Sabtu, 30 April 2011

IKUT LOMBA MEWARNAI (UNTUK PERTAMA KALI)

Hari ini Denia yang belum genap berusia 4 tahun ikut lomba mewarnai pertama kali…bener-bener pertama kali. Denia khan baru mewarnai hanya di tempat bermain dan di rumah bareng sama mbu, ayah dan adiknya.
Jadi, kita (ayah dan mbu) menawari Denia untuk mengikuti lomba mewarnai. Menawarkan suatu kegiatan pada anak merupakan kebiasaan kami jika kegiatan tersebut melibatkan anak-anak kami. Hal ini dilakukan bahkan ketika Denia dan Qila dalam kandungan. Belajar berkomunikasi meskipun si anak memang belum bisa berbicara. Belajar bagaimana berpartisipasi.



Nah….dalam lomba mewarnai kami berharap supaya Denia dapat mengenal konsep kompetisi. Menurutku soal menang dan kalah itu berkembang setelah si anak memiliki kemampuan. Jadi mauku konsep kompetisi ada seiring dengan pemahaman mengenai proses. Tidak hanya menilai melalui hasil akhir saja
Kami  juga berharap dapat mengukur kemampuan Denia dalam berekspresi melalui warna-warni yang Denia pilih sendiri. Aku gak mau ada di sampingnya untuk kemudian mengarahkan (mendikte) bagaimana cara memilih warna dan mencampurnya. Aku membiarkan Denia untuk mencari caranya sendiri untuk memenuhi ruang dalam gambar yang sudah disediakan. Yang penting mewarnai tidak keluar garis dan penuh….bukan berdasarkan metode siapa atau cara bagaimana yang diajarkan oleh guru mewarnai. Bukankah ekspresi itu menggambarkan diri sendiri termasuk ekspresi mewarnai. Semua punya cara sendiri yang tidak bisa dibandingkan mana yang lebih baik….


Ternyata dalam lomba mewarnai ini, Denia juga menunjukkan semangat kemandirian. Di saat sebagian teman-temannya masih didampingi  orangtuanya, Denia sudah berani untuk ditinggal. Aku dan ayahnya hanya memberitahu di saat akan memasuki ruangan“Denia, Ibu dan Ayah menunggu tapi tidak di ruangan sini ya..di bawah. Nanti kalau sudah selesai baru dijemput. Waduh …..bangganya melihat anakku sudah berani untuk menghadapi lingkungan baru sendiri . Mensiapkan peralatan gambar sendiri.
Sebenarnya gak PD…melihat teman-temannya yang membawa perlengkapan gambar yang demikian lengkap. Satu kotak besar yang isinya crayon dengan warna-warni lengkap banget. Denia khan bawanya peralatan menggambar standar…crayon isi 12 batang
Akhirnya ketika waktu lomba mewarnai sudah selesai…baru kami menjemput. Surprise…Denia ternyata mewarnai jauh lebih rapi apabila dibandingkan ketika berada di rumah dan di tempat bermain…(kenapa ya!!). Terharu…
Sampai rumah pun Denia jadi kecanduan untuk mewarnai. Biasanya, untuk meminta Denia mewarnai harus dengan segala bujuk rayu….huah…ternyata manfaat lain dari lomba adalah memotivasi si anak untuk berkembang lebih baik. Ini yang aku tunggu-tunggu…semengat mengenalkan kompetisi adalah proses. Berkembang menjadi lebih baik.
At the end…kami (ayah dan ibu) rasanya sangat puas, terharu, bangga dll..tak bisa dibayangkan rasanya. Pokoke seneng banget….melihat apa yang kami targetkan belajar kompetisi terpenuhi. Membuat Denia makin  termotivasi untuk jadi lebih baik lagi. Semoga ke depannya Denia bisa menjaga motivasi….

Jumat, 29 April 2011

MENULIS ITU MENYENANGKAN

Bagiku menulis itu sangat menyenangkan. Menulis membantu aku untuk berpikir sistematis. Merunut suatu akar masalah kemudian menganalisis, membuat jalan keluar dan membayangkan jalan keluar cadangan. Aku juga pernah membaca (lupa sumbernya) menulis juga merupakan upaya untuk mengenali diri sendiri dan memutuskan pilihan. Hal ini dikarenakan ketika kita menulis otomatis akan membuat si penulis harus memilih kata mana yang paling baik untuk menyampaikan pesan dengan benar. Selain itu ketika kita akan memilih kata-kata tersebut juga m merupakan bagian untuk mengekspresikan diri. Oleh karenanya menurut si ahli tersebut menulis merupakan saluran ekspresi yang baik. Saluran ekspresi ysng dapat dilakukan ketika senang maupun susah
Menulis juga sangat lekat dengan karakter seseorang. Pemilihan kata inilah yang menunjukkan diri kita sebenarnya. Gak bisa ditipu..
Menulis juga sangat berhubungan dengan kegiatan membaca. Membaca membantu kita ketika menulis dengan  berlogika...karena makin berkembangnya wawasan. Semakin banyak membaca dan menulis maka membuat kita terus untuk belajar hal-hal baru. Contohnya tulisan seorang yang menganalisis suatu kegiatan masyarakat maka seorang dengan wawasan berkembang akan mampu menganalisis berbagai sudut. Tentu saja si penulis untuk mngembangkan wawasannya sudah melalui proses membaca sebelumnya. Semakin kompleks..semakin mendetail. Diakhiri dengan jalan keluar yang bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi masyarakat tersebut. Kalau contoh dalam karya fiksi dapat dilihat dari pengarang menuturkan latar dan penokoha. Latar dan penokohannya pun semakin detail. Konfliknya juga berkembang. Cerita fiksi yang memenuhi syarat ini salah satunya adalah Lord of the Rings. Detail banget cerita, penokohan, latarnya..sampe di awal novel si pengarang bikin kaya kamus pendahuluan. Pengarang lainnya ya..Pramoedya dalam karya “Panggil Aku Kartini Saja”. Untuk menselesaikan biografi tersebut, beliau melakukan riset sejarah mengenai kultur masyarakat Jawa, politik dan tentu saja kisah Kartini itu sendri. Sekian tahun…baru keluar buku itu.
Kalau bagiku menulis (cukup) sebagai upaya untuk menggambarkan diriku. Merenung, mengenali diri sendiri dan membuat aku untuk terus termotivasi untuk belajar. Sekaligus Mengembangkan potensi lain..
Bagaimana aku tertarik hobi menulis dimulai ketika aku remaja. Hobi menulis pertama kali tersalurkan pertama ya melalui diary…yang isinya penuh dengan keluhan, kekecewaan atas nama cerita romansa percintaan (karena benernya tak tersampaikan makanya penuh kekecewaan). Rasanya waktu itu kalau gak liat wajahnya serasa tak bergairah. Membayangkan dah menghabiskan deodorant, minyak wangi (bener2 minyak yang wangi lho bukan parfum), baju dah disetrika, dan pake sedikit penutup wajah yang saat itu penuh jerawat…ternyata dianya gak masuk kelas. Tambah melas banget klo ternyata dianya dah bawa gandengan. …hiks.  Bahasa anak sekarang bilangnya lebay banget deh
Lainnya sih isinya mengenai keluarga. Ups…klo yang ini atas nama perlindungan nama2 tertentu mendingan gak usah diceritakan deh.
Nah waktu kuliah ketika aku kenalan dengan calon bapaknya anak-anak..aku juga sering menulis surat. Jaman segitu khan telpon cuma ada di wartel dan HP harganya masih jelas tak terjangkau. Antenanya masih mencuat kaya sendok nasi…hua…ha. Jangan membayangkan tulisan suratku itu isinya masih lebay kaya curhat diary di atas. Kalau liat tulisan di surat itu isinya penuh pertanyaan. Bapaknya anak-anak itu sabar banget mau menjawab pertanyaan aneh-aneh dariku. Kasih rekomendasi buku atau film tertentu…Cerita pengalamanku sama temen-temen kuliah. Senengnya….Aku khan dari dulu gak punya sosok yang bisa diajak bertanya ini itu. Hiks kedua….Jawabannya harus dicari sendiri….dari pengalaman aja. Sorangan….
Hobi menulisku tersalurkan lagi melalui kerjaanku. Kerjaanku itu berhubungan dengan tulis menulis ilmiah. Namanya urusan dengan tulis menulis ilmiah, setiap hari ya kerjaannya membaca dan menulis. Ya buku, jurnal ilmiah, sampe novel dan film (kalau pas dapet kerjaan harus resensi). Namanya menulis ilmiah jelas jauh beda dari curhat diary…fungsi menulis disesuiakan dengan bagian-bagian karya tulis ilmiah itu sendiri.
Kalau di karya ilmiah menulis segala sesuatu jelas harus di dasarkan atas suatu teori atau pendapat para ahli. Orang ngeliatnya sich gampang kaya kopi paste aja….tapi aku khan harus memilih mana di kopi. Kenapa milihnya, buat apa terus jadinya dipenelitian ini  bagaimana. Baru kemudian kita mensintesakan sesuai dengan kegunaan. Bilangnya seorang dosen..parafrase. Parafrase tuh artinya uraian tertulis yang telah dibaca atau didengar dan diungkapkan kembali dengan kalimat sendiri. Maksudnya disesuaiakan dengan kebutuhan dalam penelitian itu. Tulisan yang ada harus bisa membantu si peneliti untuk menjawab rumusan masalah. Hanya semata untuk kepentingan peneliti. Gak boleh subjektif dan harus objektif. Gaya menulisnya juga kaku..
Saluran hobi nulisku terakhir ya di blog. Bukan blog yang ini…satunya lagi. Masih berhubungan dengan kerjaan. Biasanya blog tersebut berisikan mengenai teori atau tips-tips bagaimana menyusun penulisan ilmiah. Blog itu dah dibikin sekitar 3,5 tahun lebih. Dibantu oleh Kang Antok dan suamiku (menyumbang beberapa artikel). Benernya bapaknya anak-anak harusnya jadi pengelola juga Cuma ternyata si bapak satu ini sekarang tak terlalu hobi menulis. Katanya neg harus di depan computer..
Alhamdulillah…lumayan banyak pengunjungnya. Aku sih gak berani membandingkan dengan blog yang lain. Gak PD gitcu..Pada awalnya blog ini tujuan untuk menulis dan sharing tentang tulis menulis ilmiah tapi akhirnya ketambahan dengan fungsi promosi. Lumayan banyak yang minta dibantu dari blog ini. Dari sekian obrolan yang minta dibantu ini kebanyakan mereka tyakin minta dibantu karena membaca tulisan. Kata mereka tulisannya bagus karena membantu mereka mendapatkan ide-ide baru ketika menulis ilmiah. Baru dari situ aku belajar ternyata menulis itu berpengaruh  sekali ke orang ya. Walaupun menurutku tulisan-tulisan blog tersebut masih kalah meyakinkan  dengan presentasi melalui tatap muka.Ha…ha…bukan mukanya mbak, mas, teteh, a’a, bapak, ibu…berbincang-bincangnya nya lho. Mukanya mah biasa saja.
Baru di blog yang ini…setelah tulisan-tulisanku mulai menumpuk dan melirik tajam ke bapaknya anak-anak mulai deh dibantu bikin blog baru. Isinya ya mengenai aku…duniaku. It’s truly me….
Buat kaum blogger atau calon blogger yang kepengen mengembangkan hobi menulis, jangan takut untuk menulis. Menulis itu menyenangkan lo… Gak usah dibandingkan dengan penulis lainnya. Temukan gaya menulismu sendiri. Jangan pula takut salah. It’s secret…seorang pengarang yang menjadikan karyanya sebagai mahakarya juga butuh bantuan. Ada seseorang bahkan bannyak orang berfungsi sebagai editor yang menyaring dan menyaring kembali…sedangkan kita sendiri khan. Jadi tepuk tangan untuk diri kita yang berani menulis dan mempublikasikan dalam blog.
Jadi mari menulis..menulis itu menyenangkan…..

Kamis, 28 April 2011

MAAFKAN IBU YA NAK…….

Maafkan ibu ya Nak  jika ada timbul kesan tak sayang seperti yang dinilaikan orang. Kasih sayang ibu hanya ditujukan untuk siap melepas dirimu. Supaya dirimu tak berkesulitan untuk menghargai. Belajar melihat sisi-sisi lain dari kehidupan. Belajar untuk berempati…dan terutama belajar untuk mengambil setiap keputusan melalui pertimbangan dan terbaik dan kemudian berani menanggung resiko. Belajar untuk melangkah maju setiap kali dirimu menemui kegagalan…belajar bahwa setiap kali belajar maka akan ada seribu hal lagi yang kita harus belajar.
Maafkan ibu jika mungkin tak begitu saja memberikan barang dengan merek tertentu yang mungkin diidamkan oleh seribu anak lain. Ibu hanya tidak mau bila nantinya dirimu makin dewasa  hanya mampu menilai sebuah kesuksesan diukur dengan merek-merek itu. Masih banyak pengukuran kesuksesan yang dapat menjadikan kita berharga. Masih banyak kesuksesan yang kita dapat nilai dari setiap kehidupan seseorang.
Maafkan ibu juga berkesan tak menuruti keinginanmu karena ibu berharap dirmu belajar untuk menghargai sebuah proses.Dengan demikian kesuksesan tidak hanya diukur dengan hasil akhir. Ibu akan menghargai apabila kau melewati proses tersebut dengan segala jerih payahmu. Ibu ingin bila nantinya dirimu belajar bahwa pencapaian harus melewati proses. Proses yang mungkin tak indah namun memberikan nilai berharga. Proses yang pasti akan membuat dirimu akan menjadi seseorang lebih baik.
Maafkan ibu juga bila tidak mengabulkan permintaan yang kamu inginkan. Menggantikannya dengan setumpuk mainan yang kita buat sendiri dari selembar kardus bekas, kertas majalah bekas…potong sendiri…tempel sendiri. Ternyata hancur…bikin lagi…tapi banyak waktu yang akhirnya kita dapat lewatkan. Makin mengenal dirimu…
Maafkan ibu jika suatu saat ketika dirimu ingin sekali melihat konser seorang bintang..tapi tak ibu kabulkan. Maaf ya Nak…masih banyak  sosok lain yang bisa kau teladani…mengilhami kita untuk tetap maju. Kalau memang seorang bintang tersebut kita kagumi karena suaranya…bukankah sudah cukup kita dengarkan saja. Kalau di konser khan justru kita tak dapat menikmati..he..he berisik Nak. Mana macet lagi..
Benar-benar, maafkan ibu ya Nak…anakku jika suatu saat ketika kau harus mandiri. Mencari petualangan..Mempelajari bagaimana kehidupan seharusnya selalu dipenuhi kebermanfaatan...ibu hanya berharap sudah cukup membekali.

A Bucket of List (1)

Once upon a time….alias sak wijine dina, aku dan suamiku nonton film. Ceritanya mengenai dua sahabat yang menghadapi kematian (karena sakit kanker) dengan menolak pasrah dan kemudian membuat daftar harapan. Mulailah dua sahabat tersebut berpetualang melewati berbagai peristiwa dan melewati berbagai Negara sampai ke Tibet. Kalau gak lupa….bintangnya Morgam Freeman dan Jack Nicholson. Jadi gak ada deh penampilan bintang yang ganteng. Semua bintang kadaluwarsa…tapi aktingnya bagus banget. Judul film itu ya “The Bucket List” itu. Recommended untuk ditonton.
A Bucket of List sendiri bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai daftar keinginan..atau juga bisa di bilang daftar harapan. Nyatanya sih, terserah banyaknya harapan mau satu, dua atau se-gayung apa sebaskom, tetep bilangnya se-bucket…he..he...he
 Dalam film itu membuat aku (semoga menjadi kita) menyadari bahwa ternyata kehidupan manusia sekian banyaknya dipenuhi oleh harapan. Setiap detik pasti gak lepas dari harapan, Bahkan dalam doa. Doa yang aku bagiku adalah hubungan paling privasi antara manusia dan Tuhannya tak lain berisikan harapan-harapan. Demikian pula dalam langkah kehidupan berhubungan manusia dengan manusia, kita tak pernah lepas dari harapan itu sendiri.
Perjalanan hidupku sendiri ya gak jauh dari harapan-harapan. Sebagian besar kekuatan dalam menjalani hidup itu juga gak jauh dari harapan...selain anak-anakku tentunya. Harapan juga yang terkadang membuat aku bertahan. Kekuatan yang demikian besar bahkan ketika mungkin banyak orang sudah menyerah. Tapi gak semua harapan tersebut juga aku mampu wujudkan. Contohnya; terakhir ini..pengen banget selesai kuliah lagi. ternyata kepentok ama kerjaan dan urusan rumah (anak-anak sih...klo suami cukup kasih senyuman manis aja..he..he). Pengennya sih biar kuliah lagi, dapet beasiswa ke luar negeri terus bisa bawa anak2 berpetualang keliling dunia....jauh sekali.Ternyata..kondisi fisik gak bisa nipu. Mulai deh bermunculan keluhan dari vertigo yang lumayan parah.. perut mulai kram lagi...serangan asma makin sering terus..... bleg....tepar deh. 
Tapi...aku gak pernah memungkiri bagaimana harapan dapat mempengaruhi kehidupanku....next time ya cerita tentang a bucket of list-nya di-share lagi. Klo di share di satu artikel nanti gak muat. Alahh...kaya komik aja..pake season gitu..:p
Begitu besar kekuatan harapan dalam kehidupan membuat kita terkadang gak nyadar klo dengan harapan membuat kita mampu melakukan sesuatu yang seolah tak tercapai. Harapan-harapan tersebut membuat kita mampu bertahan di saat mungkin orang lain menyerah. Singkatnya, terkadang kekuatan kita mungkin tergantung hanya pada harapan. Ke depan..yang pasti semoga lebih baik.