Minggu, 30 Oktober 2016

BIRD SINGING CONTEST



ini bukan cerita mengenai lomba burung bernyanyi..bukan. ini cerita pengalaman saya (atau bahkan jenengan2) ketemu orang yang kesannya kalau apa-apa dibuat ajang persaingan. Pokoknya gak pernah mau kalah...pasti pernah atau jangan-jangan sering.
ini contoh aja, saya punya kenalan yang kalau ngomong apapun mengenai barang pasti berujung pengakuan kalau merek barang yang dia pilih adalah terbaik. Gak ada tanding. dari HP sampe setrika. Sampe suatu cerita dari cerita foto agak blur aja jadi berujung kalau kualitas kamera HP punyanya (harus) paling bagus. Jadi kalau ada dia pasti gak bakal blur deh tuh fotonya…berhubung dia sedang banyak acara dan gak bisa hadir jadi ya wajar kalau temennya menikmati fotonya blur.
Terus ada lagi. Kalau yang ini saudara. Di suatu ajang perkumpulan, berceritalah saudara. ini mengenai acara pernikahannya. Berkicaulah saudara.  mengenai acara mulai dari hidangan sampe dekorasi pokoknya paling jos. Bayangin aja gimana gak wah…cerita kalau hidangannya pake nasi ada tujuh macam.. Acara yang katanya lauk dari masakan barat sampai antartika (es batu maksudnya) dihidangkan. Acara nikah anak presiden aja kalah…Nah saya yang tahu sebenarnya sangat menyayangkan. Karena cara saudara bercerita akhirnya berkesan menihilkan peran orang-orang di sekitarnya yang sebenarnya lebih bekerja keras berkontribusi dalam acara itu….. peran orang lain yang sebenarnya lebih besar dari dirinya. Berkesan tidak bersyukur pula. Apa sih yang kurang dari acara itu sampe harus dipoles sedemikian heboh ??
Ada lagi nih…. teman ceritanya menempuh pendidikan pilot di Afrika Selatan. Pendidikannya ini sebagai senjata tebar pesona. Oke lah…hak dia ya. Apalagi calon pilot memang memikat ya. Tapi ini lo ada yang janggal. Ada ketidakkonsistenan cerita yang membuat saya curiga. Ketika saya menanyakan lebih lanjut sekarang sudah dapat sertifikasi keahlian apa. Karena setahu saya pendidikan pilot itu nantinya punya beberapa sertifikasi keahlian. Tapi jawabannya antah berantah. Dasarnya saya ini memang kepo, saya tanya lagi kenapa ambil di Afrika...kenapa gak ambil di Filipina. Lagi-lagi jawabannya antah berantah. Oke..ambil kesimpulan sendiri aja deh.
ya itu orang-orang seperti yang saya ceritakan di atas seperti burung bernyanyi yang dikonteskan. sini berkicau sana berkicau lebih rame. sini berkicau lagi sana lagi...lagi lebih rame. koyo manuk kontes. ra rampung2. padahal ya sebenarnya apa to..gak semua perlu dijadikan ajang persaingan.

Mau apa sih sampai apa-apa dikonteskan..tokh sebenarnya orang di sekitarnya sudah jengah dengan kicauan2 burung penyanyi ini. Lama-lama orang pasti tahu kondisi sebenarnya. Karena apa, ceritanya pasti tidak logis dan tidak konsisten. Akhirnya justru tidak dipercaya dan merugikan diri sendiri khan. Kontestan burung berkicau ini juga gak pernah sadar bahwa dirinya menyakiti orang-orang yang di sekitarnya. Kebiasaan kontestan untuk konsisten mengunggulkan dirinya pada akhirnya merendahkan orang-orang di sekitarnya. 
Saya ini yo kadang-kadang iseng kalau pas menghadapi kontestan seperti inih. Beri aja kroto (telur semut yang memang diperuntukkan meningkatkan kualitas kicauan burung"....kasih saja pujian, kesan percaya . Dengarkan saja. Nanti pasti ada titik ketidakkonsistenan yang muncul dari ceritanya. Terus lama-lama  dia jenuh sendiri atau mentok mau berkicau apa. Akhirnya nanti saya akan berkata "hebat ya"...biasanya si kontestan kapok sendiri. Ya kadang-kadang pake malu kalau yang masih punya. Mau coba ikut-ikut keisengan saya....boleh. asal sabar dan ndableg aja. 
Sebenarnya sudah sifat natural seseorang untuk berkompetisi, bersaing. Namun harus dipahami bahwa kompetisi sebenarnya bukan di konteskan dalam kicauan. Persaingan dapat menjadi sumber motivasi/dorongan. Diiringi dengan kesadaran diri bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bersainglah dengan kekuatan sendiri. Ini menjadi persaingan sehat. Kalau sebatas masih dalam kicauan maka seseorang hanya mampu menciptakan ilusi bukan suatu kenyataan. Tidak ada pula proses menilai sendiri dengan objektif. Akhirnya memutuskan realitas. Padahal orang ini sebenarnya tidak mampu bersaing di satu hal namun memiliki kemampuan bersaing di hal lainnya.

Rabu, 20 April 2016

CERITA EYANG DI HARI KARTINI

Sepertinya kalau bulan April sudah menjadi tradisi banget ya, menjelang perayaan Kartini maka Ibu-Ibu yang ribet dengan persiapan baju daerah. Kadang buat diri sendiri. Kadang putra-putrinya. Kemudian diikuti dengan perayaan dengan menggunakan berbagai kostum baju daerah dan acara-acara seremonial.  Ada acara pawai, ada acara lomba berbagai kegiatan kewanitaan.

Tapi kalau saya, setiap peringatan Kartini beda lagi. Entah kenapa pasti keinget cerita Eyang. Eyang lahir kalau ndak salah akhir periode 1920an. Jadi Eyang besar pada tahun sesudah periode Kartini. Meskipun lahir dan besar setelah masa Kartini, namun Eyang merasakan betul bagaimana semangat Kartini merubah kehidupan perempuan saat itu. Masa transisi di mana perempuan dengan tradisi pingit masih berlangsung namun sebagian perempuan lain mulai diperbolehkan mengeyam sekolah (terutama sekolah keputrian).
Eyang bercerita bagaimana ibunda Eyang (Eyang buyut saya) yang tinggal di keputren harus “laku ndodok” hanya untuk menghadap suaminya. Entah hanya untuk menyampaikan kebutuhan atau menerima uang belanja. Tidak ada diskusi mengenai masalah perkembangan anak. Anak hanya urusan perempuan dan kalau anak laki-laki maka pada usia tertentu menjadi ursan sang suami. Gak ada tuh pakai acara duduk berdua di sore hari sambil minum teh. Apalagi jalan bergandengan berdua. Ndak ada sama sekali....kejadian luar biasa untuk bisa duduk berdampingan. Tanya kenapa? Sudah jadi tradisi bagi perempuan di lingkungan Eyang untuk melakukan tradisi itu dan kaum perempuan saat itu hanya meneruskan saja. Berbeda sekali dengan masa sekarang ya...dimana komunikasi keluarga berlangsung terbuka (dan memang harus terbuka), dimana kesejajaran istri dan suami menjadi diskusi. Bukan hanya berlangsung satu arah. Bagi yang pernah mendengarkan cerita semacam ini, menjadi luar biasa untuk dapat menikmati komunikasi suami istri yang dijalankan pada masa sekarang. Saya gak kebayang...harus jalan ndodok untuk bilang “ayahanda ini ada bbm dari klien. Mengingatkan deadline akhir bulan agar diselesaikan. Monggo saya sudah menyelesaikan proposalnya dan nanti ayahnda menyelesaikan pada bagian pengolahan data” atau “ayahnda mohon bantuan memasangkan tabung gas, berhubung gas sudah habis dan saya sedang memasakkan rendang kesukaan ayahnda”...oh No. Bukan saya banget deh.
Jadi aspirasi Kartini diantaranya membuka halangan dalam komunikasi keluarga sehingga istri disejajarkan dalam memberikan pendapat. Istri tidak hanya sebagai kaum pelaksana pekerjaan rumah tangga, semacam meletakkan buruh di bawah mandor. Pokoke...pokoke kudu rampung lo. Aishhhh.....
Nah, sekarang tolong ya bagi para Ibu-Ibu dihargai bagaimana cara berkomunikasi dengan suami. Dinikmati dengan syahdu bagaimana kebebasan duduk nge-Teh atau bergandengan dengan mesra di jaman sekarang. Disadari wahai para isri bahwa sebenarnya kelembutan perempuan itu senjata terbaik menghadapi suami , *****Ting. Begitu pula para suami yang harus bertemu dengan para istri tanpa harus melewati laku ndodok itu.....wis kebelet nunggu laku ndodok yang luar biasa lama itu bisa bikin buyar. Karenanya pada masa sekarang tolong juga dihargai, wahai para suami. Bahwa bisa  duduk berdua bisa mendengarkan  suara istri yang bisa dinikmati kapan saja itu sebenarnya kenikmatan. Nek rodo kmresek suaranya yo ndengerinnya sambil nginget jaman dlu bisa pegangan tangan pertama kali. Saling bisa berlaku lembut khan lebih mantep to.

Nah selain cerita Eyang di atas maka ada lagi cerita Eyang yang juga menginspirasi saya sampai sekarang. Kesediaan untuk belajar dan bersekolah. Jadi  pada masa Eyang, pendidikan adalah jasa langka dan mahal. Hanya dinikmati oleh segelintir kaum. Dibatasi tidak hanya oleh golongan ningrat dan priyayi namun diantara mereka sendiri masih berpikir bahwa dunia perempuan katut bapak dan kemudian katut suami. Eyang yang menempuh pendidikan sekolah keputrian dan selanjutnya sekolah keguruan....sempat mengalami tentangan baik dari Eyang Buyut Kakung maupun Eyang Buyut Putri. Tapi kok ya waktu itu, Eyang ngotot sekolah. Apalagi masa itu diperparah dengan masuknya Jepang. Eyang sekolah di CorJesu Malang. Memang sih, dibandingkan dengan saudara Eyang lainnya maka hanya Eyang putri saja anak perempuan yang bersekolah dan menjadi guru. Bahkan selanjutnya Eyang bisa menunjukkan antara karir (bahkan menjadi penilik TK dan SD se kecamatan saat itu) dan kehidupan rumah tangga bisa berdampingan. Demikian seterusnya, anak Eyang yang berjumlah 5 dan satu diantaranya adalah perempuan semuanya bisa sekolah sampai tingkatan Universitas (kebetulan semua menempuh pendidikan Teknik).
 Kata Eyang;  perempuan yang bersekolah bisa menggali potensi dirinya yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, tapi juga untuk keluarga dan kalau bisa bahkan sampai tingkatan masyarakat. Memang kenyataannya, perempuan membutuhkan input untuk menyiapkan anak-anak mereka dalam pendidikan agar selalu dapat berkembang pada masanya. Misalkan saja kalau jaman sekarang adalah jaman internet, ya Ibu harus siap menggunakan internet supaya bisa memberikan cara bagaimana menggunakan internet sehat pada anak. Contoh lain, perempuan membutuhkan sekolah formal dan kemampuan belajar yang terus berkembang supaya mampu menginsipirasi anaknya untuk mampu belajar terus menerus. Makluk yang tidak mampu belajar sebenarnya makluk yang menutup dirinya dari perkembangan lingkungan. Dan, tahukah anda bahwa Kartini tidak hanya mengajarkan baca tulis tapi juga membatik dan ketrampilan perempuan lainnya. Karena Kartini tidak mengesampingkan bahwa kemampuan belajar hanya pendidikan formal namun Kartini justru membuka berbagai jenis ketrampilan apapun wajib dipelajari.  
Kalau saya, penerjemahan sekolah tidak hanya dilakukan secara formal namun dapat dilakukan secara informal. Kemampuan belajar tidak hanya menyangkut akademis namun juga harus dikembangkan dalam kemampuan ketrampilan sehari2. Masak, menjahit, berkebun, mendidik anak. Ketrampilan sehari-hari yang saya sebutkan sebenarnya bukan bagian dari insting yang muncul begitu saja tapi ketrampilan yang harus dipelajari. Prinsip “mengko lak iso dewe” pada masa sekarang jelas sudah tidak bisa diteruskan.
Sekarang bagi saya sendiri, inspirasi ini mendorong untuk terus sekolah meski tertatih-tatih karena kondisi tidak mendukung ya tetap dilakoni. Ada orang yang ngomong “kenapa di usia hampir 40 tahun masih mengejar sekolah.” La memang dikasih kesempatannya sekarang kok. Masih untung saya mau usaha tetap sekolah saat dikasih kesempatan saat sekarang. Nek mandeg, apa saya ndak menolak rejeki.

Melalui cerita Eyang, saya menjadi paham mengapa Kartini menjadi inspirasi bagi perempuan masa itu. Visi ke depan Kartini adalah mengenai bagaimana menggerakkan pikiran perempuan masa itu yang masih terbelenggu tradisi sehingga perlu ditingkatkannya kesadaran bahwa perempuan memiliki posisi penting dan unik. Dikembangkannya kemampuannya perempuan untuk terus belajar dapat merubah dimensi kehidupan generasi seterusnya. Bahkan kesadaran ini masih relevan hingga masa sekarang sampai pada generasi kita dan seterusnya pada anak cucu kita. Itulah Kartini yang mampu menjadi perempuan yang menentang arus. Berdiri diantara cercaan dan tentangan tradisi. Dimana tidak semua orang bahkan tahan. Kadang hanya untuk mendengarkan kritikan yang bisa jadi membangun saja mampu membuat kita masih uring-uringan...apalagi mampu meneguhkan hati untuk mengetahui apa yang seharusnya dan meneruskan dalam berbagai pertentangan
Generasi kita ini yang telah menikmati berbagai kemudahan hasil dari inspirasi itu kadang lupa, bahwa kemudahan itu bukan hasil dari proses yang mudah. Menjadi terlena dan kemudian mandeg. Bukan pula logika biner ketika perempuan yang memiliki karir maka tidak mampu menjadi ibu yang berperan maksimal dalam mendidik anaknya. Itu bukan pertanyaan yang hanya bisa di jawab Yes or No. Ada kata maybe, if, must dan lain-lain. Tokh kesempatan bekerja di masa sekarang membuka peluang tak perlu meninggalkan rumah. Tapi kalau sekiranya memang harus memilih salah satu maka pilihlah dengan bangga. Semuanya sudah melewati pertimbangan masak dan semuanya memang untuk yang terbaik untuk anda dan ana-anak.

 Semoga di hari Kartini, kita bisa terbangun membawa inspirasi Kartini ke generasi selanjutnya. Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia. 

Senin, 05 Oktober 2015

Pengalaman Pergi ke Psikolog

Ini cerita pengalaman ayah dan mbu beberapa kali berkonsultasi dengan psikolog anak. Sekedar berbagi. 

Pengalaman pertama kali berkenalan dengan psikolog adalah ketika mbak D menjadi salah satu subjek obsevasi perkembangan anak. Mbak D punya kekurangan dalam motoris halus dan kemudian diberikan perlakuan taktil play.  Hasil evaluasi menunjukkan adanya pengaruh terhadap perkembangan motoris halus. Lain itu mbak denia juga diberikan test binet. Sayangnya karena mbak yang menguji tidak memberikan hasil secara tertulis hanya lisan membuat informasi tidak tersampaikan. (Ini catatan buat mbak-mbak yang ambil profesi psikolog, minimal berikan saja laporan lengkap secara tertulis kalau tidak sempat bertatap muka dengan mantan subjek . sebagai bentuk penghargaan. Bukan dengan tanda mata saja lo). Akhirnya sedikit sekali informasi hasil binnet, Cuma sempat disampaikan oleh mbaknya kemampuan logika dan verbal mbak D dua tingkat di atas usianya. Sayang khan..akhirnya kami gak bisa ikut turut mengambil manfaat dari tes yang dilakukan oleh mbak D.

Nah, dalam perjalanan ketika mbak D masuk SD ada peristiwa tidak menyenangkan yang harus dialami di sekolah.  Perubahan mood dan perubahan interaksi dengan adik dan temen membuat mbu mengalami kecurigaan. Setelah perjalanan panjang dengan peristiwa bujuk membujuk, akhirnya saya tahu mbak D mengalami pembedaan dengan beberapa teman sekelas. Misalkan dengan sebutan “kamu, bukan temanku”. Terakhir kejadian makin meningkat...mulai dari dikunci di kamar mandi, bola yang ditendang dan mengenai dada secara sengaja, dan di dorong hingga jatuh. Untuk mengkonfirmasi kecurigaan saya, akhirnya mencoba berkonsultasi ke psikolog. Jadi ini adalah yang kedua kali ke psikolog. Hasilnya memang terdapat dugaan kuat mbak D mengalami pembedaan seperti yang saya curigakan. Setelah mencoba  mengkomunikasikan ke pihak sekolah  dan menunggu beberapa bulan, akhirnya saya memutuskan untuk memindahkan mbak D ke sekolah lain.

Pengalaman ke tiga adalah ketika mbak D naik kelas tiga. Hasil evaluasi ayah dan mbu menunjukkan adanya perilaku mbak D yang kurang  mandiri dibanding teman sekelas.  Saya sendiri yang merasa ada ketidaksesuaian pola asuh orang tua dengan kebutuhan mbak D. Daripada bingung, saya lebih memilih bertanya pada yang lebih ahli. Akhirnya kami mencoba berkonsultasi kembali ke psikolog dan ini pengalaman ke tiga. Setelah dua kali pertemuan (pertemuan pertama berupa  pengamatan dan wawancara awal dan pertemuan ke dua berupa konseling). Hasilnya menunjukkan pola asuh kami yang mengedepankan bertanya dan menjelaskan sudah dianggap tepat karena membangun kedekatan tidak hanya dengan ayah dan mbu namun juga ke adik-adik. Demikian pula dengan pola asuh contoh memberikan kejelasan dalam peraturan dalam keluarga. Sisi lain, pola asuh kami kurang mendukung kemandirian (porsi pemberian tanggung jawab ke mbak D masih kurang). Secara bertahap direkomendasikan untuk memulai mengalihkan tugas-tugas supaya mbak D segera bisa menyiapkapkan diri sendiri dan mulai terlibat berbagai tugas rumah tangga (saya mulai menambahkan kegiatan mbak D dengan menyiram tanaman, dan membersihkan kamar dari yang semula hanya membantu ibu masak).  Kalau dulu dalam rangka life skill maka kegiatan rumah tangga ternyata bisa dikembangkan dalam mendukung kemandirian anak. Rekomendasi lain adalah mengembangkan wilayah ego mbak D dengan mengikutkan kegiatan yang disukai dengan target yang sesuai dengan anak. Wilayah ego merupakan pengakuan anak atas kelebihan yang dimilikinya. Anak dengan kemampuan menilai kelebihan yang dimilikinya biasanya akan mampu pula melihat ke-akuannya. Rekomendasi ke dua menekankan suka dan target bersamaan. Jadi anak harus suka sekaligus memiliki target. Kalau anak memang tidak suka maka sebaiknya tidak diberikan. Demikian juga kalau anak suka tapi tanpa target prestasi maka tujuan mengembangkan wilayah ego tidak tercapai.

Sebenarnya ada pertanyaan dari lingkungan sekitar  kenapa harus ke psikolog. Bagi saya, pilihan ke psikolog merupakan pilihan tepat bagi saya yang kurang sreg sekedar hanya baca artikel parenting. Untuk memperkaya wawasan memang sangat direkomendasikan untuk membaca, ikut seminar atau menggunakan sumber lain dalam parenting. Tapi dalam kondisi tertentu, kita juga harus mampu memahami bahwa ada keistimewaan dari setiap anak. Keistimewaan inilah yang membutuhkan pengamatan khusus dan rekomendasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.  
Ada juga yang bilang malu untuk pergi ke psikolog; saya akan menjawab apakah tidak lebih malu kalau suatu saat perilaku anak kita mendatangkan kerugian bagi orang lain. Satu hambatan dalam perkembangan anak akan mendatangkan hambatan lain di fase berikutnya dan memberikan pengaruh lebih kompleks. Pertanyaan lain: apakah tidak lebih baik pergi seseorang dengan basis beragama untuk mendatangkan lebih banyak manfaat. Sebenarnya sekarang banyak kok psikolog yang menggabungkan dengan basis agama. Banyak pilihan kok....

Saya pikir kalau dianalogikan kita ke dokter khan bukan hanya ketika sakit namun juga untuk check up secara berkala. Kenapa kalau kita mampu memberikan kebutuhan kesehatan badan tapi tidak untuk kesehatan psikologis. Bukannya ini harusnya berimbang ya....

tertatih-tatih sebenarnya mbu dan ayah mencoba memahami rekomendasi psikolognya. Kalau istilahnya tidak psikolog banget maafkeun ya..akhir sesi saja ayah dan mbu diberikan PR untuk membaca psikologi moral piaget dan kohlberg. Kalau yang ini sebenarnya juga bagian dari rekomendasi khusus untuk orangtua. Psikolognya merasa ayah dan mbu termasuk dalam pembelajar aktif sehingga diberikan beberapa referensi  yang bisa membantu memahami dan menyesuaiakan pola asuh ke perkembangan moral anak


Sebagai penutup, pilihan berkonsultasi ke psikolog anak sebenarnya bukan hanya untuk melihat kondisi anak tapi juga kesesuaian pola asuh. Ini penting sekali, jadi penilaian tidak hanya berhenti pada apakah anak memang punya kelebihan dan kekurangan tapi apakah yang bisa dilakukan seluruh keluarga untuk memenuhi tugas perkembangan anak. Jadi bisa memberikan solusi bukan penilaian semata. Tentunya ini dimulai dengan keterbukaan keluarga ke psikolog itu sendiri dan kemauan orangua untuk mengevaluasi diri sendiri. Bukan hal mudah tapi diperlukan. 

Kamis, 06 Maret 2014

Gampang Susahnya Membuka Usaha Ke Dua

sekedar men-share pengalaman ya bu-ibu dan pak-bapak, bagaimana pengalaman ketika mendirikan usaha baru sementara usaha lama masih berjalan. semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pertimbangan kalau bu-ibu dan pak-bapak punya niat buka usaha baru sementara usaha lama masih jalan...

setelah berjalan hampir satu minggu ini sudah terlihat tuh ternyata ngurus usaha baru barengan usaha lama ada penghambat dan pendukung tersendiri.

klo penghambatnya, pertama; jelas membutuhkan energi luar biasa. ngurus usaha satu aja kerempongan apalagi ngurus dua usaha sekaligus. Kedua, konsistensinya harus benar-benar dijaga. begini bu-ibu dan pak-bapak...jadi kalau kita sudah punya satu usaha yang memiliki penghasilan mencukupi terus menjalankan usaha baru yang baru itu kadang membuat muncul pikiran. la kok cuma untung segini. pemikiran kayak gini biasanya muncul saat kita terkadang lupa bahwa usaha lama yang kita jalankan dulu juga menempuh sekian lama untuk memiliki penghasilan seperti saat ini. kalau istilah jawa "nyekel duit cilik" ternyata jadi musuhnya konsistensi menjalankan usaha baru bersama dengan usaha lama. Konsistensi dengan mempertimbangkan faktor se-objektif mungkin itu sangat penting. catat sangat penting !! kalau anda tidak bisa menjaga konsistensi dengan mempertimbangkan faktor se-objektif mungkin maka anda tidak bisa memutuskan dengan tepat kapan saat untuk melanjutkan atau menutup usaha baru (semoga saja anda tidak melakukannya. amin). konsistensi penting untuk menjaga supaya anda tidak kena efek euforia buka usaha baru. awalnya menggebu-gebu terus melempem belakangan. 
oh iya, konsistensi dengan faktor se-objektif mungkin itu misalkan mempertimbangkan (1) BEP, Break Event Point (2) product life cycle (3) Pay Back Period untuk menghitung mulai kapan ki bathiiii....kalau anda kebingungan dengan istilah2 ini boleh menghubungi mbah google ya. 

nah kalau pendukungnya, pertama; jaringan usaha di usaha pertama yang (harus) bisa dimanfaatkan untuk mendukung usaha pertama. jaringan sosial ndak cuma berfungsi untuk pemasaran tapi juga untuk mendapatkan informasi mengenai pengolahan, suplai bahan baku, dll. jadi nih bu-ibu dan pak-bapak... ini kerasa banget waktu promosi. meskipun saya menggunakan media sosial  (sebagai alat promosi)  tapi ndak perlu mentag-tag men-temen..he..he..he. cukup buat status dan page (eh..iya like pages saya ya *Sukidam*...wiiissss, tetep promo ya :p ).


Kedua; modal finansial yang ndak harus tutup lubang gali lubang karena bisa memanfaatkan penghasilan usaha pertama. Ketiga; pengalaman dalam mengelola usaha lama sekian waktu ternyata membantu saya dalam mengelola usaha. getting a new idea lebih cepat dibandingkan dengan ketika membuka usaha lama dulu. mulai dari konsep label, merek, kemasan pemasaran dll..

begitulah..ternyata tetep lo banyak untungnya membuka usaha baru sekaligus usaha lama. jadi...apakah anda sekarang tergoda buka usaha baru ???

Minggu, 11 November 2012

BUKAN HANYA MENUNGGU BADAI SELESAI TAPI MELEWATINYA


Dik Iru, anak saya yang ketiga telah lahir sekitar 2 bulan lalu…(tanggal 5 September 2012) membawa banyak sekali perubahan dalam hidup. Tidak hanya status ibu yang tadinya dengan dua balita tapi sekrang bertambah menjadi tiga balita. Perubahan lain, ya itu kalibrasi kegiatan sehari-hari. Semuanya harus dijalani dengan pekerjaan yang tanpa cuti serta tidak menggunakan pembantu ataupun baby sitter membuat saya merasa seperti kehabisan waktu. Selalu saja ada pekerjaan yang menunggu setiap detik… dan semua harus selesai. Di antara kesibukan yang sepertinya tidak pernah selesai ternyata tetep bisa selesai. Tidak 100 persen sih tapi lumayanlah dalam kondisi yang harus dihadapi.

Benar-benar dalam kondisi beginilah, rasa bersyukur saya semakin kuat. Bayangkan dari mana energy sebesar itu untuk semuanya (ya mungkin inilah salah satu hadiah dari Allah). Kalau merasa lelah saja..ya pastinya tapi  Alhamdulillah justru dengan kesibukan seperti ini saya justru jarang sakit dibandingkan bahkan sebelum menikah. Belum lagi berbagai kemudahan lain yang telah datang begitu saja..termasuk..he..he bantuan finansial. Seneng to..lagi capek tiba-tiba datang orang yang membawa kabar gembira, transfer telah masuk dalam rekening Anda. Pokoknya bikin senyum makin cerah.

Kadang hadiah itu datang dalam berbagai bentuk seperti informasi yang sangat membantu. Salah satunya adalah tips-tips dari mas terapis mengenai massage bagi perkembangan anak. Gak cuma bagi tips bahkan mas terapis yang satu ini juga memberikan pinjaman buku massages yang bagus banget. Gak cuma gampang dipahami tapi lengkap dengan gambar (lha kok malah promosi). Akhirnya massage dari mas terapisnya ndak cuma membantu perkembangan dik Iru dan kakak-2nya tapi juga membantu melewati masa Dik Iru yang mengalami kolik. Lain kali, ada juga tambahan saran dari temen tentang ASI….(terimakasih sekali buat Tante Shinta atas rekomendasi bukunya Ayah ASI). Terus ada Tante Echa yang statusnya memotivasi untuk mempertahankan semangat menginput anak-anak dengan berbagai kegiatan positive parenting di rumah.

 Semuanya membuat saya bersyukur…ternyata Allah begitu mudah ya memudahkan jalan bagi orang. Just like that…dan semuanya terbuka bagi saya.

Namun terkadang  ada saja…hmmm…apa ya istilah bagusnya *masukan dari beberapa orang* :p membuat saya merasa langsung kehabisan energy. Ada satu waktu, saat mau launching ada beberapa orang yang ngomongnya “waduh, hari gini masih mau punya anak banyak”. Hiks….lha kok begitu komentarnya. Lain waktu, ketika mengetahui bahwa anak yang saya kandung merupakan putri ketiga  muncul lagi komentar “wah, putri lagi ya. Ini gak bisa dituker balik ya. Khan cewe lagi”. Nahhhh lo….semua masukan tersebut memiliki efek luar biasa lo. Membuat saya menjadi pemrotes dalam hati. “Kok begini ya Allah, bukan yang begitu” Semudah itu pula semua yang tadinya membuat saya bersemangat menjadi cuapeeeekkk deh.

Kalau dipikir-pikir mungkin saya yang terlalu sensitive. Tokh saya juga sudah tahu apa terbaik..bukankah saya juga bukan seseorang tanpa pengalaman dan bukan orang tanpa keinginan untu selalu belajar. Mungkin, saya kurang merasa yakin bahwa pilihan yang diambil sudah terbaik, jadinya ketika masukan dari berbagai pihak tadi langsung menghancurkan keyakinan. Harusnya setelah saya merasa yakin telah berusaha maksimal dengan ilmu cukup selanjutnya ditambahkan doa sebagai bentuk pasrah. Tidak hanya dalam melihat diri sendiri namun juga menempatkan diri diantara omongan orang. Membuat saya menyadari bahwa ada saatnya untuk tidak membandingkan hasilnya namun proses yang telah dilewati. Diingatkan esensi positive parenting (dalam kunjungan bune Erika. Yahh…saat inilah dimana kelahiran Dik Iru membawa refleksi baru bagi saya, ibunya.  Bukan saatnya hanya menunggu atau bahkan memprotes badai supaya cepat selesai tapi bagaimana saya mampu melewati badai itu.

Senin, 26 Maret 2012

MEREKA MENAMAKANNYA SEBAGAI “FRIEND LIST”


 Siapa di saat sekarang tidak mengenal istilah friendlist dalam jejaring sosial. Media lain menyebutnya sebagai followers. Sebuah features yang menunjukkan dengan akun mana yang berteman. Setiap syarat dalam pertemanan ini membuat friendlist dapat diinterprestasikan berbeda.
Friend list dalam sebuah media jejaring sosial dapat di interprestasikan berbagai macam dalam berbagai akun yang dibuat. Ada yang menginterprestasikan sebagai seseorang yang telah berhubungan secara nyata melalui keseharian. Demikian pula beberapa akun yang mengartikan friend list sebagai kumpulan orang-orang yang memiliki beberapa kepentingan sama. Entah terikat kepentingan usaha, minat, berorganisasi bahkan sebuah intrik. Ada pula yang menggolongkan sebagai akun “akan” berhubungan nyata.  Saya menyebutnya “akan” karena kenyataannya mereka tidak pernah memiliki sebuah riwayat hubungan sebelumnya dan berniat menjalin hubungan pertemanan melalui lemparan status dan komen. Menginterprestasikan Friend List, akan memberikan kesamaan pendapat antara saya dan anda; semua orang dapat mengartikan berbeda seiring apa motivasi mengembangkan sebuah hubungan sosial.
Apakah pengertian berbeda ketika mengartikan Friend list akan meletakkan sebuah nilai benar atau salah….mungkin, sekali lagi mungkin anda akan sependapat dengan saya; tidak ada yang salah dalam perbedaan tersebut. Justru sesuatu yang memberikan batas nilai salah dan benar secara nyata ternyata tidak berbeda dengan kehidupan nyata, yaitu bagaimana akun memperlakukan akun lain dalam Friend List. Sesuatu yang salah apabila akun yang dibangun karena memiliki riwayat hubungan jauh lebih lama tidak bisa membedakan mana gurauan atau celotehan yang mengundang konflik. Hal sama berlaku untuk orang yang menggunakan informasi-informasi dalam akun teman sebagai identitas pribadi dengan meniru atau akun yang saling melempar “perang komen”; Akun yang kemudian digunakan sebagai alat pribadi ketika melanggar norma sosial; dan menjadi sangat salah apabila akun yang masuk Friend List justru membuat anda merasa tidak nyaman dan terdorong untuk bersaing….hmm…..apakah anda pernah mendengar cerita tetangga membeli barang baru, tetangga lain mendapat serangan jantung. Ternyata cerita semacam itu juga terjadi dalam hubungan akun jejaring sosial.
Friend List dalam jejaring sosial dan kehidupan nyata tidak memiliki perbedaan. Semua orang dapat menginterprestasikan berbeda mengenai pertemanan namun batas bagaimana menjalin hubungan pertemanan pastilah sama. Suatu hal pasti apabila hubungan sosial yang sama sekali tidak sehat apabila dibangun tanpa rasa menghargai, tanpa rasa ingin menjalin kedekatan atau berkesan hubungan satu arah saja. Kalau begitu mungkin saya yang juga harus mempertanyakan apa itu fungsi jejaring sosial ???
Bolehlah kita mengeksiskan diri melalui keberadaan friendlist namun tidak seluruhnya menjadi penggambaran pribadi seutuhnya. Jejaring sosial menjadi media sempit untuk berinteraksi, karena banyak celah yang membuat kita menjadi pribadi “seolah-olah”. Terjebak dalam pribadi seolah-olah itu melelahkan karena membuat hati dan pikiran selalu bertentangan dengan apa yang harusnya dipilih, dilakukan dan dijalankan dalam hidup. You're not your Facebook status. You're not how many friends you have.

Selasa, 29 November 2011

Saat Galau-nya Orang Tua Memilih Pola Asuh


Ayah dan bunda, merasa gak sih kebingungan dalam mentukan pola asuh yang sesuai dengan anak. Kondisi parenting masa kini yang sangat berkembang ternyata juga memberikan banyak pilihan dari menawarkan versi barat dan bintang, versi timur atau versi berbasis agama…semuanya telah terbukti dengan model-model kesuksesan ketika pola asuh tersebut sudah dijalankan terdahulu. Kalau saya sih merasanya jadi bingung…bikin galau (hadeh si ibu kok ya masih aja ketularan bahasa gaul). Kalau semuanya baik..terus bagaimana yang harusnya diterapkan untuk anak saya…mana yang paling baik.

Ketika di masa kegalauan inilah kemudian saya menemukan jawabannya dengan tidak sengaja yaitu ketika membaca buku teori manajemen SDM…jadi buku yang sebenanrnya gak nyambung dengan parenting. Bukunya lumayan agak tebal dan benar-benar buku teori (buku yang bisa dijadikan acuan dalam penyusunan karya ilmiah). Jenis buku yang bisa digunakan untuk menemani tidur (karena saking tebelnya membuat si pembaca membaca sambil tertidur). Isinya sebagian besar (392 halaman) membahas mengenai majamen SDM (sumber daya manusia) termasuk diantaranya adalah penerapan gaya kepemimpinan situasional. Jadi wajar saja kalau tidak benar-benar membaca dan memperhatikan isi bukunya tidak akan menemukan bahwa buku tersebut memberikan satu petunjuk bagaimana penerapan pola asuh yang sebaiknya pada anak. (bingung ya kok sepertinya isi buku dari pengelolaan SDM perusahaan menjadi petunjuk penerapan pol asuh yang efektif. Setelah saya membaca (alias memperhatikan dengan lebih seksama dan menahan rasa kantuk) terseliplah 4 halaman membahas mengenai penerapan pola asuh yang efektif.
Dalam buku tersebut mengulas bahwa gaya kepemimpinan situasional merupakan gaya kepemimpinan yang disesuaiakn antara tugas dan hubungan, serta gaya yang dikaitkan dengan tingkat kematangan para bawahannya. Apabila pemimpin menentukan secara tepat kondisi pegawai serta menyesuaikan kebutuhannya dengan gaya yang tepat, maka pegawai akan merasa senang dan dihargai dalam melakukan setiap tugas yang telah diberikan pimpinan kepadanya (Bass, 1980). Hal sama juga berlaku pada cara bagaimana seorang orang tua membimbing, serta mendidik anak bahwa kita sebagai orangtua (layaknya seorang pemimpin perusahaa) harus memahami bagaimana karakter si anak (termasuk diantaranya perkembangan dan kemampuan anak), bagaimana situasi yang dihadapi, bobot input serta bagaimana karakter orang tua itu sendiri (4 dimensi gaya kepemimpunan yang disesuaikan dengan pola asuh orang tua)

Isi buku tersebut sangat sesuai dengan kondisi ketika suatu saat saya sedang kebingungan mencoba mencari tahu pola asuh yang seharusnya diterapkan ke anak…ternyata jawabannya bukan pada jenis pola asuh tapi bagaimana saya harus memperhatikan 4 dimensi tersebut. Entah pola asuh barat dan pola asuh timur maupun berbasis keagamaan yang memberikan rumusan dan masing-masing sudah dibuktikan dengan keberhasilan masing-masing membuat saya sebagai orang tua teriming-imingi (masih mencoba mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar) dengan keberhasilan si model. Istilahnya..”kalau pola asuh seperti ini maka kelak anda akan mendapatkan model kesuksesan seperti ini”. Kenyataannya, karakter anak belum tentu sesuai dengan model pola asuh tersebut. Demikian pula ketika kondisi, input yang dimasukkan ke anak dan karakter orangtua sendiri.

Mungkin kalau bisa dijadikan suatu masukan bagi diri sendiri untuk saat sekarang… hanya-lah mampu dilakukan sebagai orangtua adalah menginput diri sendiri, sembari mengenali anak, dan mengamati lingkungan. Tidak lupa banyak berdoa…(sambil menghirup napas dalam-dalam supaya lebih meresap dalam hati). Amien…