperlukan. 

Kamis, 06 Maret 2014

Gampang Susahnya Membuka Usaha Ke Dua

sekedar men-share pengalaman ya bu-ibu dan pak-bapak, bagaimana pengalaman ketika mendirikan usaha baru sementara usaha lama masih berjalan. semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pertimbangan kalau bu-ibu dan pak-bapak punya niat buka usaha baru sementara usaha lama masih jalan...

setelah berjalan hampir satu minggu ini sudah terlihat tuh ternyata ngurus usaha baru barengan usaha lama ada penghambat dan pendukung tersendiri.

klo penghambatnya, pertama; jelas membutuhkan energi luar biasa. ngurus usaha satu aja kerempongan apalagi ngurus dua usaha sekaligus. Kedua, konsistensinya harus benar-benar dijaga. begini bu-ibu dan pak-bapak...jadi kalau kita sudah punya satu usaha yang memiliki penghasilan mencukupi terus menjalankan usaha baru yang baru itu kadang membuat muncul pikiran. la kok cuma untung segini. pemikiran kayak gini biasanya muncul saat kita terkadang lupa bahwa usaha lama yang kita jalankan dulu juga menempuh sekian lama untuk memiliki penghasilan seperti saat ini. kalau istilah jawa "nyekel duit cilik" ternyata jadi musuhnya konsistensi menjalankan usaha baru bersama dengan usaha lama. Konsistensi dengan mempertimbangkan faktor se-objektif mungkin itu sangat penting. catat sangat penting !! kalau anda tidak bisa menjaga konsistensi dengan mempertimbangkan faktor se-objektif mungkin maka anda tidak bisa memutuskan dengan tepat kapan saat untuk melanjutkan atau menutup usaha baru (semoga saja anda tidak melakukannya. amin). konsistensi penting untuk menjaga supaya anda tidak kena efek euforia buka usaha baru. awalnya menggebu-gebu terus melempem belakangan. 
oh iya, konsistensi dengan faktor se-objektif mungkin itu misalkan mempertimbangkan (1) BEP, Break Event Point (2) product life cycle (3) Pay Back Period untuk menghitung mulai kapan ki bathiiii....kalau anda kebingungan dengan istilah2 ini boleh menghubungi mbah google ya. 

nah kalau pendukungnya, pertama; jaringan usaha di usaha pertama yang (harus) bisa dimanfaatkan untuk mendukung usaha pertama. jaringan sosial ndak cuma berfungsi untuk pemasaran tapi juga untuk mendapatkan informasi mengenai pengolahan, suplai bahan baku, dll. jadi nih bu-ibu dan pak-bapak... ini kerasa banget waktu promosi. meskipun saya menggunakan media sosial  (sebagai alat promosi)  tapi ndak perlu mentag-tag men-temen..he..he..he. cukup buat status dan page (eh..iya like pages saya ya *Sukidam*...wiiissss, tetep promo ya :p ).


Kedua; modal finansial yang ndak harus tutup lubang gali lubang karena bisa memanfaatkan penghasilan usaha pertama. Ketiga; pengalaman dalam mengelola usaha lama sekian waktu ternyata membantu saya dalam mengelola usaha. getting a new idea lebih cepat dibandingkan dengan ketika membuka usaha lama dulu. mulai dari konsep label, merek, kemasan pemasaran dll..

begitulah..ternyata tetep lo banyak untungnya membuka usaha baru sekaligus usaha lama. jadi...apakah anda sekarang tergoda buka usaha baru ???