Sepertinya
kalau bulan April sudah menjadi tradisi banget ya, menjelang perayaan Kartini
maka Ibu-Ibu yang ribet dengan persiapan baju daerah. Kadang buat diri sendiri.
Kadang putra-putrinya. Kemudian diikuti dengan perayaan dengan menggunakan
berbagai kostum baju daerah dan acara-acara seremonial. Ada acara pawai, ada acara lomba berbagai
kegiatan kewanitaan.
Tapi kalau
saya, setiap peringatan Kartini beda lagi. Entah kenapa pasti keinget cerita
Eyang. Eyang lahir kalau ndak salah akhir periode 1920an. Jadi Eyang besar pada
tahun sesudah periode Kartini. Meskipun lahir dan besar setelah masa Kartini,
namun Eyang merasakan betul bagaimana semangat Kartini merubah kehidupan
perempuan saat itu. Masa transisi di mana perempuan dengan tradisi pingit masih
berlangsung namun sebagian perempuan lain mulai diperbolehkan mengeyam sekolah
(terutama sekolah keputrian).
Eyang bercerita
bagaimana ibunda Eyang (Eyang buyut saya) yang tinggal di keputren harus “laku
ndodok” hanya untuk menghadap suaminya. Entah hanya untuk menyampaikan
kebutuhan atau menerima uang belanja. Tidak ada diskusi mengenai masalah
perkembangan anak. Anak hanya urusan perempuan dan kalau anak laki-laki maka
pada usia tertentu menjadi ursan sang suami. Gak ada tuh pakai acara duduk
berdua di sore hari sambil minum teh. Apalagi jalan bergandengan berdua. Ndak
ada sama sekali....kejadian luar biasa untuk bisa duduk berdampingan. Tanya
kenapa? Sudah jadi tradisi bagi perempuan di lingkungan Eyang untuk melakukan
tradisi itu dan kaum perempuan saat itu hanya meneruskan saja. Berbeda sekali
dengan masa sekarang ya...dimana komunikasi keluarga berlangsung terbuka (dan
memang harus terbuka), dimana kesejajaran istri dan suami menjadi diskusi.
Bukan hanya berlangsung satu arah. Bagi yang pernah mendengarkan cerita semacam
ini, menjadi luar biasa untuk dapat menikmati komunikasi suami istri yang
dijalankan pada masa sekarang. Saya gak kebayang...harus jalan ndodok untuk
bilang “ayahanda ini ada bbm dari klien. Mengingatkan deadline akhir bulan agar
diselesaikan. Monggo saya sudah menyelesaikan proposalnya dan nanti ayahnda
menyelesaikan pada bagian pengolahan data” atau “ayahnda mohon bantuan
memasangkan tabung gas, berhubung gas sudah habis dan saya sedang memasakkan
rendang kesukaan ayahnda”...oh No. Bukan saya banget deh.
Jadi aspirasi
Kartini diantaranya membuka halangan dalam komunikasi keluarga sehingga istri
disejajarkan dalam memberikan pendapat. Istri tidak hanya sebagai kaum
pelaksana pekerjaan rumah tangga, semacam meletakkan buruh di bawah mandor.
Pokoke...pokoke kudu rampung lo. Aishhhh.....
Nah, sekarang tolong ya bagi para Ibu-Ibu
dihargai bagaimana cara berkomunikasi dengan suami. Dinikmati dengan syahdu
bagaimana kebebasan duduk nge-Teh atau bergandengan dengan mesra di jaman
sekarang. Disadari wahai para isri bahwa sebenarnya kelembutan perempuan itu
senjata terbaik menghadapi suami , *****Ting. Begitu pula para suami yang harus
bertemu dengan para istri tanpa harus melewati laku ndodok itu.....wis kebelet
nunggu laku ndodok yang luar biasa lama itu bisa bikin buyar. Karenanya pada
masa sekarang tolong juga dihargai, wahai para suami. Bahwa bisa duduk berdua bisa mendengarkan suara istri yang bisa dinikmati kapan saja
itu sebenarnya kenikmatan. Nek rodo kmresek suaranya yo ndengerinnya sambil
nginget jaman dlu bisa pegangan tangan pertama kali. Saling bisa berlaku lembut
khan lebih mantep to.
Nah selain
cerita Eyang di atas maka ada lagi cerita Eyang yang juga menginspirasi saya
sampai sekarang. Kesediaan untuk belajar dan bersekolah. Jadi pada masa Eyang, pendidikan adalah jasa
langka dan mahal. Hanya dinikmati oleh segelintir kaum. Dibatasi tidak hanya
oleh golongan ningrat dan priyayi namun diantara mereka sendiri masih berpikir
bahwa dunia perempuan katut bapak dan kemudian katut suami. Eyang yang menempuh
pendidikan sekolah keputrian dan selanjutnya sekolah keguruan....sempat
mengalami tentangan baik dari Eyang Buyut Kakung maupun Eyang Buyut Putri. Tapi
kok ya waktu itu, Eyang ngotot sekolah. Apalagi masa itu diperparah dengan
masuknya Jepang. Eyang sekolah di CorJesu Malang. Memang sih, dibandingkan
dengan saudara Eyang lainnya maka hanya Eyang putri saja anak perempuan yang
bersekolah dan menjadi guru. Bahkan selanjutnya Eyang bisa menunjukkan antara
karir (bahkan menjadi penilik TK dan SD se kecamatan saat itu) dan kehidupan
rumah tangga bisa berdampingan. Demikian seterusnya, anak Eyang yang berjumlah
5 dan satu diantaranya adalah perempuan semuanya bisa sekolah sampai tingkatan
Universitas (kebetulan semua menempuh pendidikan Teknik).
Kata Eyang;
perempuan yang bersekolah bisa menggali potensi dirinya yang tidak hanya
bermanfaat bagi dirinya, tapi juga untuk keluarga dan kalau bisa bahkan sampai
tingkatan masyarakat. Memang kenyataannya, perempuan membutuhkan input untuk
menyiapkan anak-anak mereka dalam pendidikan agar selalu dapat berkembang pada
masanya. Misalkan saja kalau jaman sekarang adalah jaman internet, ya Ibu harus
siap menggunakan internet supaya bisa memberikan cara bagaimana menggunakan
internet sehat pada anak. Contoh lain, perempuan membutuhkan sekolah formal dan
kemampuan belajar yang terus berkembang supaya mampu menginsipirasi anaknya
untuk mampu belajar terus menerus. Makluk yang tidak mampu belajar sebenarnya
makluk yang menutup dirinya dari perkembangan lingkungan. Dan, tahukah anda bahwa Kartini tidak hanya mengajarkan baca tulis tapi juga membatik dan ketrampilan perempuan lainnya. Karena Kartini tidak mengesampingkan bahwa kemampuan belajar hanya pendidikan formal namun Kartini justru membuka berbagai jenis ketrampilan apapun wajib dipelajari.
Kalau saya,
penerjemahan sekolah tidak hanya dilakukan secara formal namun dapat dilakukan
secara informal. Kemampuan belajar tidak hanya menyangkut akademis namun juga harus
dikembangkan dalam kemampuan ketrampilan sehari2. Masak, menjahit, berkebun,
mendidik anak. Ketrampilan sehari-hari yang saya sebutkan sebenarnya bukan
bagian dari insting yang muncul begitu saja tapi ketrampilan yang harus
dipelajari. Prinsip “mengko lak iso dewe” pada masa sekarang jelas sudah tidak
bisa diteruskan.
Sekarang bagi saya
sendiri, inspirasi ini mendorong untuk terus sekolah meski tertatih-tatih
karena kondisi tidak mendukung ya tetap dilakoni. Ada orang yang ngomong “kenapa
di usia hampir 40 tahun masih mengejar sekolah.” La memang dikasih
kesempatannya sekarang kok. Masih untung saya mau usaha tetap sekolah saat
dikasih kesempatan saat sekarang. Nek mandeg, apa saya ndak menolak rejeki.
Melalui cerita
Eyang, saya menjadi paham mengapa Kartini menjadi inspirasi bagi perempuan masa
itu. Visi ke depan Kartini adalah mengenai bagaimana menggerakkan pikiran
perempuan masa itu yang masih terbelenggu tradisi sehingga perlu
ditingkatkannya kesadaran bahwa perempuan memiliki posisi penting dan unik. Dikembangkannya
kemampuannya perempuan untuk terus belajar dapat merubah dimensi kehidupan generasi
seterusnya. Bahkan kesadaran ini masih relevan hingga masa sekarang sampai pada
generasi kita dan seterusnya pada anak cucu kita. Itulah Kartini yang mampu
menjadi perempuan yang menentang arus. Berdiri diantara cercaan dan tentangan
tradisi. Dimana tidak semua orang bahkan tahan. Kadang hanya untuk mendengarkan
kritikan yang bisa jadi membangun saja mampu membuat kita masih
uring-uringan...apalagi mampu meneguhkan hati untuk mengetahui apa yang
seharusnya dan meneruskan dalam berbagai pertentangan
Generasi kita ini
yang telah menikmati berbagai kemudahan hasil dari inspirasi itu kadang lupa,
bahwa kemudahan itu bukan hasil dari proses yang mudah. Menjadi terlena dan
kemudian mandeg. Bukan pula logika biner ketika perempuan yang memiliki karir
maka tidak mampu menjadi ibu yang berperan maksimal dalam mendidik anaknya. Itu
bukan pertanyaan yang hanya bisa di jawab Yes or No. Ada kata maybe, if, must
dan lain-lain. Tokh kesempatan bekerja di masa sekarang membuka peluang tak
perlu meninggalkan rumah. Tapi kalau sekiranya memang harus memilih salah satu
maka pilihlah dengan bangga. Semuanya sudah melewati pertimbangan masak dan semuanya
memang untuk yang terbaik untuk anda dan ana-anak.
Semoga di hari Kartini, kita bisa terbangun
membawa inspirasi Kartini ke generasi selanjutnya. Selamat Hari Kartini untuk
seluruh perempuan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar