Minggu, 05 Juni 2011

GAK MAU JADI KATAK DALAM TEMPURUNG

Dulu..dulu sekali waktu saya kecil, sering bermimpi saya nantinya jadi apa ya, gimana dengan perjalanan hidup yang dilewati. Selalu saja bertanya ke diri sendiri, mampukah melewati itu semua. Bahkan ketika melewati moment pernikahan pun, saya pernah merasa ketakutan. Di saat orang lain mungkin merasakan kebahagiaan luar biasa. Melewati ceremony yang dirayakan luar biasa. Bertemu dengan orang yang nantinya (insyaallah) akan berbagi dalam separuh lebih waktu kehidupan. Berbeda dengan yang dirasakan oleh orang lain, saya justru mengalami berbagai ketakutan. Maklum...saya melewati hal yang membuat diri menginterprestasikan perkawinan merupakan sesuatu yang sangat berat. Dalam perjalanan hidup, saya belum pernah melihat contoh baik sebuah perkawinan. Akhirnya saya menjadi ketakutan apakah mampu menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak. Apakah saya akan menjadi orangtua yang menjadi contoh baik bagi anak-anak. Menghidupi mereka dengan baik. Ketakutan tersebut semakin memuncak saat kehamilan pertama. Saya sangat bersyukur cuma tetap saja rasa takut tersebut makin menguat.

Kenyataannya, dalam perjalanan hidup, saya justru belajar bahwa ketakutan adalah pembatas paling besar dalam hidup. Iya, itu namanya ketakutan apabila kita mengkhawatirkan segala sesuatu tapi tidak membuat kita berusaha untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Hal inilah yang membuat saya harus merasa bangkit. Merasa dalam perjalanan hidup telah mendatangkan batasan, membuat saya justru tidak mendatangkan lebih banyak batasan dalam hidup. Apapun yang terjadi tetep harus berusaha bangkit untuk mengatasi batasan tersebut. Saya ingin membuktikan mampu. Membuktikan untuk diri sendiri, saya mampu. Iya, pembuktian itu hanya untuk diri sendiri saja.

Mengapa pembuktian diri sendiri saja? Ibaratnya, saya tidak mau menjadi orang yang berjalan menuju sinar terang. Sinarnya akan terlalu silau untuk saya lihat sendiri bahkan justru membutakan mata hati. Dimana di sekeliling telah berbuat lebih namun saya tidak mampu melihat dan mengambil hikmahnya. Biarkan sinarnya mendekap dalam hati saja. Tokh bagaimanapun cahaya tersebut akan tetap bersinar meskipun hanya dalam hati. Kenyataannya sinar yang di dekap dalam hati justru lebih membuat bermanfaat. Bermanfaat menerangi jalan yang akan ditempuh tanpa membuat silau seperti halnya kalau sinar itu keluar dari hati. (Ha..ha puitis banget Bu…)

Demikian pula pengalaman ketika bekerja. Pekerjaan yang telah saya jalani selama hampir 6 tahun telah mempertemukan dengan berbagai orang dari berbagai karakteristik. Dari berbagai latar belakang. Dari sebagian para bimbingan tersebut membuat saya melihat bagaimana orang yang membatasi dirinya justru membuat dirinya berkembang menjadi pribadi penuh negatif.
Saya mengalami sendiri teramat susah untuk membimbing klien yang memulai bimbingan dengan meletakkan tangan di atas dahi dan berkata “aduh, mbak. Sulit sekali. Saya pusing”. Itu padahal berlangsung pada awal bimbingan. Belum juga menghadapi apapun. Kemudian membuat seribu alasan atas ketidakmauan mereka untuk mencoba. Kalau bertemu dengan klien dengan karakteristik seperti ini dipastikan saya mesti bersusah payah untuk membantu dirinya. Bisa anda bayangkan bagaimana membimbing orang yang telah membatasi dirinya pada awal bimbingan....
Pada proses selanjutnya ketika berhadapan dengan klien dengan karakter membatasi diri ini adalah merasa bahwa tugas akhir yang dijalankan bukan kewajiban mereka. Saya pasti akan kesulitan untuk membangkitkan rasa bahwa proses ini adalah memang untuk keuntungan mereka. Jadi mereka harus mengambil bagian. Minimal dengan belajar dengan baik. Mereka pun harus menyadari bahwa saya hanya menjadi seorang dari beberapa unsur yang membantu namun sebagian besar terletak pada kemampuan dia. Kesulitan kedua dari orang yang sudah meletakkan batasan di awal adalah tidak pernah menghargai pekerjaan apapun yang dilakukan oleh orang yang sudah membantu mereka. Pokoknya tahu bayar dan semua terselesaikan. Kenyataannya, tugas akhir juga berkaitan dengan pengembangan karakteristik. Tidak mau bersusah payah. Seolah-olah mereka hanya menjadi tukang pos. Jangan tanya bagaimana ketika mereka harus menghadapi ujian akhir. Ketika ada kesulitan sedikit maka yang dilakukan hanya menyalahkan orang.
Ketiga, input apapun yang dimasukkan sepertinya susah sekali untuk masuk. Bagaimana mau masuk dalam pikiran, sedangkan mereka hanya berkutat pada adanya "aku" saja. Rugi khan...membayar saya sebagai konsultan tapi gak dapat input apapun.

Oleh karenanya satu hal yang menjadi kesamaan ketika memulai proses bimbingan adalah meyakinkan orang bahwa dirinya mampu.

Berbeda halnya ketika saya berhadapan dengan orang-orang yang mungkin awalnya sudah mencoba atau minimal keinginan untuk mencoba. Dilengkapi dengan karakteristik tersebut maka mereka lebih mudah untuk termotivasi. Mereka mampu untuk mengembangkan kapasitas untuk kemudian mengatasi berbagai kesulitan bersama-sama. Di akhir proses, mereka akan mendapatkan sebuah pelajaran baru. Tidak hanya dalam bidang keilmuan namun karakteristik pribadi yang berkembang pula.  Mereka belajar untuk menghargai apa yang disebut dengan proses.

Pengalaman bertemu dengan orang-orang yang telah membatasi dirinya menunjukkan bahwa sepertinya orang yang sudah membatasi dirinya itu kok ya seiring dengan lamanya waktu pada akhirnya menjadi orang justru tidak menghargai orang lain. Mungkin sama-lah seperti yang saya ibaratkan dalam sinar yang terlalu terang di atas. Hanya mampu melihat diri sendiri dan tidak melihat di sekitarnya telah berbuat lebih. Mereka juga kemudian tidak mampu menghargai hal-hal di luar lingkungan. Menjadikan indicator yang mereka miliki menjadi satu-satunya penilaian mutlak. Lihat baju ya merek…liat kemampuan ya dari singkatan yang berjejer di depan dan di belakang nama. Begitulah....

Sekedar berbagi cerita saja. Beberapa kali saya pernah mengalami konflik dengan orang semacam ini. Maaf, ada orang yang menjunjung tinggi bahwa pekerjaan adalah pulang dan pagi dengan berseragam menganggap pekerjaan yang saya jalani bukan termasuk jenis pekerjaan yang mendatangkan penghasilan yang cukup. Saya menjadi seorang wiraswastawan karena pilihan bukannya tidak ada tawaran pekerjaan alias tidak laku. Ada beberapa pertimbangan yang membuat menjatuhkan pilihan bahwa wiraswasta bagi saya lebih cocok. Cocok dalam pendapatan, cocok dalam membagi waktu dan cocok dengan karakter pribadi. Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang menyamakan indicator yang mereka miliki. Kerja itu ya baju rapi dengan berangkat dan pulang jam sekian. Kalau kantor itu yang ada papan namanya dan jumlah karyawan sekian. He…he. Padahal itu gak berlaku dengan jenis pekerjaan saya. At the end pernah saya dibilang partikelir. What’s  the meaning of partikelir..???? tong…ting…teng….

Dari beberapa pengalaman hidup tersebut memunculkan karakter saya yang baru yaitu pengennya coba-coba. Pengen belajar itu, pengen belajar ini. Mau melakukan itu dan melakukan ini. Pada akhirnya yang bisa membatasi adalah kondisi dan situasi. Bukannya kemauan.

Keinginan utama saya adalah maunya sama anak-anak nantinya akan mengadakan perjalanan keliling dunia….someday. Minimal keliling Indonesia. Saya ingin anak-anak belajar langsung dari pengalaman mereka untuk melihat, mendengar dan merasakan bahwa Allah menciptakan banyak keanekaragaman yang sepatutnya untuk di syukuri dan bukannya menjadi penghalang satu sama lain (atau justru menjadi sesuatu yang disamaratakan). Amiennn...

Tapi tetep saja, dalam perjalanan ada rasa suntuk juga. Kalau dah gini rasanya lemes. Mau kerjain apa-apa semua jadi gak beres. Kalau dulu bisa kerjain segala macam dalam waktu sekian….sekarang jadinya molor. Akhirnya saya kemudian tergantung pada beberapa pembangkit motivasi. Hal pertama dan paling besar untuk memotivasi dalam kehidupan ya..karena kehadiran anak-anak. Bahkan ketika mereka belum hadir dalam kehidupan saya. Jauh..jauh sekali. Saya berpikir kalau mereka menjalani seperti apa yang telah dilewati, betapa saya kecewa. Tidak mampu membuat kondisi lebih baik. Itulah yang membuat saya bertahan dalam kondisi paling sulit. Ketika waktunya menguji kewarasan.

Kedua, saya kecanduan rasa puas ketika mampu melewati sesuatu. Anda pasti pernah merasakan bagaimana rasa itu. Mencoba sampai titik rasa menyerah menyerbu tapi disaat terbaik, Allah memberikan jalan tersebut. Merasakan kepuasan sekaligus membuat kita merasa sangat kecil. Apalah kita kalau tanpa pertolongan-Mu. Rasa seperti itu-lah yang membuat saya kecanduan. Pengen dan pengen lagi. Membuat merasakan hal yang sama.

Karenanya, kalau ditanya memang sudah membuktikan apa dalam hidup; saya tidak akan mampu menunjukkan apapun. Kecuali satu hal, mengatasi rasa takut untuk tetap terus bergerak menjadi baik. Tidak menjadi katak dalam tempurung yang mencipatakan banyak batasan dalam hidup. Mengatasinya berkali-kali untuk tetap maju. Di saat apapun. Saya tidak mau menjadi katak dalam tempurung. 

Jumat, 03 Juni 2011

MY HOBBIES

Ada beberapa hobi saya yang ternyata tetap konsisten dipelihara sampe sekarang. Dari jaman kecil sampe sekarang punya anak kecil. Kalau dilihat sebenarnya hobinya sih biasa-biasa saja. Gak keluar budget banyak, malah kalau memasak juga jadi bagian dari kegiatan sehari-hari. Nyatanya sih yang  dari hobi-hobi tersebut tidak hanya mendatangkan kesenangan namun diantaranya menjadi pendukung dalam pekerjaan saat ini. membuat berkenalan dengan hal-hal baru. Ternyata juga membantu untuk mengembangkan berbagai kemampuan baru..Inilah hobi-hobi saya

Hobi pertama adalah membaca. Iya, saya sangat senang membaca. Dari komik (sampe sekarang  masih saja hobi baca komik), novel sampai buku teks alias buku untuk rujukan referensi penelitian. Tema-nya juga macem-macem. Apapun kalau memang sedang tertarik atau membutuhkan, ya di baca. Prinsip saya, ilmu ada dalam semua bentuk buku. Entah dalam komik yang mungkin dianggap sebagai bacaan orang gak serius dan gak bermanfaat, hanya membuang waktu. Kenyataannya gak juga. Semua itu sebenarnya tergantung pada orang bisa mengambil ilmunya saja. Jadi tidak menyalahkan medianya. He…he…Ada lo komik yang isinya ternyata belajar mengenai sejarah pergantian kepemimpinan di Jepang. Atau baru tahu bahwa di jaman dahulu, lilin merupakan barang mahal sehingga para penulis besar jaman dahulu pun ternyata seringkali menumpang menulis di kafe jalanan. 

Saya senang membaca berbagai buku karena orangnya memang senang kenal ilmu baru alias seneng coba-coba. Terakhir, pengennya belajar jadi profiler alias tebak personal dari penampilan tapi sampe saat ini belum nemu buku yang tepat (Any recommended ?).  Mungkin ke depannya mau belajar ilmu bahasa asing..amien.
Sekarang hobi membaca saya mulai bergeser tidak hanya membaca dalam bentuk buku teks namun juga googling. Jadi kalau ada waktu iseng dan kebetulan gak bawa buku, saya mulai deh browsing melalui HP. Apa saja sekarang bisa dicari melalu mbah goggle. Istilah asing yang saya mulanya gak ngerti, cukup diketikkan sebagai kata kunci dan….Walah keluar deh berbagai informasi.
Pekerjaan saya yang berhubungan dengan tulis menulis ilmiah juga mengharuskan membaca banyak buku. Itulah mengapa saya sebenarnya senang dengan pekerjaan tersebut. Terkecuali stress saat harus menghadapi karakter si klien yang terkadang tidak menghargai proses, saya sebenarnya sangat menikmati pekerjaan tersebut. Membuat saya mengenal berbagai ilmu (jadi tidak hanya terpatok pada sekolah formal) dan terutama mengharuskan untuk banyak membaca.

 Saking senengnya membaca, dlu waktu jaman susah bercita-cita untuk membuat perpustakaan keluarga. (sssttt…..sekrang sih sebenarnya masih jaman susah. Cuma sudah agak beranjak sedikiiiiiitttt. Alhamdulillah. Minimal untuk membelikan susu popok anak-anak sudah tidak khawatir)  Sekarang koleksi buku tersebut sudah ada 6 rak. Itu juga belum yang hilang atau tersimpan dalam boks. Nantinya buku itu untuk mendampingi anak-anak saya untuk tumbuh kembang sekaligus investasi bagi mereka.
Kalau melihat riwayat ketika masa kecil, saya bisa membaca itu termasuk terhitung yang telat…baru bisa membaca ketika sudah memasuki kelas 2 SD. Setelah dewasa dan mulai mencari tahu sendiri, ternyata saya mempunyai disleksia ringan..ya agak kesulitan untuk mengeja. Sampai sekarang, saya kesulitan untuk membedakan dan berkata kanan-kiri, ubi jalar-singkong, Maradonna dan Madonna, India dan Indian, Italia-Spanyol. Bukan berarti gak tahu lo…saya tahu itu tapi kalau pas ngomong kok keluarnya lain ya. 
Nah dari bisa membaca itulah, saya jadi kaya orang kecanduan. Segala macam di baca. Bahkan waktu kelas empat SD, saya sudah membaca catatan pinggir-nya Goenawan Moehamad dan Garis-Garis Besar Sejarah Amerika. Bukan karena saya anak pintar lo…tapi karena di rumah kurang mencukupi kebutuhan untuk membaca.Ckkk… Jadi apa adanya ya saya baca. Ha...ha kasian ya. Buku untuk anak dulu khan sangat terbatas, tidak seperti sekrang. Saya sangat bersyukur untuk tumbuh kembang anak sekarang sudah berbeda. Tema bukunya bagus-bagus. Selain itu juga ada buku bantal, buku sentuh, buku lipat, dan bahkan buku bisa membaca sendiri. Tinggal sentuh. Belajar dari itu, selain menumbuhkan minat anak-anak saya untuk membaca, ya disediakan berbagai bacaan di rumah sesuai dengan tahapan perkembangan. Seimbang...

Hobi saya yang kedua adalah kuliner. Ketahuan khan dari perubahan bentuk tubuh. Ha..ha…ha….Tidak hanya mencicipi masakan khas di suatu daerah namun saya juga senang memasak.
Bagi saya, memasak itu bukan hanya karena kewajiban sebagai seorang ibu rumah tangga. Tapi juga sebuah kesenangan. Mencoba resep baru dan kemudian diterima dengan baikoleh si korban percobaan saya (ya itu, pakne). Di keluarga besar, bahkan para pakdhe-pakdhe pun mahir masak. Kalo Pakdhe Tris jagonya bikin seafood, Pakdhe Mono (alm) sukanya bikin kaldu ayam kampung yang mak nyuss…Mereka gak mandang tuh kalau masak cuma porsinya perempuan. Mereka masak ya karena suka. Kalau suami saya sih sudah pernah mencoba dan hasilnya, hiks... Ceritanya si ayah masak sayur asem kok rasanya mirip kolak….(maaf ya Yah)
Kegiatan memasak itu juga gak hanya sekedar memasukkan bahan tapi juga membutuhkan mood yang baik. Membutuhkan pula upaya untuk mempelajari karakter orang yang akan memakan masakan kita sehingga nantinya mereka dapat menerima dengan baik. 
Untuk urusan di rumah jelas jadi pelanggan utama masakan saya adalah anak-anak. Namanya juga anak-anak seringnya maunya beda-beda…jadi saya harus menyesuaiakan dengan kondisi tubuh dan maunya mereka. Kalau lagi sakit, saya kemudian membuatkan makanan yang sekiranya Denia dan Qila mau memakan namun juga membuat tubuh mereka cepat sembuh. Pintar-pintarnya saya yang memasak bu..dikreasi. Alhamdulillah, Denia dan Qila sangat senang kalau saya masakkan meskipun sedang sakit.
Demikian pula kalau ada tamu yang berkunjung, saya akan memperkirakan kira-kira mereka maunya makan apa ya…cuacanya gimana ya…Kalaupun saya gak masak sendiri dan mengajak mereka makan di luar pun, hal yang sama dilakukan. Menebak karakter dan kemudian memperkirakan gimana ya kondisi saat itu.
Bukan sok nge-chef atau perfeksionis. Cuma bagi saya, mendatangkan suatu kebahagiaan kalau masakan tersebut dapat memberikan kebahagiaan tidak hanya rasa kenyang.

Hobi yang ketiga adalah nonton film..pernah lo saking saya gila nonton film, sehari langsung nonton dua kali. Pulangnya langsung tepar…
Hobi saya ini ternyata sama dengan suami. Jadi selain membaca buku, kami sangat senang untuk menonton film. Semua film kami suka  tapi untuk pilihan tema film tetep beda. Suami saya sangat tidak suka nonton film horror atau ada adegan yang mengejutkan. Katanya mending beneran lewat kuburan daripada nonton film horror. Seramnya di kenyataan tidak sehebat kalau nonton horror. Jadinya saya juga hampir gak pernah nonton film horror. Suami saya sih lebih suka nonton film komedi (terutama Stephen Chow. Forever…ketularan Kang Antok). Kalau saya sukanya film yang ada muatan sejarah.
Sama halnya dengan membaca buku, saya gak pernah membatasi dan mengatakan bahwa film hanya untuk kesenangan. Sebenarnya ilmu atau manfaat apapun bisa diambil bahkan dalam bentuk berbagai film atau buku. Dari film, saya kemudian tahu bagaimana kondisi masyarakat Afghanistan ketika mas kawin menjadi barang sangat mahal berimbas pada tingkat kejahatan seksual anak-anak laki di bawah umur (film Kite Runner). Ada sastrawan yang memulai teater sebagai penggambaran kehidupan baik dari latar, tema maupun konflik yang dibangun di wilayah Spanyol (film Lope). Jadi tahu bagaimana berdebat seharusnya dilakukan (the Great Debaters). Atau hanya sekedar tertawa melihat Stephen Chow dan Ng Ma berbuat konyol.
Jadi sebenarnya sedih juga sekarang gak ada film impor yang branded (film Holywood)..he..he. tapi di kondisi ini saya juga melihat ternyata ada film yang justru gak branded tapi bagus. Sekarang saya jadi mulai melirik film Spanyol, Swedia (The Girl with Dragon Tatoo series) dan Perancis. Ternyata malah lebih bagus dari film branded. Untuk film Indonesia, saya suka film Merantau dan Sang Pencerah. Untuk Sang Pencerah, kami sudah nonton 5 kali tapi masih saja nangis saat adegan langgarnya Kyai Dahlan di rubuhkan. Iya kami menangin karena ternyata cerita di film tersebut sesuai dengan keadaan kami saat ini. Untuk beristiqomah itu sangat berat. Demikian pula untuk menjaga hati supaya tidak sombong dll...Di film Sang Pencerah, dikisahkan bagaimana Kya melewati perjuangannya yang sangat berat, sedangkan kami baru sepersekian dari perjuangan itu


Itulah tiga hobi saya saat ini. Iya untuk saat ini…karena sebenarnya ada hobi saya yang lain travelling. Tapi untuk yang saat ini terpaksa dipendam dulu. Nanti kalau anak-anak sudah bisa diajak, kami (saya dan suami) akan melanjutkan berpetualang. Itulah salah satu kesamaan hobi antara suami dan saya. Dulu kami sama-sama suka berpetualang. Naik ke puncak Gunung Merbabu dan menjelajah kawasan lereng gunung Merbabu dari wilayah Boyolali sampai Temanggung tembus ke Kopeng (Salatiga). 


Jadi kalau anda tanyakan hobi apakah yang sedang di sukai dalam sekian tahun ke depan, ya itu bisa saja berubah. Ya itu, saya orangnya suka coba-coba...he...he

Selasa, 24 Mei 2011

MIRIP SIAPA YA….

Bagi  orang tua yang pernah atau saat ini memiliki anak dengan usia antara 3-7 tahun mungkin akan menyadari banyak tingkah anak-anak yang dimulai dengan meniru. Kita sering tertawa-tawa melihat bagaimana si anak ini dapat menirukan dengan baik tingkah laku orang yang ada di sekitarnya. Atau justru terkaget-kaget keheranan sambil berkata “Waduh kok yang itu ditiru juga”.

Nah cerita sama terjadi di rumah kami. Seiring dengan tumbuh kembangnya, dua anak saya menjadi pengcopi tingkah laku orang di sekitarnya dengan baik. Bahkan untuk si adik, Qila juga sudah sudah menirukan tingkah laku kami.  Tentu saja mereka menirukan kebiasaan-kebiasaan kami dengan cara sendiri.
Jadi suatu saat Denia diminta si Ayah untuk mandi dan segera melepas bajunya sendiri. Saya sendiri waktu itu sedang menyiapkan adiknya. Setelah sekian lama, Denia tetap aja gulang-guling di atas tempat tidur. Melihat Si Denia gak segera bangun maka si Ayah mendatangi sambil berkata: “Mbak Denia, ayuh to Nak. Ini dah siang lo. Dari tadi sudah dibangunkan kok masih gulang-gulung aja.”  Mau tahu jawabannya Denia: “ Yah..yah wong gak mau bangun kok dipaksain to yah..yah”. Lah kok begitu yang jawab…kami langsung shock dengernya. Nih anak niru dari siapa ya….Akhirnya setelah sekian lama kami menyadari bahwa ternyata Denia ini meniru kebiasaan saya saat sedang gak enak badan atau gak nafsu makan. Saya sering mengalami gangguan pencernaan jadi tidak bernafsu makan tapi karena si Ayah model yang berpedoman obat terbaik adalah makan, meskipun sait tetep saja dipaksa untuk makan. Saya menolak dengan ucapan yang sama ketika Denia tadi menolak untuk mandi. Waduh…nih anak makin pinter…bisa aja yang niru.

Saat yang lain pernah lo kami sampai ditegur oleh gurunya Denia. Waktu itu Denia sedang maen di rumah si ibu guru tersebut.  Guru Denia  yang satu ini memang deket dengan keluarga kami. Bahkan sudah dianggap seperti mbah putri. Jadi beliau sendiri tanpa sungkan-sungkan sering menanyakan mengenai perkembangan dua putri kami sekaligus memberikan saran.  Saat maen di rumah gurunya ini, Denia ceritanya diminta (lagi) untuk mandi. Saat itu Denia langsung menjawab; “Astagfirullah.” Tapi dengan ekpresi menaik gitu. Sekali lagi kasus diusut dan ternyata muncul dari kebiasaan yang tanpa sadar kami lakukan. He…he astagfirullah khan doa untuk meminta ampunan. Seperti doa lainnya khan seharusnya di ucapkan dengan kerendahan hati sebagai umat. Namun karena kami sering mengucapkan bersamaan dengan waktu emosi mulai meninggi. Jadi suara kami ikut meninggi satu oktaf. Aduh…aduh malunya kami. Maaf ya Nak…ayah dan mbu masih perlu belajar lebih keras lagi supaya menjadi contoh yang baik.

Dik Qila juga sudah mulai menunjukkan perilaku meniru yang sama namun lebih banyak mulai terarah. Mungkin karena kami sudah menemukan pola yang lebih baik daripada saat mengasuh Denia. He..he nasibnya Mbak Denia jadi anak pertama masih jadi korban percobaan. Dik Qila  mulai menirukan kebiasaan saya ketika menyiapkan diri ketika akan bepergian bersama. Iya Dik Qila mencari sendiri kain gendongan, botol susu dan merangkak ke depan rumah sambil menyeret tas (dik Qila sekarang belum bisa jalan baru bisa merangkak). Menirukan menggunakan sandal atau sepatu yang meskipun kebesaran tetap saja dipakai sambil diseret-seret.

Sebenarnya, sifat meniru dalam tumbuh kembangnya anak telah kami sadari. oleh karenanya terkadang kami dengan sengaja memberikan contoh, misalkan untuk menunjukkan ekspresi kasih sayang dengan mengelus kepala dan mencium pipi. Atau saat kami menunjukkan sopan-santun ketika menerima tamu.

Dari kejadian-kejadian itu kami sadar harus lebih banyak lagi mengkontrol perilaku supaya si anak mendapatkan contoh yang baik. Kami juga harus menyadari bahwa perubahan perilaku tersebut dilakukan karena memang harus dirubah (tidak baik dilakukan). Supaya tidak hanya  terkesan jaim tapi memang saatnya kami harus berubah dan dapat menjaga niat secara konsisten. Ya itu…gak mau jadi orang tua yang bisanya melarang ini itu tapi sendirinya gak mampu merubah. Biar bisa menjadi contoh…amien.


Tapi ternyata masih ada residu perilaku kurang baik yang tersampaikan. 

Minggu, 22 Mei 2011

BERDEBAT ITU ADALAH SENI BERADU LOGIKA

Minggu lalu, ayahnya anak-anak tanpa sengaja meminjam film The Great Debaters. Gak sengaja karena salah pesan film. Ternyata dari ketidaksengajaan nonton film ini kita (saya dan ayahnya anak-anak) mendapatkan beberapa pengetahuan baru. Pesan filmnya bagus, bercerita mengenai bagaimana debat itu seharusnya dilakukan. Di latar belakangi perjuangan gerakan kulit hitam di Amerika pada periode tahun 1935-an. Kalau untuk saya sih, filmnya agak berat. Jenis film yang tidak membuat tersenyum di akhir film namun berkerut dahinya. Pokoknya sepanjang nonton film, kita banyak menggeleng-gelengkan kepala (karena keheranan). Kok bisa ya….
Sebenarnya seluruh pesan dalam film tersebut bagus namun saya lebih mengagumi bagaimana  Film The Great Debaters tersebut menuturkan cara seharusnya berdebat. Berbeda sekali dengan cara debat yang ditayangkan di salah satu televisi swasta saat ini atau ketika waktu kampanye dulu. Dalam film ini menguraikan bahwa debat merupakan salah cara tepat untuk mempresentasikan jembatan logika (bahasane Lik Antok). Menghubungkan antara satu pemikiran dengan pemikiran lain dan kemudian dengan tepat diterapkan untuk menganalisa satu kasus. Kalau kasusnya berbeda maka juga membutuhkan jembatan pemikiran yang berbeda. Nah inilah menjadi titik penting menjadi seorang debaters….bagaimana mensesuaikan jembatan berpikir untuk menganalisa satu kasus dengan kasus lainnya. Untuk menerapkan ketepatan logika itu ternyata seorang debaters tidak cukup hanya menguasai satu ilmu saja. Dalam film ini mereka harus berbagai ilmu supaya dapat memandang suatu kasus dari berbagai sisi.  Selain itu mereka juga dapat menganalisa berdasarkan fakta, bukannya pendapat pribadi atau intuitif saja.
Nah di sinilah letak seni dari berdebat. Cara mereka untuk menyusun logika demi membuat argument dengan tepat. Menjadi seni karena argument-argumen tersebut disampaikan dengan indah. Tidak membuat orang merasa terhakimi namun untuk merenung bersma. Kondisi apa yang sedang mereka hadapi. Kemudian mencoba membuat solusi bersama.
Jadi salut banget ketika mereka (tim The Great Debaters) mampu menganalisis fenomena maraknya pekerja anak dengan kenyataan bahwa kondisi social ekonomi masyarakat Amerika yang terpuruk setelah masa Great Depression. Negara juga membutuhkan lebih banyak tenga kerja saat industri mulai mengalami pemulihan Di sisi lain juga  mempertimbangkan hak anak-anak adalah bermain serta tumbuh kembang. Adegan itu menunjukkan tim Great Debaters menganalisis dari ilmu sosiologi, psikologi anak, sekaligus ekonomi 
Selain itu para debaters juga harus memiliki karakter kuat dalam kepercayaan diri dan mampu menghargai orang lain. Kepercayaan diri penting untuk menguasai diri di depan khalayak umum. Demikian pula karakter menghargai orang lain. Ketika saatnya memang analisa yang diberikan tidak mampu memberikan suatu hasil akhir memuaskan maka pihak tersebut dengan “lapang dada” menerima logika lawan sebagai yang logika terbaik. Artinya tidak selalu debat adalah bertahan namun ada juga saatnya harus menerima. Mereka tidak memandang siapa yang menyampaikan namun memfokuskan pada apa yang sedang di sampaikan. Jadi ceritanya saking grup the Great Debaters tersebut mampu menyampaikan argumen yang bagus....para penonton kulit putih memberikan apresiasi tak kalah meriah dibandingkan dari tim kulit putih sendiri. Padahal kondisi rasis di masyarakat Amerika saat itu sangat kuat jadi kecil kemungkinan kaum kulit putih memberikan apreasiasi demikian hebat
Nah inilah salah satu perbedaan paling menonjol dari debat yang ada di Indonesia. Beda khan di Indonesia, masih banyak kata “pokok men”. Apalagi pakai acara adu lempar perlengkapan gedung. He..he..itu adu debat apa cabang olahraga lempar cakram ya…
Lewat film tersebut saya kemudian jadi memahami mengapa debat dapat dijadikan titik ukur dalam pemilihan pemimpin. Debat menjadi acuan dalam menilai penguasaan pengetahuan ilmu calon pemimpin. Klo si calon pemimpin ini makin mampu menganalisa dari berbagai sisi dan kemudian memberikan analisa yang tepat pada suatu kasus maka kita dapat menilai bahwa beliau merupakan seseorang yang memiliki kekayaan ilmu. Demikian pula dengan melihat karakter kepercayaan diri dan kemampuan bernegoisasi. Hal ini penting untuk menjalin kerjasama. Namanya juga pemimpin khan harus mampu membangun kerjasama baik dengan tim yang dipimpin. Bener-bener baru tahu….makanya kenapa di Amerika atau di negara-negara maju memasukkan debat dalam salah satu acara wajib kampanye pemilihan pemimpin dalam tingkatan apapun. Dari tingkat senator sampai tingkatan pemimpin negara. Demikian pula saat mereka melakukan sosialiasi program. Gak cuma slogan “jadi pilihlah aku”..tapi berganti menjadi “mengapa memilih aku”.
Gara-gara salah film ternyata membawa pengetahuan baru ya.

MENGAPA KITA (HARUS) MENGHARGAI KREATIFITAS ORANG ??

Tahukah anda bahwa keharusan kita untuk menghargai kreatifitas orang bukan saja karena kewajiban namun juga karena manfaat bagi diri sendiri. Iya…jadi kata harus pada kalimat diatas dibangun bukan hanya pada kewajiban namun manfaat yang diperoleh.
Seseorang yang sangggup untuk menghargai kreatifitas orang akan memunculkan input baru dalam perkembangannya. Mereka akan belajar menemukan pola-pola bagaimana orang si empunya kreatifitas dalam melewati suatu permasalahan, kemudian menemukan bagaimana mereka bisa menemukan suatu solusi dan keberanian untuk memulai. Kita juga akan belajar bagaimana menjaga kekukuhan hati untuk melewati semua kesulitan dan hambatan. Proses seperti ini disebut juga sebagai upaya untuk belajar dari pengalaman orang lain. Dengan demikian manfaat yang diperoleh akan sebaik ketika mendapatkan manfaat dari menjalani sendiri.
Sama saja ketika membaca biografi orang-orang yang terkenal. Orang-orang yang telah mendapatkan pengakuan dari lebih banyak orang. Hanya saja kreatifitas tersebut terkadang muncul dari orang-orang di sekitar anda. Orang-orang yang mungkin tidak anda kira mampu berbuat demikian  Dalam kasus seperti ini maka anda berupaya untuk menghargai sebuah kreatifitas tanpa melihat sosoknya namun melulu hanya pada prosesnya saja.
Tentu saja untuk mendapatkan input dari proses menghargai disertai dengan sifat- seperti mengakui dalam menerima kekurangan, kelemahan, kelebihan dan kekuatan diri. Dengan demikian kita akan mengadaptasi kreativitas dengan diri sendiri. Harus juga diiringi dengan sikap mau mengakui keunggulan si empunya kreatifitas. He..he kalau yang ini sulit ya dilakukan. Untuk mengakui kelemahan diri sendiri saja sulit apalagi harus mengakui keunggulan dalam kreatifitas orang lain.
Sebaliknya, Bagaimana kalau prosesnya berhenti pada kalimat “Ah..kalau begitu saja saya bisa”. Orang-orang yang berkata demikian justru akan berhenti pada kata “kalau bisa”. He..he kenyataannya ya gak bisa, kalaupun bisa karena melihat orang lian yang telah melakukan dulu bukan dari iniasitif sendiri.
Kemudian muncul pertanyaan apakah proses menghargai kreatifitas di atas termasuk dalam menjiplak. Jawabannya tentu saja berbeda. Menjiplak adalah melihat pada hasil akhir sedangkan mendapatkan manfaat dari menghargai pada prosesnya. Jangan lupa yang dimaksud dengan menghargai kreatifitas melibatkan proses mengadaptasi dengan kondisi diri sendiri. Jadi muncullah kreatifitas dalam bentuk baru. Original milik kita. 

BERBAHAGIA UNTUK HARI KEMARIN, HARI INI DAN MENDATANG

Salah satu pertanyaan abadi dalam kehidupan manusia adalah: Apakah anda berbahagia? Jawabannya tentu bagi masing-masing orang sangat berbeda. Bahkan apabila anda tanyakan dengan orang yang sama namun seiring dengan waktu berlalu tentu akan menghasilkan jawaban yang berbeda pula.
Dalam ilmu psikologi sendiri, kebahagiaan sering dikaitkan dengan happiness (Diener, 2000 dan Myers, 2000). Mereka menyatakan bahwa kebahagiaan adalah evaluasi manusia secara kognitif dan afektif terhadap kehidupan mereka. Dengan demikian ada dua komponen  kebahagiaan dalam ilmu psikologi yaitu komponen kognitif sering disebut dengan kepuasan hidup dan komponen afektif sering dikaitkan dengan emosi. Artinya orang yang mampu memuaskan berbagai kebutuhan  akan cenderung memiliki emosi yang positif (emosi yang mengarah kebahagiaan, kesenangan dan lain-lain). Dengan singkat bahwa kebahagiaan itu dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan atau yang disebut dengan harapan.  
Sedangkan dalam teori Maslow menyebutkan bahwa manusia memiliki tingkatan kebutuhan. Dimana tingkat kebutuhan tersebut dibagi dalam lima tingkatan yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan social, penghargaan dan aktualisasi diri. Di dalam teori tersebut juga menyebutkan bahwa seorang manusia akan bergerak untuk memenuhi tingkat kebutuhan yang berada pada tingkatan di atasnya apabila sudah memenuhi tingkatan di bawahnya. Ketika orang tersebut belum memenuhi kebutuhan maka muncullah konsep harapan yang menggerakan mereka untuk bergerak ke tingkatan di atasnya. Demikian gerakan tersebut mendorong mereka ke atas dan terus ke atas.
Nah …kenyataannya dalam kehidupan manusia tidak memiliki tingkat tanggapan yang sama terhadap tingkat kepuasan kebutuhan. Satu orang akan puas apabila sudah memiliki rumah, mobil, atau sejumlah perhiasan. Satu orang yang lain akan memiliki kepuasan cukup berbahagia dengan aktualisasi diri di tengah masyarakat sedang yang lain cukup bahagia ketika mengabdikan diri. Kita tidak bisa mengatakan bahwa: “Kamu akan bahagia dengan jalan yang aku tempuh. Lihat sekarang aku sudah mampu memiliki ini dan itu”. Di sisi lain orang tersebut akan mengatakan: “ Bagaimana mungkin aku bahagia, sedangkan bukan itu yang aku harapkan. Bukan itu pula jalan yang aku harapkan dapat memenuhi semua keinginanku.” Hal inilah yang nantinya mengarahkan jawaban mengenai kebahagiaan menjadi sangat subjektif karenanya kenyataannya kebutuhan satu orang dengan yang lain sangat berbeda.
(Hiks maaf ya kalau ternyata bagian tulisan ini tidak membuat bahagia….yang nulis aja pusing @_@)
Artinya apabila anda mengkonsepkan kebahagiaan dengan tingkat pemenuhan kebutuhan hidup maka tidak akan ada pernah kata cukup. Selalu saja manusia akan bergerak sampai dalam tingkatan kualitas (tingkatan kebutuhan yang berada di atasnya) dan secara kuantitas (jumlah kebutuhan). Akhirnya kita selalu dipusingkan dengan keinginan yang beraneka macam. Justru tidak akan pernah meraih apa yang disebut dengan emosi positif (kebahagiaan).
Demikian pula  saat melirik dan mulai membandingkan ke tetangga sebelah, teman atau ke rekan kerja terdekat. Lihat temen bikin status di FB punya barang apa atau baru pergi kemana bilangnya pamer. Tapi kalau kita baru punya barang apa, pengennya langsung up date status. Sama saja ketika merasa "paling" ketika melaksanakan atau mengerjakan sesuatu. Padahal OK-nya justru karena paling sesuai dengan kondisi kita. Pilihan terhadap bagaimana melaksanakan atau mengerjakan sesuatu dalam kehidupan tersebut belum tentu sesuai untuk kondisi yang berbeda. Dengan begitu tidak mungkin dapat menilai kebahagiaan berdasarkan kebahagiaan orang lain. Lagi pula terkadang kita lupa, ada unsur bahwa orang cenderung membanggakan apa yang mereka punyai. Bukan pada proses yang harus dilewati.
Sama halnya dengan ketika mempertanyakan pilihan dalam kehidupan. Saya ambil contoh saja bagaimana seorang ibu bekerja kemudian sering mempertanyakan bagaimana seandainya dirinya menjadi ibu rumah tangga.  Akhirnya dirinya tidak terfokus untuk mengerjakan apa yang sebaiknya namun justru menghabiskan energi untuk berandai-andai. Dalam kondisi apapun, pilihan adalah mutlak hasil pemikiran diri sendiri. Pilihan mungkin muncul dalam kondisi yang tidak diinginkan namun bagaimana memilih bukankah muncul karena keinginan kita. Direfleksikan dari pengalaman, kemudian dari berbagai kemungkinan; diambil yang terbaik. terus mengapa kita meragukan akan pilihan sendiri. 
Di sisi lain, sebenarnya kita dapat membuat diri bahagia dengan memulai dengan emosi positif baru kemudian bergerak untuk memenuhi kebutuhan. Artinya konsep tersebut akan melawan arah dari kedua teori diatas. Dalam teori di atas emosi positif terbentuk setelah berhasil memenuhi kebutuhan sedangkan dalam konsep terakhir memulai dengan kebahagiaan baru kemudian memenuhi kebutuhan. Bukankah kita sendiri yang dapat mengontrol bagaimana membentuk emosi positif….
Emosi positif justru membuat mampu meraih lebih banyak keinginan. Digerakkan oleh suatu kesenangan maka kemampuan dapat teroptimimalisasi. Berbagai kesulitan dapat terlewatkan sembari berkata “ah itu khan hanya hambatan kecil”. Digerakkan dengan motivasi maka kita dapat menjangkau sesuatu yang sepertinya tak teraih. Tanpa terpatok pada hierarki tingkatan kebutuhan, bisa kok memenuhi kebutuhan makan minum dengan aktualisasi diri. Tanpa membandingkan dengan orang lain, kita dapat berkata: “Ini cukup untuk aku…karena ini yang paling sesuai untukku.” Dalam kondisi begini ternyata butuh lebih banyak: “sometimes, cuek is the best”.
Kalau saya, tentu akan sangat bahagia sekali bila menikmati sarapan dengan secangkir teh panas di pagi hari (mengingat rush hour pagi: mulai menyiapkan anak-anak dan memilih pekerjaan yang akan di bawa ke kantor. Jadinya suka bikin teh tapi pas minum sudah dingin. He..he kelupaan). Kemudian di siang hari menyelesaikan pekerjaan dan datang bimbingan mengatakan:”Terima kasih ya mbak, akhirnya saya bisa memahami tulisannya”. Di sore hari maen dengan anak-anak dan bapaknya anak. Malam hari menjelang tidur di ngobrol bareng ayah, mengevaluasi  hari ini dan merencanakan target mendatang.  Ditutup, tidur dengan perasaan “besok pasti jadi hari yang lebih baik”.
Bukan berarti saya tidak memiliki harapan atau keinginan. Pengen beli ini atau pengen punya itu…tapi tidak saya posisikan menjadi suatu beban namun tujuan. Kalau saya dapat melewatkan kegiatan terbaik maka sisanya harus diserahkan pada Allah. Dia pasti tahu kok apa yang terbaik untuk saya…..Itu saya pahami bukan berarti tidak melewati proses untuk memahaminya sangat berat. Ternyata dengan berbaik sangka pada Allah, saya lebih banyak menyadari bahwa lebih banyak yang di dapatkan  dari apa yang diinginkan. Allah memberikan dengan tepat apa kebutuhan saya. Memberikan kekuatan untuk berkata tidak di saat seharusnya berkata tidak dan memberikan kekuatan untuk diam jika memang saatnya tidak mendatangkan manfaat bagi saya. Memberikan scenario besar yang di akhirnya baru dipahami sebagai ini memang benar-benar sesuai.
Pada akhirnya, saya berharap kita semua dapat berbahagia setiap hari. Bukan hanya karena dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan namun padaj proses yang mampu dilewati. Melewati hierarki kebutuhan dengan selalu mengabdikan diri pada kebermanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain. Mampu membentuk emosi positif bahkan di saat terburuk. Mampu melihat kebahagiaan di setiap tahapan hidup baik untuk  masa lalu karena hikmah yang dapat diambil, masa kini karena anugerah dapat menjalani pilihan dan masa depan untuk impian yang lebih baik.

Sabtu, 14 Mei 2011

APAKAH BAGI ANAK BELAJAR ≠ BERMAIN

Pertama-tama mari kita coba mengingat bersama pengalaman dengan kata “belajar” waktu kecil dulu. Bagaimana kita mesti dipaksa oleh orangtua kita ketika waktu untuk belajar. Klo gak kabur, menangis, merengek atau malah pura-pura sakit perut!!  
Saya sendiri pernah sampai bermimpi masuk ujian yang ternyata sudah dilakukan. Sampai saya protes…saya khan sudah ujian kelulusan kok ujian lagi. Kenapa saya balik lagi. Tidaaaaakkkkk….(serasa kaya bintang sinetron)
Ternyata tidak nyaman ya…
Sebaliknya bagaimana kalau belajar itu menyenangkan. Dilakukan sambil bermain.
Seandainya kalau kita bisa memasukkan konsep mengenal angka dengan menempel, menggunting dan mewarnai. Mengenalkan konsep menambah dan mengurangi dengan menggunakan permainan congklak alias dakon (itu lo mainan yang ada lubang-lubangnya berjejer tapi diujung kanan dan kiri ada lubang yang lebih besar. Kemudian biji permainan diambil dan dibagikan rata di setiap lubang). Bukankah matematika tidak hanya berupa rumus namun suatu ilmu yang membantu kita untuk berhitung di kegiatan sehari-hari.
Atau daripada anak harus mengingat tanggal-tanggal dalam mata pelajaran sejarah, digantikan dengan buku cerita mengenai sosok pahlawan/peristiwa tertentu, dan menonton film berdasarkan sejarah. Bukankah inti dari pelajaran sejarah adalah mengingat ada apa yang terjadi masa lampau dan kemudian mengambil nilai penting yang harus diteladani.
Efeknya ternyata sangat berbeda.. Itulah mengapa pentingnya muncul konsep bermain adalah belajar. Menggabungkan konsep bermain dan belajar ternyata membuat anak lebih enjoy menikmati proses. Melalui bermain, proses bagi anak untuk berinteraksi dengan mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan (eksplorasi) yang digabungkan dengan pengalaman dan berujung pada proses refleksi berlangsung dalam suasana menyenangkan. Kemudian anak-anak dapat lebih mampu menggunakan kemampuan  imajinasi untuk membuat kesimpulan. Tidak ada pemaksaan.
Dalam kenyataan proses drill (memaksa belajar) juga hanya membuat anak menghafal. Akhirnya, ya itu mudah terformat ulang. Sekarang hapal, besok ditanya ya mbuh..
Selain itu, melalui permainan maka nilai-nilai dalam pembelajaran dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan proses belajar bagi anak berbeda dengan proses pembelajaran orang dewasa. Bagi anak-anak, memahami dan mengingat sesuatu yang mereka pelajari haruslah memiliki kebermaknaan dan berkaitan dengan pengalaman dan perkembangan anak. Jadi belajar harus merupakan hasil interaksi berpikir anak sendiri dan pengalaman menghadapi lingkungan. Bermain merupakan media untuk anak berinteraksi dengan pikiran mereka sekaligus dengan lingkungan. Dengan kata lain, bermain menjadi media praktek nilai belajar yang nyata dalam kehidupan mereka.
Diharapkan  proses bermain sambil belajar tidak hanya meningkatkan pemahaman bagi anak namun juga memunculkan motivasi keingintahuan lebih lanjut si anak. Jika pembelajaran akhirnya relevan dengan motivasi keingintahuan anak maka mereka akan mampu berkutat untuk belajar lebih lama. Enaknya kalau anak-anak gak usah dipaksa belajar…bahkan mereka nagih,”Yah..Bun ayo kapan kita mau gunting-gunting angka lagi”. Padahal….He..he mereka khan gak sadar klo kita sebenarnya mengenalkan angka.
Bagi orangtua, untuk memungkinkan anak bermain sambil belajar adalah dengan dengan memberikan peran memfasilitasi bukan sebagai pemberi intruksi. Dengan demikian orangtua harus mampu menciptakan suasana menyenangkan ketika memasukkan input belajar. Hal ini harus memperhatikan karakteristik anak. Misalkan pada anak dengan karakteristik visual maka kekuatan belajar anak pada indera ‘mata’, kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi satu media belajar menyenangkan harus disesuaikan dengan karakteristik sehingga tidak memberikan beban. Jadi inilah mengapa kita sebagai orangtua harus memahami karakteristik anak (artikel Istimewanya Seorang Anak). Setelah itu buatlah proses pembelajaran yang langsung dapat diamati anak. Kalau memungkinkan aplikasikan dalam kegiatan sehari-hari.
Jangan lupa, input anak hanya dalam proses memperkenalkan. Jadi jangan memaksa anak untuk memunculkan hasilnya seketika. Alias mekso anak cepet iso. Proses adalah waktu.
Sebenarnya peran kita dalam proses bermain sambil belajar tidak mudah. Bahkan kalau saya bilang, berat!! Kita sendiri juga harus melewati proses menyenangkan diri dulu baru kemudian memfasilitasi. Berkreatif ria menciptakan media menyenangkan yang sesuai dengan anak. Apalagi membagi waktu dalam keseharian kita baik bekerja dan kegiatan social kemasyarakatan. Bahkan tidak sedikit orangtua yang masih bersekolah kembali. Tapi percaya..,,rasanya menyenangkan sekali melihat input anak yang mungkin kita sudah lupakan, tiba-tiba muncul. Seperti saya pernah menyanyikan lagu atas-bawah, kanan-kiri ciptaan sendiri sambil berjoget (Diperingatkan. Jangan membayangkan bagaimana saya berjoget. Huekkk!!) setelah sekian lama…tiba-tiba ketika ditanya temennya, Denia yang waktu itu berumur 2,5 tahun sudah bisa lancar menunjuk sebuah barang yang letaknya di bagian kanan atas rak. Terharu…