Minggu, 11 November 2012
BUKAN HANYA MENUNGGU BADAI SELESAI TAPI MELEWATINYA
Dik Iru, anak saya yang ketiga telah lahir sekitar 2 bulan lalu…(tanggal 5 September 2012) membawa banyak sekali perubahan dalam hidup. Tidak hanya status ibu yang tadinya dengan dua balita tapi sekrang bertambah menjadi tiga balita. Perubahan lain, ya itu kalibrasi kegiatan sehari-hari. Semuanya harus dijalani dengan pekerjaan yang tanpa cuti serta tidak menggunakan pembantu ataupun baby sitter membuat saya merasa seperti kehabisan waktu. Selalu saja ada pekerjaan yang menunggu setiap detik… dan semua harus selesai. Di antara kesibukan yang sepertinya tidak pernah selesai ternyata tetep bisa selesai. Tidak 100 persen sih tapi lumayanlah dalam kondisi yang harus dihadapi.
Benar-benar dalam kondisi beginilah, rasa bersyukur saya semakin kuat. Bayangkan dari mana energy sebesar itu untuk semuanya (ya mungkin inilah salah satu hadiah dari Allah). Kalau merasa lelah saja..ya pastinya tapi Alhamdulillah justru dengan kesibukan seperti ini saya justru jarang sakit dibandingkan bahkan sebelum menikah. Belum lagi berbagai kemudahan lain yang telah datang begitu saja..termasuk..he..he bantuan finansial. Seneng to..lagi capek tiba-tiba datang orang yang membawa kabar gembira, transfer telah masuk dalam rekening Anda. Pokoknya bikin senyum makin cerah.
Kadang hadiah itu datang dalam berbagai bentuk seperti informasi yang sangat membantu. Salah satunya adalah tips-tips dari mas terapis mengenai massage bagi perkembangan anak. Gak cuma bagi tips bahkan mas terapis yang satu ini juga memberikan pinjaman buku massages yang bagus banget. Gak cuma gampang dipahami tapi lengkap dengan gambar (lha kok malah promosi). Akhirnya massage dari mas terapisnya ndak cuma membantu perkembangan dik Iru dan kakak-2nya tapi juga membantu melewati masa Dik Iru yang mengalami kolik. Lain kali, ada juga tambahan saran dari temen tentang ASI….(terimakasih sekali buat Tante Shinta atas rekomendasi bukunya Ayah ASI). Terus ada Tante Echa yang statusnya memotivasi untuk mempertahankan semangat menginput anak-anak dengan berbagai kegiatan positive parenting di rumah.
Semuanya membuat saya bersyukur…ternyata Allah begitu mudah ya memudahkan jalan bagi orang. Just like that…dan semuanya terbuka bagi saya.
Namun terkadang ada saja…hmmm…apa ya istilah bagusnya *masukan dari beberapa orang* :p membuat saya merasa langsung kehabisan energy. Ada satu waktu, saat mau launching ada beberapa orang yang ngomongnya “waduh, hari gini masih mau punya anak banyak”. Hiks….lha kok begitu komentarnya. Lain waktu, ketika mengetahui bahwa anak yang saya kandung merupakan putri ketiga muncul lagi komentar “wah, putri lagi ya. Ini gak bisa dituker balik ya. Khan cewe lagi”. Nahhhh lo….semua masukan tersebut memiliki efek luar biasa lo. Membuat saya menjadi pemrotes dalam hati. “Kok begini ya Allah, bukan yang begitu” Semudah itu pula semua yang tadinya membuat saya bersemangat menjadi cuapeeeekkk deh.
Kalau dipikir-pikir mungkin saya yang terlalu sensitive. Tokh saya juga sudah tahu apa terbaik..bukankah saya juga bukan seseorang tanpa pengalaman dan bukan orang tanpa keinginan untu selalu belajar. Mungkin, saya kurang merasa yakin bahwa pilihan yang diambil sudah terbaik, jadinya ketika masukan dari berbagai pihak tadi langsung menghancurkan keyakinan. Harusnya setelah saya merasa yakin telah berusaha maksimal dengan ilmu cukup selanjutnya ditambahkan doa sebagai bentuk pasrah. Tidak hanya dalam melihat diri sendiri namun juga menempatkan diri diantara omongan orang. Membuat saya menyadari bahwa ada saatnya untuk tidak membandingkan hasilnya namun proses yang telah dilewati. Diingatkan esensi positive parenting (dalam kunjungan bune Erika. Yahh…saat inilah dimana kelahiran Dik Iru membawa refleksi baru bagi saya, ibunya. Bukan saatnya hanya menunggu atau bahkan memprotes badai supaya cepat selesai tapi bagaimana saya mampu melewati badai itu.
Senin, 26 Maret 2012
MEREKA MENAMAKANNYA SEBAGAI “FRIEND LIST”
Siapa di saat sekarang tidak mengenal istilah friendlist dalam jejaring sosial. Media lain menyebutnya sebagai followers. Sebuah features yang menunjukkan dengan akun mana yang berteman. Setiap syarat dalam pertemanan ini membuat friendlist dapat diinterprestasikan berbeda.
Friend list dalam sebuah media jejaring sosial dapat di interprestasikan berbagai macam dalam berbagai akun yang dibuat. Ada yang menginterprestasikan sebagai seseorang yang telah berhubungan secara nyata melalui keseharian. Demikian pula beberapa akun yang mengartikan friend list sebagai kumpulan orang-orang yang memiliki beberapa kepentingan sama. Entah terikat kepentingan usaha, minat, berorganisasi bahkan sebuah intrik. Ada pula yang menggolongkan sebagai akun “akan” berhubungan nyata. Saya menyebutnya “akan” karena kenyataannya mereka tidak pernah memiliki sebuah riwayat hubungan sebelumnya dan berniat menjalin hubungan pertemanan melalui lemparan status dan komen. Menginterprestasikan Friend List, akan memberikan kesamaan pendapat antara saya dan anda; semua orang dapat mengartikan berbeda seiring apa motivasi mengembangkan sebuah hubungan sosial.
Friend list dalam sebuah media jejaring sosial dapat di interprestasikan berbagai macam dalam berbagai akun yang dibuat. Ada yang menginterprestasikan sebagai seseorang yang telah berhubungan secara nyata melalui keseharian. Demikian pula beberapa akun yang mengartikan friend list sebagai kumpulan orang-orang yang memiliki beberapa kepentingan sama. Entah terikat kepentingan usaha, minat, berorganisasi bahkan sebuah intrik. Ada pula yang menggolongkan sebagai akun “akan” berhubungan nyata. Saya menyebutnya “akan” karena kenyataannya mereka tidak pernah memiliki sebuah riwayat hubungan sebelumnya dan berniat menjalin hubungan pertemanan melalui lemparan status dan komen. Menginterprestasikan Friend List, akan memberikan kesamaan pendapat antara saya dan anda; semua orang dapat mengartikan berbeda seiring apa motivasi mengembangkan sebuah hubungan sosial.
Apakah pengertian berbeda ketika mengartikan Friend list akan
meletakkan sebuah nilai benar atau salah….mungkin, sekali lagi mungkin anda
akan sependapat dengan saya; tidak ada yang salah dalam perbedaan tersebut.
Justru sesuatu yang memberikan batas nilai salah dan benar secara nyata
ternyata tidak berbeda dengan kehidupan nyata, yaitu bagaimana akun memperlakukan
akun lain dalam Friend List. Sesuatu yang salah apabila akun yang dibangun karena
memiliki riwayat hubungan jauh lebih lama tidak bisa membedakan mana gurauan atau
celotehan yang mengundang konflik. Hal sama berlaku untuk orang yang
menggunakan informasi-informasi dalam akun teman sebagai identitas pribadi dengan
meniru atau akun yang saling melempar “perang komen”; Akun yang kemudian
digunakan sebagai alat pribadi ketika melanggar norma sosial; dan menjadi
sangat salah apabila akun yang masuk Friend List justru membuat anda merasa
tidak nyaman dan terdorong untuk bersaing….hmm…..apakah anda pernah mendengar
cerita tetangga membeli barang baru, tetangga lain mendapat serangan jantung. Ternyata
cerita semacam itu juga terjadi dalam hubungan akun jejaring sosial.
Friend List dalam jejaring sosial dan kehidupan nyata tidak
memiliki perbedaan. Semua orang dapat menginterprestasikan berbeda mengenai
pertemanan namun batas bagaimana menjalin hubungan pertemanan pastilah sama.
Suatu hal pasti apabila hubungan sosial yang sama sekali tidak sehat apabila
dibangun tanpa rasa menghargai, tanpa rasa ingin menjalin kedekatan atau berkesan
hubungan satu arah saja. Kalau begitu mungkin saya yang juga harus
mempertanyakan apa itu fungsi jejaring sosial ???
Bolehlah kita mengeksiskan diri melalui keberadaan friendlist
namun tidak seluruhnya menjadi penggambaran pribadi seutuhnya. Jejaring sosial
menjadi media sempit untuk berinteraksi, karena banyak celah yang membuat kita
menjadi pribadi “seolah-olah”. Terjebak dalam pribadi seolah-olah itu melelahkan karena membuat hati dan pikiran selalu bertentangan dengan apa yang harusnya dipilih, dilakukan dan dijalankan dalam hidup. You're not your Facebook status. You're not how many friends you have.
Selasa, 29 November 2011
Saat Galau-nya Orang Tua Memilih Pola Asuh
Ayah dan bunda, merasa
gak sih kebingungan dalam mentukan pola asuh yang sesuai dengan anak. Kondisi
parenting masa kini yang sangat berkembang ternyata juga memberikan banyak
pilihan dari menawarkan versi barat dan bintang, versi timur atau versi berbasis
agama…semuanya telah terbukti dengan model-model kesuksesan ketika pola asuh
tersebut sudah dijalankan terdahulu. Kalau saya sih merasanya jadi bingung…bikin
galau (hadeh si ibu kok ya masih aja ketularan bahasa gaul). Kalau semuanya
baik..terus bagaimana yang harusnya diterapkan untuk anak saya…mana yang paling
baik.
Ketika di masa kegalauan
inilah kemudian saya menemukan jawabannya dengan tidak sengaja yaitu ketika
membaca buku teori manajemen SDM…jadi buku yang sebenanrnya gak nyambung dengan
parenting. Bukunya lumayan agak tebal dan benar-benar buku teori (buku yang
bisa dijadikan acuan dalam penyusunan karya ilmiah). Jenis buku yang bisa
digunakan untuk menemani tidur (karena saking tebelnya membuat si pembaca
membaca sambil tertidur). Isinya sebagian besar (392 halaman) membahas mengenai
majamen SDM (sumber daya manusia) termasuk diantaranya adalah penerapan gaya
kepemimpinan situasional. Jadi wajar saja kalau tidak benar-benar membaca dan
memperhatikan isi bukunya tidak akan menemukan bahwa buku tersebut memberikan
satu petunjuk bagaimana penerapan pola asuh yang sebaiknya pada anak. (bingung
ya kok sepertinya isi buku dari pengelolaan SDM perusahaan menjadi petunjuk
penerapan pol asuh yang efektif. Setelah saya membaca (alias memperhatikan
dengan lebih seksama dan menahan rasa kantuk) terseliplah 4 halaman membahas
mengenai penerapan pola asuh yang efektif.
Dalam buku tersebut mengulas
bahwa gaya kepemimpinan situasional merupakan gaya kepemimpinan yang
disesuaiakn antara tugas dan hubungan, serta gaya yang dikaitkan dengan tingkat
kematangan para bawahannya. Apabila pemimpin menentukan secara tepat kondisi
pegawai serta menyesuaikan kebutuhannya dengan gaya yang tepat, maka pegawai
akan merasa senang dan dihargai dalam melakukan setiap tugas yang telah
diberikan pimpinan kepadanya (Bass, 1980). Hal sama juga berlaku pada cara
bagaimana seorang orang tua membimbing, serta mendidik anak bahwa kita sebagai
orangtua (layaknya seorang pemimpin perusahaa) harus memahami bagaimana
karakter si anak (termasuk diantaranya perkembangan dan kemampuan anak),
bagaimana situasi yang dihadapi, bobot input serta bagaimana karakter orang tua
itu sendiri (4 dimensi gaya kepemimpunan yang disesuaikan dengan pola asuh
orang tua)
Isi buku tersebut
sangat sesuai dengan kondisi ketika suatu saat saya sedang kebingungan mencoba
mencari tahu pola asuh yang seharusnya diterapkan ke anak…ternyata jawabannya bukan
pada jenis pola asuh tapi bagaimana saya harus memperhatikan 4 dimensi
tersebut. Entah pola asuh barat dan pola asuh timur maupun berbasis keagamaan yang memberikan rumusan dan
masing-masing sudah dibuktikan dengan keberhasilan masing-masing membuat saya
sebagai orang tua teriming-imingi (masih mencoba mencari padanan kata dalam
bahasa Indonesia yang baik dan benar) dengan keberhasilan si model.
Istilahnya..”kalau pola asuh seperti ini maka kelak anda akan mendapatkan model
kesuksesan seperti ini”. Kenyataannya, karakter anak belum tentu sesuai dengan
model pola asuh tersebut. Demikian pula ketika kondisi, input yang dimasukkan
ke anak dan karakter orangtua sendiri.
Mungkin kalau bisa
dijadikan suatu masukan bagi diri sendiri untuk saat sekarang… hanya-lah mampu
dilakukan sebagai orangtua adalah menginput diri sendiri, sembari mengenali
anak, dan mengamati lingkungan. Tidak lupa banyak berdoa…(sambil menghirup
napas dalam-dalam supaya lebih meresap dalam hati). Amien…
Jumat, 19 Agustus 2011
ANAKKU ADALAH GURUKU
Bagi setiap orang tua tentu memiliki cara pandang yang berbeda atas kehadiran anak-anak mereka. Demikian saya…melewati berbagai peristiwa mendampingi anak-anak membuat saya selalu belajar sesuatu yang baru. Percaya atau tidak, anak-anak saya (Mbak Denia dan Dik Qila) adalah guru yang terbaik untuk saya.
Mendampingi tumbuh kembang mereka membuat saya belajar ikhlas. Seperti yang di nasehatkan seorang guru kepada saya, mendidik anak seperti menanam pohon. Kita tidak akan bisa mengharapkan kapan mereka akan berbuah. Apakah manis, ataukah justru tidak seperti harapan. Semuanya hanya bisa mengikuti waktu. Orangtua ternyata hanya bisa memberikan apa yang terbaik. Bahkan ketika pohon itu telah berbuah, tak ada hak apapun bagi kita untuk memetiknya karena buah tersebut adalah milik si pohon. Pohon itu yang telah bersusah payah untuk menghasilkan buah tersebut. Dari sinilah saya kemudian memahami istilah “melepas anak panah dari busur”.
Tekad untuk menjadi contoh baik untuk Mbak Denia dan Dik Qila membuat saya juga terus belajar. Termotivasi untuk menyerap ilmu….karena keyakinan saya bahwa tidak ada anak yang cerdas dan memiliki kemampuan hidup cukup apabila tidak didampingi oleh orangtua yang memiliki pemahaman yang baik pula. Saya harus mampu mengesampingkan berbagai latar belakang dari orang-orang yang saya anggap dapat memberikan ilmu baru jika mampu. Ujiannya pun bahkan lebih sulit karena hasilnya tidak hanya sekedar nilai atau singkatan yang berderet di belakang maupun depan. Kenyataannya, ilmu mendampingi anak tidak hanya berhubungan dengan kemampuan akademis namun lebih pada motivasi kita untuk memberikan pengasuhan yang terbaik.
Melalui Mbak Denia dan Dik Qila pulalah saya menjadi lebih "terkendali". Mencoba untuk selalu dapat berpikir ulang bila menemui masalah. Tidak lagi meledak-ledak seperti dulu. Bagian dalam hidup saya mulai tertata dengan baik. Saya mulai mampu merencanakan hidup, menjalani dengan sebaiknya-baiknya dan kemudian melakukan evaluasi. Menjaga perbuatan dengan harapan "semoga anak saya juga akan mengalami hal yang sama.". Lebih banyak berdiam bila memang menemui sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik.
Mendampingi anak-anak juga membuat belajar untuk berserah diri pada Allah. Saya yakin tidak ada yang mampu menjaga anak-anak sebaik Allah. Ini juga mengingat nasihat budhe Nur yang terakhir, “kalau punya anak harus banyak doa..kita khan gak pernah tahu sampai kapan bisa mendampingi. Kita juga gak bisa mendampingi anak-anak terutama kalau mereka sudah mulai remaja dan dewasa. Kalau kita banyak berdoa..maka Allah yang akan menjaga mereka.” Itu nasehat beliau yang terakhir. Sekarang setelah beliau meninggal, itulah yang saya coba terus lakukan. Membuat saya harus selalu “menjaga hubungan” dengan Allah. Bukankah Allah-lah yang Maha Kuasa atas Segalanya.
Saya juga belajar dalam mendampingi tumbuh kembang mereka untuk mengkuatkan hati. Terkadang ketika menghadapi lingkungan tidak sesuai memunculkan pendapat yang tidak sama membuat saya merasa sangat kecil dan tidak berarti. Namun ketika berkonsultasi dengan orang yang tepat, mendapatkan dukungan (terutama dari ayahnya anak-anak) dan melihat senyum mereka membuat saya kembali tenang. Kemudian merefleksikan diri dan mengukuhkan diri…semoga apa yang saya lakukan masih bisa menjadi contoh baik untuk anak-anak. Amien.
Dedicated untuk Mbak Denia dan Dik Qila, serta Budhe Nur...selamat jalan budhe..semoga nasehat itu tetap selalu bisa saya jalankan...
Dedicated untuk Mbak Denia dan Dik Qila, serta Budhe Nur...selamat jalan budhe..semoga nasehat itu tetap selalu bisa saya jalankan...
DENIA BELAJAR MENGGUNAKAN KAMERA
Ceritanya….kali ini mbak Denia sedang mencoba ketrampilan baru yaitu menggunakan kamera. Sudah lama sih mbak Denianya tertarik menggunakan kamera. Pertamanya, sih mbak denia heran kok wajahnya ada dalam sebuah kamera….atau wajah adiknya yang barusan dilihatnya tiba-tiba sudah ada menjadi foto. Ibu dan ayah khan memang suka mengabadikan berbagai moment terutama moment perkembangan mbak Denia dan dik Qila. Jadinya setiap kali ibu atau ayah sehabis menggunakan kamera, Mbak Denia dan Dik Qila maunya langsung melihat hasilnya bagaimana.
Lama-lama mungkin karena melihat ayah dan ibu kok kayanya asyik menggunakan kamera….Mbak Denia mulai minta diajarin untuk menggunakan kamera. Pertamanya sih saya deg-degan, takut kameranya rusak. Maklum…bayangan saya khan klo anak kecil sukanya otak atik dan belum punya rasa hati-hati. Dengan deg-degan, saya mulai mengenalkan prinsip-prinsip “cara mudah” menggunakan kamera. Akhirnya, Mbak Denia belajar mengenal prinsip kamera adalah menangkap cahaya…saya ibaratkan seperti kalau mata melihat khan membutuhkan cahaya…jadi kalau terang akan lebih mudah melihat benda. Nah kamera juga begitu..harus memiliki cahaya yang cukup supaya kameranya dapet mengenali ini gambar apa (eh, bener gak sih prinsip kamera kaya gitu ?? Mohon masukannya ya. Terimakasih…..). Mbak Denia juga belajar mengkoordinasikan ke dua tangan bahkan sampai sampai ke tingkatan jari-jarinya karena ketika memegang kamera tidak hanya sekedar memegang namun juga harus menstabilkan kamera sekaligus harus mampu memencet kameranya. Saat-saat pertama sih banyak hasil foto yang kabur gara-gara kameranya getar. He…he…Mbak Denianya jadi suka kesel “kok gak kaya ibu dan ayah sih”. …
Ternyata setelah beberapa saat, Mbak Denia sudah bisa menggunakan kamera dengan baik. Maksud saya dengan baik adalah mulai bisa mengarahkan kamera pada objek sehingga gak ada lagi foto objek yang kepotong atau malah meleset lagi….dab sudah mulai bisa mengenali cahaya terang dan gelap. Sampai tahapan sekarang, menurut saya ketrampilan mbak Denia sudah cukup. Apalagi mengingat kemampuan saya sendiri mengenai penggunaan kamera sangat terbatas.
And the end ….ketika Mbak Denia belajar mengggunakan kamera ternyata memunculkan beberapa pelajaran yang dapat dipetik. Ada keuntungan lain dari belajar menggunakan kamera yaitu Mbak Denia jadi lebih memperhatikan kejadian-kejadian alam. Misalkan Mbak Denia kemaren memperhatikan kok ada awan di atas air (maksudnya bayangan awan yang jatuh di atas permukaan air). Suatu saat mbak Denia juga jadi lebih memperhatikan bagaimana gerakan sayap kupu-kupu yang sedang terbang.
Saya sendiri juga belajar untuk tidak begitu saja memberikan judgment negative atas kemampuan anak. Kekhawatiran saya bahwa mbak Denia akan merusak kamera ternyata tidak terbukti. Asalkan diberikan instruksi-intruksi yang mudah dipahami oleh anak…..mereka bisa kok. Misalkan bahasakan saja dengan mudah intruksi untuk jangan dibanting, mana yang boleh dipencet. Setelah itu berikan contoh yang sejelas-jelasnya.
Setelah moment mbak denia belajar menggunakan kamera…jadi tidak sabar moment apalagi ya yang dilakukan oleh Mbak Denia
Jumat, 17 Juni 2011
NYAMAN MENJADI DIRI SENDIRI (1)
Hmmm….muncul satu lagi status hari ini yang isinya “Be Your Self”. Kemaren ada juga status yang “Aku menjadi diriku.” Di saat lain muncul kata-kata hidup kok nurutin orang lain. Tanpa bermaksud menghakimi, pada suatu waktu, kata-kata seperti ini ternyata seringkali menjadi apologi yang baik bagi individu untuk mencuekkan diri terhadap ketidakmampuan mereka dalam mengenali diri sendiri. Jadi saya bingung, mereka itu menjadi diri sendiri atau mencoba mengisolasi diri sendiri ???? Sekedar mengukuhkan bahwa mereka sebenarnya tidak mau taat peraturan (bahasa pedes dan nyelekit adalah apologi bagi keadaan atas ketidakmauan mereka untuk berjuang lebih baik padahal mampu dan mendengarkan masukan yang sebenarnya membangun pribadi lebih baik).
Suatu waktu, kita juga pernah menemui seseorang yang seolah-olah memiliki kepribadian sangat berbeda jika berada di depan masyarakat dan di depan keluarga. Seolah-olah mereka membuat kepompong untuk membungkus kepribadian sesungguhnya. Mencoba menyukai sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi ketertarikan diri sendiri hanya untuk menjadi syarat supaya diterima dalam komunitas tertentu. Anda sebutkan saja...pasti banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan masyarakat yang senada dengan contoh-contoh di atas. Senada dengan peristiwa yang menunjukkan bahwa menjadi diri sendiri justru tidak mendatangkan ketidaknyamanan.
Suatu waktu, kita juga pernah menemui seseorang yang seolah-olah memiliki kepribadian sangat berbeda jika berada di depan masyarakat dan di depan keluarga. Seolah-olah mereka membuat kepompong untuk membungkus kepribadian sesungguhnya. Mencoba menyukai sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi ketertarikan diri sendiri hanya untuk menjadi syarat supaya diterima dalam komunitas tertentu. Anda sebutkan saja...pasti banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan masyarakat yang senada dengan contoh-contoh di atas. Senada dengan peristiwa yang menunjukkan bahwa menjadi diri sendiri justru tidak mendatangkan ketidaknyamanan.
Sebenarnya kalau kita benar-benar mau melihat peristiwa di atas, bukan disebabkan oleh individu-individu yang tidak mengenal kepribadiannya. Permasalahannya adalah mereka tidak mau mengakui apa adanya karakter diri sendiri. Karakter merupakan sifat yang melekat pada diri sendiri. Selama pengalaman hidup kita, karakter tersebut akan terbentuk. Karakter juga sering diartikan atau dihubungkan dengan ciri tertentu yang menonjol pada diri. Jadi dapat dikatakan apa yang menjadi diri sendiri adalah gabungan beberapa sifat yang melekat dan identik.
Dalam perjalanan hidup seseorang, karakter sebenarnya merupakan interaksi id, ego, dan super ego. Dalam hal ini, Id (das-es) merupakan sistem Karakter yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri-naluni bawaan. Id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan sistem-sistem tersebut untuk operasi atau kegiatan yang dilakukannya. Ego adalah sistem yang bertindak sebagai pengarah individu pada dunia objek dan kenyataan dan menjalankan fungsinya berdasarkan isi kenyataan. Super-ego adalah sistem karakter yang berisi penilaian secara universal dan aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik dan buruk). Dalam bahasa sehari-hari konsep tersebut menunjukkan bahwa dalam perkembangan, manusia akan memiliki sifat-sifat bawaan yang kemudian di pilih dan dikembangkan sesuai denga cara pandang (persepsi) mereka ketika menjalankan kehidupan.
Selanjutnya karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari akan mempengaruhi tingkah laku. Tingkah laku merupakan implementasi yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya. Tindakan yang dilakukan seorang individu tidak lain merupakan hasil dan konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dalam sistem karakter tersebut. Tingkah itu kadang-kadang kelihatan (overt) dan kadang-kadang tidak kelihatan (covert). Nah dari sinilah muncul kata-kata jaim alias jaga image. Di depan orang melakukan apa…nanti kalau di belakangnya kemudian melakukan sesuatu yang sangat berbeda.
Umumnya pada masa kanak-kanak dan masa remaja merupakan masa pembentukan karakter karena pada masa inilah individu belajar dari lingkungan dan kemudian memilih mana yang paling sesuai dengan dirinya melalui pandangan hidup (persepsi). Untuk selanjutnya ketika masa dewasa, sifat-sifat tersebut akan menetap dan kemudian menjadi yang disebut sebagai karakter. Jadi sebenarnya wajar juga kalau melihat anak remaja atau anak-anak yang masih labil sehingga dengan mudahnya mereka meniru sosok yang diidolakan (kata mas Sasongko masa perkembangan gundah dan galau). Kalau jaman kanak-kanak mungkin mereka hanya meniru orang-orang terdekat (ayah atau ibu), nah kalau sudah remaja maka mereka akan mulai menirukan sosok-sosok dari lingkungan yang lebih luas. Jadi jangan heran kalau melihat anak remaja yang menangis di depan sosok idola atau bahkan dulu saat kita masih remaja juga berbuat sama. Masa tersebut merupakan masa pencarian.
Di sisi lain sebenarnya dalam masa seperti remaja dan kanak-kanak juga penting diperhatikan, sosok siapa yang akan mereka idolakan. Dengan demikian dapat membantu mereka dalam memahami nilai-nilai baik. Oleh karenanya, contoh yang baik merupakan pembelajaran terbaik dan termudah yang dapat segera masuk dalam input perkembangan mereka. he..he padahal untuk menjadi contoh yang baik justru hal paling sulit yang dilakukan oleh orang tua atau sosok pembelajar lain.
Bagaimana seandainya kalau perkembangan di masa kanak-kanak dan remaja tersebut mengalami hambatan. Individu yang mengalami hambatan dalam pencarian ketika masa remaja dan kanak-kanak maka memunculkan sosok dewasa tanpa nilai-nilai yang dianggap sebagai benar menurutnya. Masa dewasa yang seharusnya memiliki karakter mantap sebagai pengakuan serta pandangan atas dirinya masih saja dilanjutkan menjadi masa pencarian. Selanjutnya individu tersebut tidak dapat mengaktualisasikan diri karena tidak mampu memberikan kebermanfaatan terhadap diri sendiri dan orang lain. Konsep karakter dengan memasukkan kebermanfaatan seperti ini penting dikarenakan masa dewasa merupakan masa penilaian atas sumbangan yang dapat diberikan individu terhadap dirinya dan lingkungan. Orang dewasa sesungguhnya harus memiliki posisi di kehidupan social berdasarkan peran yang mereka dapat lakukan. Kalau bahasa anak sekarang adalah orang ngeksis…jadi punya tempat dalam lingkungan mereka.
Dengan demikian orang yang mampu menjadi dirinya sendiri secara adaptif mampu menyelesaikan berbagai konflik dalam kehidupan. Kalau menggunakan istilahnya Pak Mario Teguh, orang dengan karakter diri sendiri memiliki bawaan lebih sedikit. Jadi lebih ringan dalam menempuh perjalanan. Tidak terbebani untuk menunjukkan eksistensi diri dengan status yang tidak penting dan pikiran yang tidak perlu. Mereka akan selalu merasa yakin untuk menyelesaikan dengan apa yang telah dimiliki. Mandiri dalam memperhitungkan pilihan dengan menimbang resiko sekaligus konsekuen dengan apa yang mereka telah pilih. Pada akhirnya dapat mengambil peran dengan tepat di kehidupan masyarakat. Hal inilah yang saya sebut dengan nyaman menjadi diri sendiri karena merasa bahwa apa yang telah dimiliki (karakter) akan selalu mampu menghadapi berbagai persoalan. Mengambil hikmah dari suatu peristiwa yang telah berlalu. Tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain (karakter lain). Mereka yang nyaman dengan diri sendiri selalu pribadi berkembang karena mampu adaptif dalam segala situasi.
Jadi sebenarnya menjadi diri sendiri bukan menjadi alasan yang membuat seseorang tidak memperhatikan sekelilingnya. Tidak memperhatikan pendapat orang lain. Tidak memperhatikan apakah dirinya mengganggu orang lain. Bukan juga menjadi alasan apabila seseorang kemudian melakukan pemberontakan terhadap suatu nilai-nilai tanpa mendasarkan pada usaha menciptakan kebermanfaatan yang lebih bak. Kejadian sepert ini juga membuat saya bingung. Di saat dirinya belum memantapkan diri tapi sudah mencoba membuat rebellion. Bukankah, kita dapat mengatakan nilai itu buruk kalau sudah memiliki nilai-nilai yang lebih baik. Kemudian nilai-nilai baik ini dapat dijadikan suatu dasar pertimbangan dalam mengambil solusi terbaik. So, rebels to what ?? Ya….kalau pemberontakan semacam itu datang orang yang justru tidak memiliki karakter maka pada akhirnya membuat kondisi makin buruk karena tidak mendatangkan solusi lebih baik.
Semoga, kita menjadi pribadi yang menyenangkan untuk diri sendiri dan orang lain.
Minggu, 05 Juni 2011
GAK MAU JADI KATAK DALAM TEMPURUNG
Dulu..dulu sekali waktu saya kecil, sering bermimpi saya nantinya jadi apa ya, gimana dengan perjalanan hidup yang dilewati. Selalu saja bertanya ke diri sendiri, mampukah melewati itu semua. Bahkan ketika melewati moment pernikahan pun, saya pernah merasa ketakutan. Di saat orang lain mungkin merasakan kebahagiaan luar biasa. Melewati ceremony yang dirayakan luar biasa. Bertemu dengan orang yang nantinya (insyaallah) akan berbagi dalam separuh lebih waktu kehidupan. Berbeda dengan yang dirasakan oleh orang lain, saya justru mengalami berbagai ketakutan. Maklum...saya melewati hal yang membuat diri menginterprestasikan perkawinan merupakan sesuatu yang sangat berat. Dalam perjalanan hidup, saya belum pernah melihat contoh baik sebuah perkawinan. Akhirnya saya menjadi ketakutan apakah mampu menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak. Apakah saya akan menjadi orangtua yang menjadi contoh baik bagi anak-anak. Menghidupi mereka dengan baik. Ketakutan tersebut semakin memuncak saat kehamilan pertama. Saya sangat bersyukur cuma tetap saja rasa takut tersebut makin menguat.
Kenyataannya, dalam perjalanan hidup, saya justru belajar bahwa ketakutan adalah pembatas paling besar dalam hidup. Iya, itu namanya ketakutan apabila kita mengkhawatirkan segala sesuatu tapi tidak membuat kita berusaha untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Hal inilah yang membuat saya harus merasa bangkit. Merasa dalam perjalanan hidup telah mendatangkan batasan, membuat saya justru tidak mendatangkan lebih banyak batasan dalam hidup. Apapun yang terjadi tetep harus berusaha bangkit untuk mengatasi batasan tersebut. Saya ingin membuktikan mampu. Membuktikan untuk diri sendiri, saya mampu. Iya, pembuktian itu hanya untuk diri sendiri saja.
Mengapa pembuktian diri sendiri saja? Ibaratnya, saya tidak mau menjadi orang yang berjalan menuju sinar terang. Sinarnya akan terlalu silau untuk saya lihat sendiri bahkan justru membutakan mata hati. Dimana di sekeliling telah berbuat lebih namun saya tidak mampu melihat dan mengambil hikmahnya. Biarkan sinarnya mendekap dalam hati saja. Tokh bagaimanapun cahaya tersebut akan tetap bersinar meskipun hanya dalam hati. Kenyataannya sinar yang di dekap dalam hati justru lebih membuat bermanfaat. Bermanfaat menerangi jalan yang akan ditempuh tanpa membuat silau seperti halnya kalau sinar itu keluar dari hati. (Ha..ha puitis banget Bu…)
Demikian pula pengalaman ketika bekerja. Pekerjaan yang telah saya jalani selama hampir 6 tahun telah mempertemukan dengan berbagai orang dari berbagai karakteristik. Dari berbagai latar belakang. Dari sebagian para bimbingan tersebut membuat saya melihat bagaimana orang yang membatasi dirinya justru membuat dirinya berkembang menjadi pribadi penuh negatif.
Saya mengalami sendiri teramat susah untuk membimbing klien yang memulai bimbingan dengan meletakkan tangan di atas dahi dan berkata “aduh, mbak. Sulit sekali. Saya pusing”. Itu padahal berlangsung pada awal bimbingan. Belum juga menghadapi apapun. Kemudian membuat seribu alasan atas ketidakmauan mereka untuk mencoba. Kalau bertemu dengan klien dengan karakteristik seperti ini dipastikan saya mesti bersusah payah untuk membantu dirinya. Bisa anda bayangkan bagaimana membimbing orang yang telah membatasi dirinya pada awal bimbingan....
Pada proses selanjutnya ketika berhadapan dengan klien dengan karakter membatasi diri ini adalah merasa bahwa tugas akhir yang dijalankan bukan kewajiban mereka. Saya pasti akan kesulitan untuk membangkitkan rasa bahwa proses ini adalah memang untuk keuntungan mereka. Jadi mereka harus mengambil bagian. Minimal dengan belajar dengan baik. Mereka pun harus menyadari bahwa saya hanya menjadi seorang dari beberapa unsur yang membantu namun sebagian besar terletak pada kemampuan dia. Kesulitan kedua dari orang yang sudah meletakkan batasan di awal adalah tidak pernah menghargai pekerjaan apapun yang dilakukan oleh orang yang sudah membantu mereka. Pokoknya tahu bayar dan semua terselesaikan. Kenyataannya, tugas akhir juga berkaitan dengan pengembangan karakteristik. Tidak mau bersusah payah. Seolah-olah mereka hanya menjadi tukang pos. Jangan tanya bagaimana ketika mereka harus menghadapi ujian akhir. Ketika ada kesulitan sedikit maka yang dilakukan hanya menyalahkan orang.
Ketiga, input apapun yang dimasukkan sepertinya susah sekali untuk masuk. Bagaimana mau masuk dalam pikiran, sedangkan mereka hanya berkutat pada adanya "aku" saja. Rugi khan...membayar saya sebagai konsultan tapi gak dapat input apapun.
Oleh karenanya satu hal yang menjadi kesamaan ketika memulai proses bimbingan adalah meyakinkan orang bahwa dirinya mampu.
Pengalaman bertemu dengan orang-orang yang telah membatasi dirinya menunjukkan bahwa sepertinya orang yang sudah membatasi dirinya itu kok ya seiring dengan lamanya waktu pada akhirnya menjadi orang justru tidak menghargai orang lain. Mungkin sama-lah seperti yang saya ibaratkan dalam sinar yang terlalu terang di atas. Hanya mampu melihat diri sendiri dan tidak melihat di sekitarnya telah berbuat lebih. Mereka juga kemudian tidak mampu menghargai hal-hal di luar lingkungan. Menjadikan indicator yang mereka miliki menjadi satu-satunya penilaian mutlak. Lihat baju ya merek…liat kemampuan ya dari singkatan yang berjejer di depan dan di belakang nama. Begitulah....
Saya mengalami sendiri teramat susah untuk membimbing klien yang memulai bimbingan dengan meletakkan tangan di atas dahi dan berkata “aduh, mbak. Sulit sekali. Saya pusing”. Itu padahal berlangsung pada awal bimbingan. Belum juga menghadapi apapun. Kemudian membuat seribu alasan atas ketidakmauan mereka untuk mencoba. Kalau bertemu dengan klien dengan karakteristik seperti ini dipastikan saya mesti bersusah payah untuk membantu dirinya. Bisa anda bayangkan bagaimana membimbing orang yang telah membatasi dirinya pada awal bimbingan....
Pada proses selanjutnya ketika berhadapan dengan klien dengan karakter membatasi diri ini adalah merasa bahwa tugas akhir yang dijalankan bukan kewajiban mereka. Saya pasti akan kesulitan untuk membangkitkan rasa bahwa proses ini adalah memang untuk keuntungan mereka. Jadi mereka harus mengambil bagian. Minimal dengan belajar dengan baik. Mereka pun harus menyadari bahwa saya hanya menjadi seorang dari beberapa unsur yang membantu namun sebagian besar terletak pada kemampuan dia. Kesulitan kedua dari orang yang sudah meletakkan batasan di awal adalah tidak pernah menghargai pekerjaan apapun yang dilakukan oleh orang yang sudah membantu mereka. Pokoknya tahu bayar dan semua terselesaikan. Kenyataannya, tugas akhir juga berkaitan dengan pengembangan karakteristik. Tidak mau bersusah payah. Seolah-olah mereka hanya menjadi tukang pos. Jangan tanya bagaimana ketika mereka harus menghadapi ujian akhir. Ketika ada kesulitan sedikit maka yang dilakukan hanya menyalahkan orang.
Ketiga, input apapun yang dimasukkan sepertinya susah sekali untuk masuk. Bagaimana mau masuk dalam pikiran, sedangkan mereka hanya berkutat pada adanya "aku" saja. Rugi khan...membayar saya sebagai konsultan tapi gak dapat input apapun.
Oleh karenanya satu hal yang menjadi kesamaan ketika memulai proses bimbingan adalah meyakinkan orang bahwa dirinya mampu.
Berbeda halnya ketika saya berhadapan dengan orang-orang yang mungkin awalnya sudah mencoba atau minimal keinginan untuk mencoba. Dilengkapi dengan karakteristik tersebut maka mereka lebih mudah untuk termotivasi. Mereka mampu untuk mengembangkan kapasitas untuk kemudian mengatasi berbagai kesulitan bersama-sama. Di akhir proses, mereka akan mendapatkan sebuah pelajaran baru. Tidak hanya dalam bidang keilmuan namun karakteristik pribadi yang berkembang pula. Mereka belajar untuk menghargai apa yang disebut dengan proses.
Sekedar berbagi cerita saja. Beberapa kali saya pernah mengalami konflik dengan orang semacam ini. Maaf, ada orang yang menjunjung tinggi bahwa pekerjaan adalah pulang dan pagi dengan berseragam menganggap pekerjaan yang saya jalani bukan termasuk jenis pekerjaan yang mendatangkan penghasilan yang cukup. Saya menjadi seorang wiraswastawan karena pilihan bukannya tidak ada tawaran pekerjaan alias tidak laku. Ada beberapa pertimbangan yang membuat menjatuhkan pilihan bahwa wiraswasta bagi saya lebih cocok. Cocok dalam pendapatan, cocok dalam membagi waktu dan cocok dengan karakter pribadi. Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang menyamakan indicator yang mereka miliki. Kerja itu ya baju rapi dengan berangkat dan pulang jam sekian. Kalau kantor itu yang ada papan namanya dan jumlah karyawan sekian. He…he. Padahal itu gak berlaku dengan jenis pekerjaan saya. At the end pernah saya dibilang partikelir. What’s the meaning of partikelir..???? tong…ting…teng….
Dari beberapa pengalaman hidup tersebut memunculkan karakter saya yang baru yaitu pengennya coba-coba. Pengen belajar itu, pengen belajar ini. Mau melakukan itu dan melakukan ini. Pada akhirnya yang bisa membatasi adalah kondisi dan situasi. Bukannya kemauan.
Keinginan utama saya adalah maunya sama anak-anak nantinya akan mengadakan perjalanan keliling dunia….someday. Minimal keliling Indonesia. Saya ingin anak-anak belajar langsung dari pengalaman mereka untuk melihat, mendengar dan merasakan bahwa Allah menciptakan banyak keanekaragaman yang sepatutnya untuk di syukuri dan bukannya menjadi penghalang satu sama lain (atau justru menjadi sesuatu yang disamaratakan). Amiennn...
Tapi tetep saja, dalam perjalanan ada rasa suntuk juga. Kalau dah gini rasanya lemes. Mau kerjain apa-apa semua jadi gak beres. Kalau dulu bisa kerjain segala macam dalam waktu sekian….sekarang jadinya molor. Akhirnya saya kemudian tergantung pada beberapa pembangkit motivasi. Hal pertama dan paling besar untuk memotivasi dalam kehidupan ya..karena kehadiran anak-anak. Bahkan ketika mereka belum hadir dalam kehidupan saya. Jauh..jauh sekali. Saya berpikir kalau mereka menjalani seperti apa yang telah dilewati, betapa saya kecewa. Tidak mampu membuat kondisi lebih baik. Itulah yang membuat saya bertahan dalam kondisi paling sulit. Ketika waktunya menguji kewarasan.
Keinginan utama saya adalah maunya sama anak-anak nantinya akan mengadakan perjalanan keliling dunia….someday. Minimal keliling Indonesia. Saya ingin anak-anak belajar langsung dari pengalaman mereka untuk melihat, mendengar dan merasakan bahwa Allah menciptakan banyak keanekaragaman yang sepatutnya untuk di syukuri dan bukannya menjadi penghalang satu sama lain (atau justru menjadi sesuatu yang disamaratakan). Amiennn...
Tapi tetep saja, dalam perjalanan ada rasa suntuk juga. Kalau dah gini rasanya lemes. Mau kerjain apa-apa semua jadi gak beres. Kalau dulu bisa kerjain segala macam dalam waktu sekian….sekarang jadinya molor. Akhirnya saya kemudian tergantung pada beberapa pembangkit motivasi. Hal pertama dan paling besar untuk memotivasi dalam kehidupan ya..karena kehadiran anak-anak. Bahkan ketika mereka belum hadir dalam kehidupan saya. Jauh..jauh sekali. Saya berpikir kalau mereka menjalani seperti apa yang telah dilewati, betapa saya kecewa. Tidak mampu membuat kondisi lebih baik. Itulah yang membuat saya bertahan dalam kondisi paling sulit. Ketika waktunya menguji kewarasan.
Kedua, saya kecanduan rasa puas ketika mampu melewati sesuatu. Anda pasti pernah merasakan bagaimana rasa itu. Mencoba sampai titik rasa menyerah menyerbu tapi disaat terbaik, Allah memberikan jalan tersebut. Merasakan kepuasan sekaligus membuat kita merasa sangat kecil. Apalah kita kalau tanpa pertolongan-Mu. Rasa seperti itu-lah yang membuat saya kecanduan. Pengen dan pengen lagi. Membuat merasakan hal yang sama.
Karenanya, kalau ditanya memang sudah membuktikan apa dalam hidup; saya tidak akan mampu menunjukkan apapun. Kecuali satu hal, mengatasi rasa takut untuk tetap terus bergerak menjadi baik. Tidak menjadi katak dalam tempurung yang mencipatakan banyak batasan dalam hidup. Mengatasinya berkali-kali untuk tetap maju. Di saat apapun. Saya tidak mau menjadi katak dalam tempurung.
Langganan:
Postingan (Atom)

